Header Ads

Sikap Muslim Terhadap Asmaul Husna | Abu Nu'aim Al-Ashfahaniyy | 082140888638





Abu Arakah berkata, “Setelah shalat Shubuh 'Aliyy bin Abi Thalib diam di tempatnya hingga matahari naik sekitar satu tombak. Seolah-olah ia diliputi kesedihan. Lalu ia berkata, “Sungguh, aku pernah melihat peninggalan shahabat-shahabat Rasulullah. Aku tidak melihat seorang pun yang mirip dengan mereka. Demi Allah, pada pagi hari mereka dalam keadaan kusut masam, berdebu dan pucat. Di antara mata mereka seperti ada kafilah yang berbela sungkawa. Karena mereka telah menghabiskan malam dengan membaca Kitab Allah dan mengayunkan kaki serta dahi mereka (shalat malam). Jika nama Allah disebut, maka tubuh mereka bergetar seperti pohon diterpa angin. Mata mereka berlinang air mata hingga -demi Allah- pakaian mereka pun basah karenanya. Dan demi Allah, seakan-akan orang-orang itu menghabiskan malam mereka dengan kelalaian.” [Hilyah Al-Auliya 2/76]

Ibrahim bin Asy’ats berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengagungkan Allah daripada Al-Fudhail. Jika ia menyebut nama Allah, atau Allah disebut di sisinya, atau mendengar bacaan Al-Qur’an, maka ia terlihat takut dan sedih. Lalu kedua matanya berlinang air mata. Ia pun menangis hingga orang-orang di sekitarnya merasa iba kepadanya. Ia selalu bersedih dan sangat keras dalam berpikir. Aku tidak pernah melihat orang yang menginginkan Allah dengan ilmunya, pengambilannya, pemberiannya, pencegahannya, penyerahannya, kebenciannya, kecintaannya, dan seluruh perilakunya selain dia (Al-Fudhail).” [Hilyah Al-Auliya 8/84]

Bakr bin Abdullah Al-Muzaniyy berkata, “Ada seorang raja dari umat sebelum kamu yang sangat durhaka kepada Tuhannya. Kaum muslimin memeranginya dan berhasil menangkapnya dengan selamat. Lalu mereka bertanya, “Kita bunuh dengan apa dia?” Mereka lantas sepakat untuk memasukkannya ke dalam kuali raksasa dan dinyalakan api di bawahnya. Mereka tidak akan membunuhnya sampai ia merasakan sakitnya penyiksaan. Akhirnya, mereka benar-benar melakukan rencana itu terhadapnya. Lalu ia mulai memanggil tuhan-tuhannya satu per satu. “Dengan ibadahku kepadamu, shalatku untukmu dan sentuhan tanganku ke wajahmu, selamatkanlah aku dari keadaanku ini.” Kemudian tatkala ia melihat mereka tidak berdaya, maka ia pun mengangkat kepalanya ke langit dan berkata, “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.” Ia memanggil nama Allah dengan tulus ikhlas, sehingga Allah berkenan menurunkan air bah dari langit yang kemudian memadamkan api tersebut. Dia juga mengirimkan badai yang kemudian menerbangkan kuali tersebut hingga melayang-layang di antara langit dan bumi. Sementara raja itu terus membaca, La ilaha illallah (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Kemudian Allah melontarkannya ke suatu kaum yang tidak menyembah kepada Allah, sementara ia terus membaca, La ilaha illallah. Mereka lantas mengeluarkannya dan bertanya, “Hai, ada apa denganmu?” Ia menjawab, “Aku adalah raja bani Fulan.” Lalu ia menceritakan kisahnya kepada mereka dan berkata, “Dulu aku begini dan begini, maka berimanlah kalian.” [Hilyah Al-Auliya 2/227]




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.