.png) |
| 082140888638 Gerakan Indonesia Ber-Asmaul Husna |
Allah adalah Allah. Asmaul Husna bukan Allah. Asmaul Husna adalah nama-nama Allah, bukan Allah itu sendiri. Mulla 'Aliyy Al-Qari menguraikan, "Nama-Nya Ta‘ala adalah apa yang disematkan kepada-Nya, dan hal itu ditinjau dari Dzat-Nya seperti lafazh “Allah”, atau ditinjau dari sifat salbiyyah (peniadaan) seperti “Al-Quddus” dan “Al-Awwal”, atau sifat hakikiyyah yang bersifat penetapan seperti “Al-‘Alim” dan “Al-Qadir”, atau sifat idhafiyyah (relasional) seperti “Al-Hamid” dan “Al-Malik”, atau ditinjau dari perbuatan di antara perbuatan-Nya seperti “Ar-Raziq” dan “Al-Khaliq”; dan nama adalah lafazh yang menunjukkan makna berdasarkan peletakan secara bahasa, sedangkan musamma adalah makna yang diletakkan untuknya nama tersebut, dan tasmiyah adalah peletakan lafazh itu untuk makna tersebut atau untuk penyematan kepadanya; dan terkadang nama digunakan namun yang dimaksud adalah maknanya, maka yang dimaksud dengan nama adalah musamma pada penilaian kedua, dan selain musamma pada penilaian pertama, oleh karena itu terjadi perbedaan pendapat apakah nama itu adalah musamma atau selainnya; dan Mu‘tazilah berkata, nama adalah tasmiyah tanpa musamma; dan para masyayikh kami berkata, tasmiyah adalah lafazh yang menunjukkan musamma, sedangkan nama adalah makna yang dinamai dengannya; Ibnu Hajar berkata, madzhab Al-Asy‘ariyy bahwa nama terkadang merupakan ‘ain (entitas) musamma seperti lafazh “Allah”, terkadang selainnya seperti “Al-Khaliq”, dan terkadang tidak identik dan tidak pula selainnya seperti “Al-‘Alim”, karena ilmu-Nya bukan entitas Dzat-Nya menurut Ahlus Sunnah berbeda dengan Mu‘tazilah, dan bukan pula selain-Nya dengan pengertian “selain” adalah sesuatu yang dapat terpisah dari dua sisi; dan ketahuilah bahwa madzhab Ahlus Sunnah wal Jama‘ah bahwa sifat-sifat Allah bukan entitas Dzat-Nya, karena makna-makna dipahami dari sifat-sifat tersebut secara bahasa dan akal, maka jika tidak tetap bagi Dzat Allah Ta‘ala itu merupakan kekurangan karena ia adalah sifat kesempurnaan, dan jika tetap maka ia merupakan tambahan secara niscaya karena makna-makna tersebut tidak mungkin berdiri sendiri, maka tetaplah bahwa ia bukan entitas Dzat dan bukan pula selain-Nya, karena dua hal yang berbeda adalah yang mungkin salah satunya terpisah dari yang lain; dan para filosof berpendapat bahwa sifat-sifat itu adalah entitas Dzat, dan mendekati pendapat mereka adalah pendapat Mu‘tazilah bahwa Allah Maha Mengetahui bukan dengan ilmu melainkan dengan Dzat-Nya; dan tempat pembahasan ini adalah dalam kitab-kitab aqidah, dan para salaf tidak memberatkan diri dalam hal tersebut, juga tidak dalam pembahasan tilawah dan yang dibaca, sebagai bentuk kehati-hatian dan mencari keselamatan."
 |
| 082140888638 Souvenir Islami Flash Card Syariah Asmaul Husna Poster Lipat |
Post a Comment