Asmaul Husna Menjadi Pembeda Islam, Kristen, Yahudi Meski Sama-sama Menggunakan Nama Allah | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Demi Allah, bagaimana mungkin seorang buta huruf yang berada di lingkungan masyarakat buta huruf, 14 abad yang lalu, bisa menciptakan rangkaian Asmaul Husna yang seluruhnya indah, padahal belum ada kamus yang bisa dijadikan rujukan atau juga belum ada ensiklopedia di jazirah Arab yang bisa dijadikan referensi oleh Muhammad untuk menyusunnya!? Jadi mustahil bagi Muhammad untuk menciptakan semua Asmaul Husna dari logika dan imajinasinya sendiri. Jelas wahyu yang datang dari Dzat (eksistensi) lain di luar dirinya.
Kami berani menyampaikan challenge kepada siapapun dari para budayawan, ilmuwan dan cendekiawan dalam agama apapun selain Islam, dengan bahasa apapun untuk memeras otaknya kemudian mengungkapkan nama dan sifat Tuhan yang ada dalam pikirannya lebih dari hitungan jari-jari tangan, asal tidak mengambil dari Al-Qur`an atau literatur Islam. Kalau begitu Asmaul Husna adalah salah satu mu'jizat dari mu'jizat Al-Qur`an.
Mu'jizat lain dari mu'jizat Asmaul Husna adalah bahwa dia tidak menyebutkan nama Al-Abb (Bapak). Seluruh 99 nama ini memancarkan arti kasih sayang, keindahan, kekuasaan dan keesaan. Tidak kita dapatkan kata bapak (Abb) dalam daftar Asmaul Husna meskipun sebenarnya kata itu dekat dalam nalar bahasa dan bahkan sangat masyhur dalam kitab-kitab langit lainnya. Islam datang untuk membenarkan substansi kitab-kitab itu yang bersih dari kontaminasi tangan-tangan manusia, dan juga untuk menjauhkan kata itu (bapak) dari Asmaul Husna.
Orang-orang Nashraniyy selalu mengulang dan menyebut kata itu dalam do'a-do'a dan senandung mereka, misalnya, "Wahai Bapa kami yang ada di langit, sucilah namaMu, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu, sebagaimana di langit, di bumi ini" (Matius 9/6). Sebenarnya dalam senandung liturgi ini tidak terlihat adanya sesuatu yang bertentangan dengan hakikat Islam. Bahkan kita dengan kehalusan Islam menganggapnya sebagai kata-kata yang baik. Hanya saja kita tidak mendapatkannya termasuk dalam nama-nama dan sifat-sifat yang kita kenal yang bisa mendekatkan pengertian Allah dalam rasional kita. Bahkan kalau kita bolak-balik halaman kitab-kitab suci mereka; perjanjian lama dan baru, kita tidak mendapatkan nama Allah kecuali al-abb (Bapa) atau ar-rabb (Tuhan). Dari aspek Asmaul Husna inilah, Islam berbeda dengan agama Kristen dan Yahudiyy.
Perubahan arti kata Al-Abb (Bapa) dalam teologi Nashraniyy merupakan permulaan terjadinya penyelewengan yang akhirnya menimbulkan adanya doktrin bahwa Isa Al-Masih adalah anak Allah dan diutus untuk menebus dosa Adam. Padahal kalau kita baca injil mereka sendiri akan kita dapatkan bahwa di banyak tempat disebutkan kata bapak untuk makhluknya, yang berarti tanggung jawab, menjaga dan berlaku baik kepada makhluk. Injil menyatakan "Dia bapakmu." Al-Masih juga mengatakan, "Dia bapakku dan bapakmu." Di Injil juga disebutkan bapak Adam, Ya'qub, Sulaiman, Dawud dan lain lain. Juga dalam artian yang sama dinyatakan bahwa bapa untuk Al-Masih sebagaimana juga untuk yang lainnya, tidak terdapat di dalam Injil sesuatupun yang menunjukkan bahwa kebapakan Allah untuk Al-Masih berbeda dengan kebapakan-Nya untuk semua makhluk.
Jadi benar-benar telah terjadi pergeseran arti dan perubahan maksud dari kata al-abb sebagaimana terjadi pada beberapa kata lain dari arti aslinya, seiring dengan perubahan situasi dan tempat. Contohnya kata rafiq (kawan) yang berarti persaudaraan dan persahabatan. Kemudian dalam pergulatan politik digunakan untuk menyebut orang-orang komunis dan yang sealiran. Juga kata marih yang berarti kegembiraan dan muka yang manis. Kemudian berubah menjadi padanan kata gay dalam bahasa Inggris. Yaitu sebuah kata buruk; yang bila dinisbatkan pada orang laki-laki atau perempuan bisa berarti orang yang mempunyai kelainan seks.
Sungguh ini mu'jizat, dimana Al-Qur`an manjauhkan kata Al-Abb (bapak) dari Asmaul Husna, karena kata itu bisa mencemarkannya. Dengan demikian Al-Qur'an menjaga orang Islam dari ketergelinciran yang telah menimpa umat agama sebelumnya. Maka kita mesti teguh memegangi Asmaul Husna sebagai konsekuensi iman kita kepada Allah. Dengan memahami makna Asmaul Husna maka iman kita kepada Allah terstruktur dan shahih.


Post a Comment