Tidak Perlukah Menghafal Asmaul Husna Pada Era Artificial Intelligence? | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Banyak praktisi pendidikan yang menggaungkan gagasan sekarang bukan era menghafal tapi memahami. Asmaul Husna tetap harus dihafal. Asmaul Husna merupakan konsumsi intelektual dan manusia baru bisa mengimplementasikan Asmaul Husna manakala sudah hafal lafazh dan makna logisnya secara bahasa sekalipun artificial intelligence sudah merekam Asmaul Husna dengan segala kandungan artinya. Asmaul Husna tidak hanya menjadi sumber moral tapi juga wasilah (sarana) dzikir (mengingat Allah). Mengucapkan Asmaul Husna satu atau banyak sudah merupakan ibadah walaupun tidak paham artinya. Namun muslim wajib berusaha mempelajari dan mengingat-ingat arti masing-masing Asmaul Husna. Manakala seseorang sudah menghafal Asmaul Husna lafzhan wa ma’nan maka dia tidak butuh buku maupun artificial intelligence untuk mengambil sikap berdasar Asmaul Husna dalam hitungan seperti sekian detik.
Gagasan bahwa ini bukan lagi era menghafal melainkan memahami terdengar menarik, tetapi menjadi problematis ketika memisahkan dua hal yang sejatinya saling menopang. Dalam konteks Asmaul Husna, pemahaman yang mendalam justru bertumpu pada hafalan yang kuat. Tanpa hafal lafazh dan makna dasarnya, seseorang tidak memiliki “bahan mentah” yang siap diolah dalam pikirannya. Mengandalkan akses instan—termasuk melalui teknologi atau artificial intelligence—tidak sama dengan memiliki pengetahuan yang terinternalisasi. Pengetahuan yang tersimpan di luar diri tidak akan secepat dan setajam pengetahuan yang sudah tertanam dalam memori ketika dibutuhkan dalam refleksi, pengambilan keputusan, atau pembentukan karakter.
Asmaul Husna bukan sekadar informasi, tetapi konsumsi intelektual yang harus “hadir” dalam kesadaran setiap saat. Ketika seseorang telah menghafal lafazh dan memahami makna logisnya secara bahasa, ia memiliki perangkat kognitif yang aktif untuk menilai dirinya: apakah sudah adil (Al-‘Adl), apakah sudah jujur (Al-Haqq), apakah sudah penuh kasih (Ar-Rahman). Proses ini tidak mungkin berjalan optimal jika seseorang masih harus mencari-cari atau mengingat secara parsial. Hafalan berfungsi sebagai fondasi yang memungkinkan pemahaman bekerja secara spontan dan berkelanjutan, bukan sesekali dan bergantung pada bantuan eksternal.
Lebih jauh lagi, implementasi nilai-nilai Asmaul Husna dalam kehidupan nyata menuntut kecepatan respons batin. Dalam situasi konflik, godaan, atau keputusan moral, manusia tidak diberi jeda untuk “membuka referensi”. Di sinilah hafalan memainkan peran krusial: ia menjadikan nilai-nilai tersebut refleks dalam diri. Kehadiran artificial intelligence (AI) yang mampu menyimpan dan menjelaskan Asmaul Husna tidak menggantikan kebutuhan ini, karena AI hanya alat bantu, bukan pengganti kesadaran manusia. Dengan demikian, menghafal dan memahami bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan satu kesatuan proses—dan dalam konteks Asmaul Husna, hafalan adalah pintu masuk yang tidak bisa ditinggalkan.



Post a Comment