Header Ads

Hamba yang Mengamalkan Asmaul Husna Bukan Berarti Hulul dan Ittihad | Sayyid Murtadha Az-Zabidiyy | 082140888638

Aa Gym Arifin Ilham Buya Syakur Buya Yahya UAS UAH UJE Mama Dedeh Oky Setiana Dewi Celine Evangelista Asmaul Husna Al-Ghazaliyy Murtadha Az-Zabidiyy Teuku Wisnu Asrori Arrazy Hasyim Buya Hamka Baalawi PWI LS Albani Wafi Faris Baswedan


Sayyid Murtadha Az-Zabidiyy menguraikan,

وَلَقَدْ سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَلِيٍّ الْفَارَمَدِيَّ يَحْكِي عَنْ شَيْخِهِ أَبِي الْقَاسِمِ الْكِرْمَانِيِّ -قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُمَا- أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ الْأَسْمَاءَ التِّسْعَةَ وَالتِّسْعِينَ تَصِيرُ أَوْصَافًا لِلْعَبْدِ السَّالِكِ، وَهُوَ بُعْدٌ فِي السُّلُوكِ غَيْرُ وَاصِلٍ، 

Sungguh, aku pernah mendengar Syaikh Abu ‘Aliyy Al-Farmadiyy menceritakan dari gurunya, Abu Al-Qasim Al-Kirmaniyy—semoga Allah menyucikan ruh keduanya—bahwa ia berkata, Sesungguhnya nama-nama yang sembilan puluh sembilan itu menjadi sifat-sifat bagi seorang hamba yang menempuh jalan suluk (fokus ibadah kepada Allah), sedangkan ia masih berada dalam perjalanan dan belum wushul (sampai kepada puncak penghambaan). 

وَهَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ إِنْ أَرَادَ بِهِ شَيْئًا يُنَاسِبُ مَا أَوْرَدْنَاهُ فِي التَّنْبِيهَاتِ، فَهُوَ صَحِيحٌ، وَلَا يُظَنُّ بِهِ إِلَّا ذَلِكَ، وَيَكُونُ فِي اللَّفْظِ نَوْعُ تَوَسُّعٍ وَاسْتِعَارَةٍ، وَإِلَّا فَمَعَانِي الْأَسْمَاءِ هِيَ صِفَاتُ اللَّهِ تَعَالَى، وَصِفَاتُهُ لَا تَصِيرُ صِفَةً لِغَيْرِهِ، وَلَكِنْ مَنْ يَحْصُلُ مَا يُنَاسِبُ تِلْكَ الْأَوْصَافَ كَمَا يُقَالُ: فُلَانٌ حَصَّلَ عِلْمَ الْأُسْتَاذِ وَعِلْمُ الْأُسْتَاذِ لَا يَحْصُلُ لِلتِّلْمِيذِ بَلْ يَحْصُلُ لَهُ مِثْلُ عِلْمِهِ. وَإِنْ ظَنَّ ظَانٌّ أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ لَيْسَ مَا ذَكَرْنَاهُ. فَهُوَ بَاطِلٌ قَطْعًا، 

Dan apa yang telah kami sebutkan ini, jika yang ia maksudkan adalah sesuatu yang sesuai dengan apa yang telah kami kemukakan dalam peringatan-peringatan tersebut, maka itu benar, dan tidak patut dipahami darinya kecuali demikian; dan dalam ungkapan tersebut terdapat semacam keluasan dan majaz. Jika tidak demikian, maka makna-makna nama-nama itu adalah sifat-sifat Allah Ta‘ala, dan sifat-sifat-Nya tidak menjadi sifat bagi selain-Nya. Akan tetapi, barang siapa memperoleh sesuatu yang sesuai dengan sifat-sifat tersebut, sebagaimana dikatakan, ‘Fulan telah memperoleh ilmu sang guru,’ sedangkan ilmu sang guru tidak menjadi milik murid, tetapi yang diperoleh murid adalah sesuatu yang semisal dengan ilmunya. Jika seseorang menyangka bahwa yang dimaksud dengan ungkapan tersebut bukanlah apa yang telah kami sebutkan, maka hal itu secara pasti batil. 

