Dalil Naqliyy dan 'Aqliyy Mengulang-ulang Memanggil-manggil Allah | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Semakin kita sering mengulang-ulang sesuatu, pikiran kita akan selalu mengingatnya. Semakin sering kita merepetisi Asmaul Husna, iman kita akan semakin mantap kepada Allah karena kesadaran kita terpenuhi dengan memori tentang-Nya. Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr menyatakan dalam korpus beliau yang berjudul Fiqih Asmaul Husna, “Berjalan menuju kepada Allah Ta’ala lewat nama dan sifat-Nya adalah perkara yang luar biasa. Orang yang melakukannya telah mendapatkan kebahagiaan, meski dia hanya berbaring di atas pembaringan, tanpa lelah dan letih. Jalan tersebut tidak memalingkannya dari negeri dan tempat tinggalnya. Dia senantiasa naik ke derajat yang lebih tinggi dan terus berjalan di jalan ini hingga tingkat yang paling tinggi. Jalan mengenal Allah ini dilakukan dengan memahami makna nama-nama Allah yang baik dan menanamkannya dalam qalbu hingga berpengaruh dampak dan konsekuensinya di qalbu dan dipenuhinya qalbu tersebut dengan ilmu yang sangat mulia.”
Orang-orang yang mengharamkan memanggil-manggil Allah tanpa dilanjutkan dengan permohonan selalu menggunakan logika, "Kenapa ente manggil-manggil? Terus kenapa manggil-manggil? Ga jelas!" Padahal hamba yang sangat ingat-sadar-paham Allah secara logika, "Allah lebih tahu apa yang saya butuhkan, tidak harus saya sebutkan permintaan saya."
Syaikh Muhammad 'Awadh Al-Manqusy menggulirkan monolog,
(بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: هَلِ الصَّحَابَةُ كَانُوا يَدْعُونَ بِأَسْمَاءِ اللَّهِ مُفْرَدَةً؟ الأَسْمَاءُ الْمُفْرَدَةُ مَوْجُودَةٌ فِي دُعَاءِ النَّبِيِّ ﷺ، وَمَوْجُودَةٌ فِي دُعَاءِ الصَّحَابَةِ، مِثْلَ الْمَوْقِفِ الَّذِي حَكَيْنَاهُ هُنَا لِسَيِّدِنَا الْعَلَاءِ، فَهُوَ صَحَابِيٌّ كَلَّفَهُ صَحَابِيٌّ، وَالصَّحَابَةُ مَعَهُ شُهُودٌ، وَهُمْ الَّذِينَ يَحْكُونَ لَنَا هَذَا الْمَوْقِفَ، فَلَوْ كَانَ هَذَا مُنْكَرًا أَوْ بِدْعَةً لَأَنْكَرُوهُ وَمَا سَكَتُوا، وَهَذَا مَا يُسَمَّى بِالْإِجْمَاعِ السُّكُوتِيِّ).
"Sebagian orang bertanya: apakah para sahabat dahulu berdoa dengan menyebut nama-nama Allah secara tunggal? Nama-nama tunggal tersebut memang terdapat dalam doa Nabi ﷺ dan juga terdapat dalam doa para shahabat, seperti peristiwa yang telah kami kisahkan tentang Sayyidina Al-‘Alā` bin Al-Hadhramiyy, yang mana beliau adalah seorang shahabat yang diberi amanah oleh shahabat lainnya, sementara para shahabat yang lain hadir sebagai saksi dan merekalah yang meriwayatkan peristiwa tersebut kepada kita; seandainya hal itu merupakan sesuatu yang mungkar atau bid‘ah, niscaya mereka akan mengingkarinya dan tidak akan berdiam diri, dan hal inilah yang dalam ilmu usul fiqih dikenal dengan istilah ijmā‘ sukūtīyy." [https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=1776520492378175&id=458209954209242&_rdr]


Post a Comment