Header Ads

Fadhilah Asmaul Husna Berdasarkan Pengalaman Para Ulama Klasik | Imam Al-Munawiyy | 082140888638

082140888638 Souvenir Islami Murah Mewah

Rasulullah bersabda,
 2368 - (إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مَنْ أَحْصَاهَا كُلَّهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ  أَسْأَلُ اللَّهَ الرَّحْمَنَ الرَّحِيمَ الْإِلَهَ الرَّبَّ الْمَلِكَ الْقُدُّوسَ السَّلَامَ الْمُؤْمِنَ الْمُهَيْمِنَ الْعَزِيزَ الْجَبَّارَ الْمُتَكَبِّرَ الْخَالِقَ الْبَارِئَ الْمُصَوِّرَ الْحَكِيمَ الْعَلِيمَ السَّمِيعَ الْبَصِيرَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ الْوَاسِعَ اللَّطِيفَ الْخَبِيرَ الْحَنَّانَ الْمَنَّانَ الْبَدِيعَ الْوَدُودَ الْغَفُورَ الشَّكُورَ الْمَجِيدَ الْمُبْدِئَ الْمُعِيدَ النُّورَ الْبَارِئَ الْأَوَّلَ الْآخِرَ الظَّاهِرَ الْبَاطِنَ الْعَفُوَّ الْغَفَّارَ الْوَهَّابَ الْفَرْدَ الْأَحَدَ الصَّمَدَ الْوَكِيلَ الْكَافِيَ الْبَاقِيَ الْحَمِيدَ الْمُقِيتَ الدَّائِمَ الْمُتَعَالِي ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ الْوَلِيَّ النَّصِيرَ الْحَقَّ الْمُبِينَ الْمُنِيبَ الْبَاعِثَ الْمُجِيبَ الْمُحْيِيَ الْمُمِيتَ الْجَمِيلَ الصَّادِقَ الْحَفِيظَ الْمُحِيطَ الْكَبِيرَ الْقَرِيبَ الرَّقِيبَ الْفَتَّاحَ التَّوَّابَ الْقَدِيمَ الْوِتْرَ الْفَاطِرَ الرَّزَّاقَ الْعَلَّامَ الْعَلِيَّ الْعَظِيمَ الْغَنِيَّ الْمَلِكَ الْمُقْتَدِرَ الْأَكْرَمَ الرَّءُوفَ الْمُدَبِّرَ الْمَالِكَ الْقَاهِرَ الْهَادِيَ الشَّاكِرَ الْكَرِيمَ الرَّفِيعَ الشَّهِيدَ الْوَاحِدَ ذَا الطَّوْلِ ذَا الْمَعَارِجِ ذَا الْفَضْلِ الْخَلَّاقَ الْكَفِيلَ الْجَلِيلَ) (كَ) أَبُو الشَّيْخِ فِي التَّفْسِيرِ ابْنُ مَرْدُوَيْهِ فِي التَّفْسِيرِ أَبُو نُعَيْمٍ فِي الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. (ض)

“Sesungguhnya bagi Allah ada sembilan puluh sembilan nama, barang siapa menghitungnya semuanya maka ia masuk Surga, aku memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Al-Ilah, Ar-Rabb, Maha Raja, Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Pemberi Keamanan, Maha Pemelihara, Maha Perkasa, Maha Memaksa, Maha Agung, Maha Pencipta, Maha Mengadakan dari ketiadaan, Maha Membentuk rupa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, Maha Luas, Maha Lembut, Maha Mengetahui secara mendalam, Maha Pengasih, Maha Pemberi Karunia, Maha Indah ciptaan-Nya, Maha Mencintai, Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, Maha Mulia, Maha Memulai, Maha Mengembalikan, Maha Cahaya, Maha Mengadakan, Maha Awal, Maha Akhir, Maha Tampak, Maha Tersembunyi, Maha Pemaaf, Maha Pengampun, Maha Pemberi Anugerah, Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Tempat Bergantung, Maha Wakil, Maha Mencukupi, Maha Kekal, Maha Terpuji, Maha Pemberi Kekuatan, Maha Abadi, Maha Tinggi, Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, Maha Pelindung, Maha Penolong, Maha Benar, Maha Menjelaskan, Maha Menerima Kembalinya Hamba Kepada-Nya, Maha Membangkitkan, Maha Mengabulkan, Maha Menghidupkan, Maha Mematikan, Maha Indah, Maha Benar, Maha Menjaga, Maha Meliputi, Maha Besar, Maha Dekat, Maha Mengawasi, Maha Pembuka, Maha Penerima Taubat, Maha Dahulu, Maha Ganjil (bukan genap), Maha Pencipta, Maha Sangat Pemberi Rizqi, Maha Maha Mengetahui, Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Kaya, Maha Raja, Maha Kuasa, Maha Mulia, Maha Penyantun, Maha Pengatur, Maha Pemilik, Maha Penakluk, Maha Pemberi Petunjuk, Maha Mensyukuri, Maha Mulia, Maha Tinggi Derajat-Nya, Maha Menyaksikan, Maha Satu, Pemilik Karunia, Pemilik Tangga-Tangga Ketinggian, Pemilik Keutamaan, Maha Sangat Pencipta, Maha Penjamin, Maha Agung,” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh dalam tafsirnya, Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya, dan Abu Nu‘aim dalam kitab Al-Asma’ Al-Husna, dari Abu Hurairah, dan dinilai dhaif.