فَإِنِّي أَقُولُ: قَوْلُ الْقَائِلِ إِنَّ أَسْمَاءَ اللَّهِ تَعَالَى صَارَتْ أَوْصَافًا لَهُ لَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ عَنَى بِهِ عَيْنَ تِلْكَ الصِّفَاتِ أَوْ مِثْلِهَا. فَإِنْ عَنَى بِهِ مِثْلَهَا مِنْ حَيْثُ الِاسْمِ وَالْمُشَارَكَةِ فِي عُمُومِ الصِّفَاتِ دُونَ خَوَاصِّ الْمَعَانِي. فَهَذَانِ قِسْمَانِ، وَإِنْ عَنَى بِهِ عَيْنَهَا فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ بِطَرِيقِ الِانْتِقَالِ لِصِفَاتِ الرَّبِّ إِلَى الْعَبْدِ أَوْ لَا بِالِانْتِقَالِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِالِانْتِقَالِ فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ بِاتِّحَادِ ذَاتِ الْعَبْدِ بِذَاتِ الرَّبِّ حَتَّى يَكُونَ هُوَ هُوَ، فَتَكُونُ صِفَاتُهُ صِفَاتِهِ، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ بِطَرِيقِ الْحُلُولِ وَهَذِهِ أَقْسَامٌ ثَلَاثَةٌ: وَهُوَ الِانْتِقَالُ، وَالِاتِّحَادُ، وَالْحُلُولُ، وَقِسْمَانِ مُتَقَدِّمَانِ، فَهَذِهِ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ، الصَّحِيحُ مِنْهَا قِسْمٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ أَنْ يَثْبُتَ لِلْعَبْدِ مِنْ هَذِهِ الصِّفَاتِ أُمُورٌ تُنَاسِبُهَا عَلَى الْجُمْلَةِ وَتُشَارِكُهَا فِي الِاسْمِ، وَلَكِنْ لَا تُمَاثِلُهَا مُمَاثَلَةً تَامَّةً .

Sebab aku berkata, Perkataan seseorang bahwa nama-nama Allah Ta‘ala telah menjadi sifat-sifat baginya tidak terlepas dari dua kemungkinan: apakah yang dimaksud olehnya adalah sifat-sifat itu sendiri atau yang semisal dengannya. Jika yang dimaksud adalah yang semisal dengannya dalam hal nama dan kesamaan dalam keumuman sifat, tanpa kekhususan makna-maknanya, maka ini adalah dua bagian. Dan jika yang dimaksud adalah sifat-sifat itu sendiri, maka tidak terlepas dari dua kemungkinan, apakah hal itu melalui perpindahan sifat-sifat Tuhan kepada hamba atau bukan melalui perpindahan. Jika bukan melalui perpindahan, maka tidak terlepas dari kemungkinan bahwa hal itu terjadi melalui penyatuan dzat hamba dengan dzat Tuhan sehingga ia menjadi Dia, maka sifat-sifat-Nya menjadi sifat-sifat hamba tersebut; atau terjadi melalui hulul (penyatuan hamba-Tuhan). Ini adalah tiga bagian, yaitu perpindahan, ittihad, dan hulul, ditambah dua bagian sebelumnya, sehingga menjadi lima bagian. Yang benar dari semuanya adalah satu bagian, yaitu bahwa bagi hamba terdapat dari sifat-sifat tersebut perkara-perkara yang secara keseluruhan sesuai dengannya dan memiliki kesamaan dalam nama, tetapi tidak menyerupainya dengan keserupaan yang sempurna (menyeluruh).

Aa Gym Arifin Ilham Buya Syakur Buya Yahya UAS UAH UJE Mama Dedeh Oky Setiana Dewi Celine Evangelista Asmaul Husna Al-Ghazaliyy Murtadha Az-Zabidiyy Teuku Wisnu Asrori Arrazy Hasyim Buya Hamka Baalawi PWI LS Albani Wafi Faris Baswedan

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.