Haruskah Hafal Urutan Asmaul Husna? | Syaikh Dr. Ahmad Shabriyy | 082140888638
![]() |
| 082140888638 Jual Souvenir Islami Murah Mewah Asmaul Husna |
Syaikh Dr. Ahmad Shabriyy dalam sebuah postingan di akun Facebooknya menyuguhkan dialog,
هل من الضرورى أن نحفظ أسماء الله الحسني بالترتيب وندعوا الله بها فى دعائنا ؟ (من أسئلة التعليقات)
“Apakah wajib menghafal Asmaul Husna secara berurutan dan berdoa kepada Allah dengannya?” (dari sebuah pertanyaan dalam kolom komentar)
Syaikh Dr. Ahmad Shabriyy menjawab,
الشيخ أحمد صبري: رغب النبي صلى الله عليه وسلم في حفظ أسماء الله الحسني بقوله: ... لله تسعة وتسعون اسماً من حفظها دخل الجنة... رواه مسلم في صحيحه بهذا اللفظ. وفي لفظ آخر: ... من أحصاها دخل الجنة.
Nabi ﷺ menganjurkan umatnya untuk menghafal Asmaul Husna sebagaimana sabdanya, “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama; siapa yang menghafalnya maka ia akan masuk Surga” [Shahih Muslim], dan dalam riwayat lain disebutkan lafazh “siapa yang mengihsha’`nya”,
ورجح النووي أن المراد بها الحفظ، كما في شرح مسلم قال بعدما ذكر الخلاف: قال البخاري وغيره من المحققين: معناه: حفظها، وهو الأظهر؛ لأنه جاء مفسَّراً في الرواية الأخرى مَنْ حفظها .
Imam An-Nawawiyy merajihkan maknanya adalah menghafal, sebagaimana tertera dalam Syarh Shahih Muslim ketika beliau menyebutkan adanya perbedaan pendapat lalu berkata bahwa Al-Bukhariy dan para ulama peneliti lainnya menyatakan maknanya adalah menghafalnya, dan pendapat ini adalah yang Al-Azh-har (paling jelas dalam Madzhab Asy-Syafi’iyy), karena telah ditafsirkan secara tegas dalam riwayat lain dengan lafazh “siapa yang menghafalnya”,
وقيل معناه: عدّها والعمل بها، فالذي يقصد بالعمل أن لله أسماء يختص بها كالأحد والمتعال والقدير ونحوها، فيجب الإقرار بها والخضوع عندها،
Dan ada pula yang berpendapat bahwa maknanya adalah menghitungnya serta mengamalkannya, adapun yang dimaksud dengan mengamalkan adalah bahwa Allah memiliki nama-nama yang khusus bagi-Nya seperti Al-Ahad, Al-Muta‘aali, Al-Qadir, dan semisalnya, maka wajib mengimaninya dan tunduk kepadanya,
وله أسماء يُستحب الاقتداء بها في معانيها كالرحيم والكريم والعفو ونحوها، فيستحب للعبد أن يتحلى بمعانيها ليؤدي حق العمل بها، فبهذا يحصل له الإحصاء العملي ولا يشترط في حفظها ترتيب معين،
dan Allah juga memiliki nama-nama yang dianjurkan untuk diteladani dalam maknanya seperti Ar-Rahim, Al-Kariim, dan Al-‘Afuww, dan semisalnya, sehingga dianjurkan bagi seorang hamba untuk menghiasi diri dengan makna-makna tersebut agar dapat menunaikan hak pengamalannya, dengan demikian terwujudlah ihsha` secara praktis, dan tidak disyaratkan adanya urutan tertentu dalam menghafalnya,
ومن المشورع التوسل في الدعاء بأسماء الله وصفاته لقوله تعالى : وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ . فيقول المسلم في دعائه: اللهم إني أسألك بأنك أنت الرحمن الرحيم، اللطيف الخبير أن تعافيني.أو يقول: أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن ترحمني وتغفر لي
serta termasuk perkara yang disyariatkan adalah bertawassul dalam doa dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat Allah berdasarkan firman Allah Ta‘ala, “Dan milik Allah-lah Asmaul Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam nama-nama-Nya, mereka kelak akan dibalas atas apa yang telah mereka kerjakan” [QS. Al-A‘raf: 180], sehingga seorang Muslim dapat berkata dalam doanya, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan bahwa Engkau adalah Ar-Rahman Ar-Rahim, Al-Lathif, Al-Khabir, agar Engkau menyembuhkanku”, atau ia berkata, “Aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau merahmatiku dan mengampuniku.”
https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=842908295755753&id=100044713531208



Post a Comment