Header Ads

Awas Keliru Memahami Asmaul Husna! | Syaikh Prof. Dr. Salim 'Alwan | 082140888638

082140888638 Souvenir Islami Murah Mewah


Mufti Australia Syaikh Prof. Dr. Salim ‘Alwan Al-Husainiyy menulis tentang Allah,

Jangan mengatakan bahwa Allah menciptakan kita menurut citra-Nya sendiri. Allah tidak disifati dengan rupa atau bentuk, dan Allah tidak menyerupai makhluq. Rupa dan bentuk adalah sifat makhluq, bukan sifat Allah. Meyakini adanya keserupaan antara Allah dan makhluq secara jelas bertentangan dengan Al-Qur`an. Dalam QS. Asy-Syūrā: 11, Allah secara tegas menafikan adanya keserupaan apa pun antara ciptaan dan Diri-Nya, sehingga tidak seorang pun boleh menisbatkan kepada Allah sifat-sifat manusia. Adapun Al-Muṣhawwir adalah salah satu Nama Allah, yang bermakna Dzat Yang Membentuk makhluq-makhluq-Nya dalam berbagai rupa dan bentuk. Namun demikian, kaum Nasrani dan Yahudi mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya sendiri.

Jangan pula mengatakan bahwa Allah selalu hadir bersama kita dan berada di dalam diri kita. Salah satu prinsip utama akidah Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah adalah bahwa Allah ada tanpa tempat, tanpa waktu, tanpa arah, dan tanpa jisim. Mullā ‘Alī Al-Qārī Al-Ḥanafīyy (wafat 1014 H) menyatakan bahwa siapa saja yang meyakini adanya arah bagi Allah maka ia bukan seorang Muslim, sebagaimana ditegaskan pula oleh Imam Al-‘Irāqīyy (wafat 826 H). Pernyataan ini merupakan pendapat Imam Abū Ḥanīfah (wafat 150 H), Imam Mālik (wafat 197 H), Imam asy-Syāfi‘ī (wafat 204 H), Imam Al-Asy‘arīyy (wafat 324 H), dan Imam Al-Bāqillānīyy (wafat 403 H), sebagaimana dinukil dalam Syarḥ Al-Mišykāt. Imam Al-Māturīdīyy (wafat 333 H) juga menegaskan bahwa ucapan yang menunjukkan Allah memiliki tempat termasuk perbuatan menyekutukan Allah. Allah memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh selain-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam Surah an-Naḥl ayat 60.

Jangan mengatakan bahwa qalbu seorang mukmin yang shalih menjadi tempat bersemayamnya Allah. Imam ‘Alīyy menekankan kewajiban menyucikan Allah dari kuantitas, tempat, dan duduk. Beliau menyatakan bahwa siapa saja yang mengklaim Tuhan disifati dengan ukuran atau kuantitas berarti ia telah bodoh terhadap Sang Pencipta yang berhak disembah. Imam Aḥmad bin Ḥanbal (164–241 H) menegaskan bahwa Allah Yang Mahatinggi bukanlah partikel dasar, bukan sifat benda, dan bukan pula benda itu sendiri. Makhluq tidak tinggal di dalam-Nya dan Dia tidak tinggal di dalam makhluq, serta Dia tidak berada di dalam sesuatu apa pun. Allah telah ada ketika belum ada tempat, kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap sebagaimana keadaan-Nya sebelum menciptakan tempat.

Jangan pula mengatakan bahwa Allah berada “di luar sana”. Imam Aḥmad Ar-Rifā’īyy menjelaskan bahwa puncak ma‘rifat kepada Allah yang telah dicapai oleh para hamba yang taat adalah keyakinan yang pasti bahwa Allah ada tanpa wujud inderawi, tanpa sifat-sifat makhluq, dan tanpa tempat, sebagaimana dinukil dalam Al-Burhān Al-Mu`ayyad.

Jangan menyebut Allah sebagai suatu gaya atau kekuatan tertinggi yang menciptakan alam semesta. Allah memiliki kekuasaan, tetapi Allah bukanlah kekuasaan itu sendiri. Al-Qur’an tidak menyatakan bahwa Allah adalah kekuatan, melainkan bahwa Allah memiliki kekuasaan, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Aḏz-Ḏzāriyāt: 58. Allah disifati dengan sifat-sifat, namun Dia bukanlah suatu sifat, seperti kekuasaan. Sifat mengikuti dzat yang disifati, sedangkan Allah tidak mungkin menjadi sifat bagi sesuatu. Hal ini mustahil. Selain itu, Allah disifati dengan kekuasaan, ilmu, kehendak, kehidupan, dan sifat-sifat lainnya yang seluruhnya merupakan sifat-sifat sempurna dan tidak menyerupai sifat-sifat makhluq. Seandainya Allah adalah suatu sifat seperti kekuatan atau daya, niscaya Dia tidak memiliki sifat-sifat lainnya, dan ini juga mustahil.

Jangan pula menyebut Allah sebagai “sumber”. Al-Khāliq adalah salah satu Nama Allah yang bermakna Sang Pencipta. Sang Pencipta mengadakan makhluq dari ketiadaan menuju keberadaan. Oleh karena itu, Sang Pencipta tidak disebut sebagai sumber. Matahari atau bulan dapat disebut sebagai sumber, tetapi istilah “sumber” bukan termasuk di antara Nama-Nama Allah yang Maha Sempurna.

Diterjemahkan dari: Laman Resmi Darul Fatwa Australia https://www.darulfatwa.org.au/en/the-attributes-of-allah-and-his-names/

Penerjemah: H. Brilly El-Rasheed, M.Pd.





Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.