Rekomendasi untuk Pemerintah Agar Mensosialisasikan Nilai-nilai Asmaul Husna | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Asmaul Husna merekomendasikan kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk mewajibkan seluruh ASN hafal Asmaul Husna secara tekstual dan kontekstual bahkan memasukkan wawasan Asmaul Husna ke dalam soal-soal tes masuk CPNS. Seluruh pekerja di lingkungan Badan Gizi Nasional hingga dapur-dapur SPPG pemasok Makanan Bergizi Gratis juga diharapkan memiliki kesadaran diri akan pentingnya Asmaul Husna sebagai inspirasi etos kerja. Muslim maupun non-muslim sepanjang menjadi pejabat pemerintah perlu menjadikan Asmaul Husna sebagai standar nilai universal. In sya Allah, dengan penguatan Asmaul Husna di lingkungan pemegang kekuasaan di persada Tanah Air maka akan hilang semua tradisi buruk seperti korupsi, suap-menyuap, jual-beli jabatan, penyalah gunaan wewenang, bahkan perselingkuhan dan kumpul kebo.
Pemerintah perlu mengangkat nilai-nilai universal yang juga terkandung dalam Asmaul Husna—seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan amanah—ke dalam kerangka etika publik yang bisa diterima lintas iman. Pemerintah dapat merancang kode etik ASN yang kuat dan terukur berbasis Asmaul Husna, di mana nilai-nilai tersebut dijabarkan dalam bentuk perilaku konkret, studi kasus, dan sistem evaluasi berkala. Bagi ASN muslim, internalisasi Asmaul Husna bisa difasilitasi melalui program pembinaan keagamaan yang bersifat opsional namun berkualitas tinggi. Sementara itu, bagi non-muslim, dapat disediakan pendekatan serupa berbasis ajaran etika dari tradisi agama masing-masing dengan mengadopsi nilai-nilai universal Asmaul Husna.
Menghafal lafazh Asmaul Husna beserta maknanya pada dasarnya bukan hanya aktivitas ritual, tetapi juga latihan intelektual dan moral. Setiap nama Allah mengandung nilai universal seperti keadilan (Al-‘Adl), kasih sayang (Ar-Rahman), kejujuran (Al-Haqq), dan kebijaksanaan (Al-Hakim). Nilai-nilai ini tidak eksklusif bagi satu kelompok (yakni muslim saja), melainkan relevan bagi siapa pun yang ingin membangun etika pribadi dan sosial yang kuat, sekalipun ateis dan agnostik. Dalam perspektif rasional, seseorang tidak harus terlebih dahulu meyakini aspek teologisnya untuk bisa mengambil manfaat moral dari konsep-konsep tersebut—sebagaimana banyak filsafat etika dunia juga diadopsi lintas keyakinan. Ini bukan sinkretisme asalkan Asmaul Husna yang diadopsi tersebut tidak kemudian diklaim sebagai milik agama selain Islam.




Post a Comment