Kafirkan Muslim yang Tidak Tahu Asmaul Husna? | Markaz Fatwa Qatar | 082140888638
فإن الجهل ببعض أسماء الله وصفاته مما يعذر به العبد، فلا يحكم عليه بالكفر، حتى تقام عليه الحجة، قال الإمام الشافعي -رحمه الله- كما نقل عنه الحافظ ابن حجر في الفتح: لله أسماء وصفات، لا يسع أحدًا ردها، ومن خالف بعد ثبوت الحجة عليه، فقد كفر. وأما قبل قيام الحجة، فإنه يعذر بالجهل؛ لأن علم ذلك لا يدرك بالعقل، ولا الرؤية، ولا الفكر، فنثبت هذه الصفات، وننفي عنه التشبيه، كما نفى عن نفسه، فقال: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ [الشورى:11]. اهـ.
Sesungguhnya ketidaktahuan terhadap sebagian nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya termasuk perkara yang dengannya seorang hamba diberi udzur, maka tidak dihukumi atasnya dengan kekafiran sampai ditegakkan kepadanya hujjah, Imam Asy-Syafi‘iyy—rahimahullah—berkata sebagaimana dinukil darinya oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath, “Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat, tidak ada kelapangan bagi siapa pun untuk menolaknya, dan siapa yang menyelisihi setelah tetapnya hujjah atasnya, maka sungguh ia telah kafir, adapun sebelum tegaknya hujjah, maka ia diberi udzur karena ketidaktahuan, sebab pengetahuan tentang hal tersebut tidak dapat dicapai dengan akal, tidak pula dengan penglihatan, dan tidak pula dengan pemikiran, maka kami menetapkan sifat-sifat tersebut dan menafikan dari-Nya penyerupaan sebagaimana Dia menafikannya dari diri-Nya, lalu Dia berfirman, ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya’ [QS. Asy-Syura:11],”
ومما يستدل به على أن المرء يعذر بجهله ببعض أسماء الله وصفاته حتى يُعَلَّمَها، وتقام عليه الحجة فيها: ما رواه البخاري عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كان رجل يُسرف على نفسه، فلما حضره الموت، قال لبنيه: إذا أنا مت، فأحرقوني، ثم اطحنوني، ثم ذروني في الريح، فوالله لئن قدر الله علي ليعذبني عذابًا ما عذبه أحدًا، فلما مات، فعل به ذلك، فأمر الله الأرض، فقال: اجمعي ما فيك منه، ففعلت، فإذا هو قائم، فقال: ما حملك على ما صنعت؟ قال: يا رب، خشيتك، فغفر له.
dan di antara dalil yang dijadikan sandaran bahwa seseorang diberi uzur karena ketidaktahuannya terhadap sebagian nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sampai ia diajari dan ditegakkan atasnya hujjah dalam perkara tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda, “Ada seorang lelaki yang berbuat melampaui batas terhadap dirinya sendiri, maka ketika kematian mendatanginya ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apabila aku telah mati, maka bakarlah aku, kemudian tumbuklah aku, lalu tebarkanlah aku di angin, demi Allah, sungguh jika Allah mampu atas diriku niscaya Dia akan mengazabku dengan adzab yang tidak Dia timpakan kepada seorang pun,’ maka ketika ia meninggal dunia, hal itu pun dilakukan terhadapnya, lalu Allah memerintahkan bumi, maka Dia berfirman, ‘Kumpulkanlah apa yang ada padamu darinya,’ maka bumi pun melakukannya, tiba-tiba ia berdiri, lalu Allah berfirman, ‘Apa yang mendorongmu melakukan apa yang telah engkau lakukan?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rabbku, karena rasa takut kepada-Mu,’ maka Allah pun mengampuninya,”
قال الحافظ ابن عبد البر -رحمه الله- في التمهيد: اختلف العلماء في معناه، فقال منهم قائلون: هذا رجل جهل بعض صفات الله عز وجل، وهي القدرة، فلم يعلم أن الله على ما يشاء قدير. قالوا: ومن جهل صفة من صفات الله عز وجل، وآمن بسائر صفاته، وعرفها، لم يكن بجهل بعض صفات الله كافرًا، قالوا: وإنما الكافر من عاند الحق، لا من جهله. وهذا قول المتقدمين من العلماء، ومن سلك سبيلهم من المتأخرين. اهـ.
dan Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr—rahimahullah—berkata dalam At-Tamhid, “Para ulama berselisih pendapat tentang maknanya, maka di antara mereka ada yang mengatakan, lelaki ini tidak mengetahui sebagian sifat Allah عز وجل, yaitu sifat kemampuan, sehingga ia tidak mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas apa yang Dia kehendaki, mereka berkata, barang siapa tidak mengetahui satu sifat dari sifat-sifat Allah عز وجل, namun ia beriman kepada seluruh sifat-Nya yang lain dan mengetahuinya, maka ia tidak menjadi kafir karena ketidaktahuannya terhadap sebagian sifat Allah, mereka berkata, sesungguhnya yang kafir itu adalah orang yang menentang kebenaran, bukan orang yang tidak mengetahuinya, dan ini adalah pendapat para ulama terdahulu serta orang-orang dari kalangan ulama belakangan yang menempuh jalan mereka.”
https://www.islamweb.net/ar/fatwa/387619/


Post a Comment