Allah Punya 117 Akhlaq Bahkan 313 Akhlaq yang Mencerminkan Asmaul Husna | Sayyid Murtadha Az-Zabidiyy | 082140888638
Sayyid Murtadha Az-Zabidiyy menjelaskan,
وُجِدَتْ بِخَطِّ ابْنِ الْحَرِيرِيِّ عَنْ خَطِّ الشَّيْخِ زَيْنِ الدِّينِ الْقُرَشِيِّ الْوَاعِظِ مَا نَصُّهُ: قَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زَيْدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَاشِدٍ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: " إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِائَةَ خُلُقٍ وَسَبْعَ عَشْرَةَ خُلُقًا، مَنْ أَتَى اللَّهَ بِخُلُقٍ وَاحِدٍ مِنْهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ".
Ditemukan dengan tulisan tangan Ibnu Al-Haririyy dari tulisan tangan Syaikh Zainuddin Al-Qurasyiyy Al-Wa‘izh, yang teksnya adalah sebagai berikut, Abu Dawud Ath-Thayalisiyy berkata, Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid bin Zaid, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Rasyid, maula ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki seratus tujuh belas akhlaq; barang siapa datang kepada Allah dengan satu akhlaq saja dari akhlaq-akhlaq tersebut, ia masuk Surga.”
قُلْتُ: رَوَاهُ مِنْ هَذَا الطَّرِيقِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ الْحَكِيمُ التِّرْمِذِيُّ فِي نَوَادِرِ الْأُصُولِ، وَأَبُو يَعْلَى، وَالْبَيْهَقِيُّ، وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمْ: " سِتَّةَ عَشَرَ خُلُقًا"، وَفِي أُخْرَى: " بِضْعَةَ عَشَرَ خُلُقًا"، وَفِي أُخْرَى: " شَرِيعَةً" بَدَلَ " خُلُقًا " .
Aku berkata, Al-Hakim At-Tirmidziyy meriwayatkannya dari jalur ini dengan sanad ini dalam Nawadir Al-Ushul, demikian pula Abu Ya‘la dan Al-Baihaqiyy; dan dalam salah satu riwayat mereka, “enam belas akhlaq”, dan dalam riwayat lainnya, “beberapa belas akhlaq”, dan dalam riwayat lainnya, “Syari'at” sebagai pengganti kata “akhlaq”.
ثُمَّ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ: وَهَكَذَا رَوَاهُ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زَيْدٍ الْبَصْرِيُّ الزَّاهِدُ، وَلَيْسَ بِقَوِيٍّ فِي الْحَدِيثِ، وَقَدْ خُولِفَ فِي إِسْنَادِهِ وَمَتْنِهِ . وَقَالَ فِي اللِّسَانِ: قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زَيْدٍ أَجْمَعُوا عَلَى تَرْكِهِ . وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ: يَقْلِبُ الْأَخْبَارَ مِنْ سُوءِ حِفْظِهِ وَكَثْرَةِ وَهْمِهِ، فَاسْتَحَقَّ التَّرْكَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَاشِدٍ ضَعَّفُوهُ، وَبِهِ أَعَلَّ الْهَيْثَمِيُّ الْخَبَرَ . قَالَ الْمَنَاوِيُّ: لَكِنَّهُ عَصَبَ الْجِنَايَةَ بِرَأْسِهِ وَحْدَهُ، فَلَمْ يُصِبْ .
Kemudian Al-Baihaqiyy berkata, Demikian pula ‘Abdul-Wahid bin Zaid Al-Bashriyy, seorang ahli zuhud, meriwayatkannya, dan ia tidak kuat dalam hadits; dan telah terjadi penyelisihan terhadapnya dalam sanad dan matannya. Dan ia berkata dalam Al-Lisan, Ibn ‘Abdil Barr berkata, ‘Abdul Wahid bin Zaid, mereka telah bersepakat untuk meninggalkannya. Ibnu Hibban berkata, Ia membolak-balik riwayat-riwayat karena buruk hafalannya dan banyak kekeliruannya, sehingga ia berhak untuk ditinggalkan, dan ‘Abdullah bin Rasyid dinilai lemah oleh mereka; dan karena perawi inilah Al-Haitsamiyy menilai cacat riwayat tersebut. Al-Manawiyy berkata, Akan tetapi, ia menjadikan seluruh kesalahan hanya dibebankan kepada kepalanya seorang diri, maka ia tidak tepat.
وَقَالَ الْحَكِيمُ التِّرْمِذِيُّ بَعْدَ أَنْ سَاقَهُ بِسَنَدِهِ: كَأَنَّهُ يُرِيدُ أَنَّ مَنْ أَتَاهُ بِخُلُقٍ وَاحِدٍ مِنْهَا وَهَبَ لَهُ جَمِيعَ سَيِّئَاتِهِ، وَغَفَرَ لَهُ سَائِرَ ذُنُوبِهِ .
Al-Hakim At-Tirmidziyy berkata setelah ia menyebutkan hadits tersebut dengan sanadnya: Seakan-akan yang ia maksudkan adalah bahwa barang siapa datang kepada-Nya dengan satu akhlaq saja dari akhlaq-akhlaq tersebut, Dia akan menganugerahkan kepadanya penghapusan seluruh keburukannya dan mengampuni seluruh dosa-dosanya.
وَفِي خَبَرٍ: "إِنَّ الْأَخْلَاقَ فِي الْخَزَائِنِ، فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا مَنَحَهُ خُلُقًا مِنْهَا. اهـ .
Dan dalam suatu riwayat, “Sesungguhnya akhlaq-akhlaq itu berada di dalam perbendaharaan-perbendaharaan; maka apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menganugerahinya suatu akhlaq dari akhlaq-akhlaq tersebut.” Selesai.
وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ، عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوعًا: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْحًا مِنْ زَبَرْجَدَةٍ خَضْرَاءَ تَحْتَ الْعَرْشِ، كُتِبَ فِيهِ: أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا، أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، خَلَقْتُ بِضْعَةَ عَشَرَ وَثَلَاثَمِائَةِ خُلُقٍ، مَنْ جَاءَ بِخُلُقٍ مِنْهَا وَشَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ". وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ .
Dan Ath-Thabaraniyy meriwayatkan dalam Al-Ausath, dari Anas secara marfu‘ (sampai kepada Nabi), “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki sebuah lauh (papan catatan) dari zamrud hijau di bawah ‘Arsy, yang tertulis padanya, Aku adalah Allah, tidak ada tuhan yang benar selain Aku, Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. Aku telah menciptakan beberapa belas dan tiga ratus akhlaq; barang siapa datang dengan membawa satu akhlaq dari akhlaq-akhlaq tersebut dan persaksian bahwa tidak ada tuhan yang benar selain Allah, ia masuk Surga.” Dan sanadnya hasan.



Post a Comment