Setelah menyebutkan hadits ini, Imam Al-Munawiyy menjelaskan, Makna sabda, “Sesungguhnya bagi Allah ada sembilan puluh sembilan nama,” dengan mendahulukan huruf ta atas sin pada lafazh keduanya, sebagian ulama berkata bahwa pengertian nama terkadang adalah Dzat itu sendiri dan hakikat-Nya, terkadang diambil dengan mempertimbangkan bagian-bagian, dan terkadang diambil dengan mempertimbangkan sifat-sifat, perbuatan-perbuatan, penafian-penafian, dan relasi-relasi, dan tidak tersembunyi bahwa memperbanyak nama-nama Allah Ta‘ala dengan pertimbangan ini adalah mungkin, sedangkan yang diambil dengan pertimbangan bagian adalah mustahil karena kesucian-Nya Subhanahu wa Ta‘ala dari susunan dan keterpaduan susunan elemen, adapun makna, “Barang siapa menghitungnya semuanya,” yakni dengan ilmu dan iman, atau dengan menghitungnya sampai menyempurnakannya sehingga tidak mencukupkan diri pada sebagian saja, melainkan memuji Allah Ta‘ala dan berdoa kepada-Nya dengan seluruhnya, atau dalam satu riwayat Ibnu Mardawaih sebagai ganti lafazh “barang siapa menghitungnya” dengan lafazh “barang siapa berdoa dengannya”, maka makna, “Ia masuk Surga,” adalah bersama orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama atau masuk tanpa adzab, adapun lafazh, “Aku memohon kepada Allah,” artinya aku meminta kepada Zat Yang Wajib Ada dengan Dzat-Nya sendiri, Tsa‘lab berkata bahwa lafazh ini adalah mufrad yang di dalamnya terdapat tauhid murni, dan kekhususannya adalah menambah keyakinan dalam dimudahkannya tujuan-tujuan terpuji pada Dzat, Sifat, dan Perbuatan. Para ulama berkata bahwa barang siapa memdawamkannya (merutinkan) setiap hari seribu kali dengan lafazh “Yā Allāh Yā Huwa”, Allah menganugerahinya kesempurnaan keyakinan, dan dalam kitab Al-Arba‘īn Al-Idrīsiyyah disebutkan lafazh “Yā Allāh Al-Maḥmūd fī kulli fi‘ālihi… (dan seterusnya)”, As-Suhrawardiyy berkata bahwa barang siapa membacanya pada hari Jumat sebelum salat dalam keadaan suci dan bersih, dengan batin yang kosong secara sirr (tidak lantang/jahr) sebanyak dua ratus kali, Allah memudahkan baginya apa yang dimintanya bagaimanapun keadaannya, dan apabila yang membacanya adalah seorang sakit yang para dokter tidak mampu mengobatinya, niscaya ia sembuh selama ajalnya belum tiba. [Faidh Al-Qadir]

Kemudian Imam Al-Munawiyy merinci satu persatu makna masing-masing Asmaul Husna, dipungkasi dengan keterangan, "Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa hal ini berbeda dengan susunan (Asmaul Husna riwayat) At-Tirmidziyy dari sisi urutan, penambahan, dan pengurangan, dan sesungguhnya ditinggalkannya huruf penghubung (kata sambung yaitu wawu yang artinya dan) di antara nama-nama ini dalam khabar ini dan pada khabar sebelumnya (yakni riwayat At-Tirmidziyy) adalah sebagai isyarat akan berdirinya masing-masing dari sifat-sifat kesempurnaan itu secara mandiri sesuai dengan maksud orang yang menyebutkannya, dan karena tidak satu pun dari sifat-sifat tersebut dapat mencakup seluruh makna nama zat yang bersifat ‘alam (nama khusus/proper name), dan terkadang sifat-sifat itu disebutkan dengan huruf penghubung karena adanya kesesuaian dan untuk menegaskan kebersamaan, dan terkadang disebutkan pada sebagian tempat dan ditinggalkan pada sebagian yang lain sebagai bentuk variasi ungkapan, karena hal itu mewajibkan terarahnya konsentrasi pikiran atau untuk menambah kesesuaian dan kesempurnaan keterkaitan. Kode huruf kaf artinya diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari hadits ‘Abdul-’Aziz bin Al-Hushain dari Abu Ayyub dan dari Hisyam bin Hassan, seluruhnya dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah. Diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaniyy dan Ibnu Marduwaih bersama-sama dalam kitab Tafsir Al-Qur`an (karangan beliau) dan diriwayatkan Abu Nu’aim Al-Hafizh dalam kitab Syarah Al-Asma` Al-Husna. Hadits ini bersumber dari Abu Hurairah. Al-Hakim bertutur, “‘Abdul-’Aziz tsiqah (kredibel) namun diroasting Ibnu Hajar, “Dia disepakati kedha’ifannya dan dilemahkan oleh Asy-Syaikhan (Al-Bukhariyy dan Muslim)." [Faidh Al-Qadir]

Penerjemah: H. Brilly Y. Will., S.Pd., M.Pd., C.Ed.


082140888638 Souvenir Asmaul Husna Full Colour






Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.