Pandangan Non Muslim Terhadap Nabi Muhammad | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Batu mulia tetaplah batu mulia walaupun dicela oleh orang-orang yang tidak tahu kemuliaannya. Sosok yang mulia tetaplah sosok yang mulia meskipun dihujat oleh orang-orang yang tidak tahu kemuliaannya. Nabi Muhammad adalah orang paling mulia sejagat raya namun tetap saja ada orang yang antipati atau skeptis kepada beliau. Non muslim adalah sebutan untuk siapa saja yang mengingkari status kerasulan dan kenabian Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib Al-Qurasyiyy. Namun sebagaimana batu mulia yang hanya disadari kemuliaannya oleh orang-orang yang sadar, Nabi Muhammad juga disadari kemuliaannya oleh sebagian non muslim yang sadar.
Kita sebagai Muslim tidak berhajat untuk mendapatkan simpati dari non muslim sebagai bukti pendukung atas kebenaran Nabi Muhammad. Namanya iman ya percaya. Kalau kita masih butuh pengakuan dari pihak lawan maka berarti kita sebenarnya skeptis bahkan antipati kepada Nabi Muhammad. Tetapi kita tidak rugi jika kita turut menyebarluaskan pernyataan-pernyataan tokoh non muslim yang memihak Nabi Muhammad. Berikut diantara penuturan public figure dari kalangan non muslim tentang Nabi Muhammad dengan penilaian bintang lima
“Tidak ada keraguan bahwa Muhammad adalah seorang Nabi yang otentik…”
(There is no doubt that Muhammad was an authentic prophet…)
~ Hans Küng, Tracing the Way: Spiritual Dimensions of the World Religions
Jika kebesaran tujuan, kecilnya sarana, dan hasil yang menakjubkan adalah tiga kriteria dari seorang manusia yang jenius, siapa yang berani membandingkan setiap orang hebat dalam sejarah dengan Muhammad?.
(If greatness of purpose, smallness of means, and astonishing results are the three criteria of a human genius, who could dare compare any great man in history with Muhammad?).
“Filsuf, orator, rasul, legislator, pejuang, penakluk ide, pemulih dogma rasional, aliran tanpa gambar, pendiri dua puluh kerajaan duniawi dan satu kerajaan spiritual: itulah Muhammad. Mengenai semua standar yang dapat digunakan untuk mengukur kebesaran manusia, kita mungkin bertanya: Apakah ada orang yang lebih besar dari dia (Muhammad)?”
(Philosopher, orator, apostle, legislator, warrior, conqueror of ideas, restorer of rational dogmas, of a cult without images, the founder of twenty terrestrial empires and of one spiritual empire: that is Muhammad. As regards all the standards by which human greatness may be measured, we may well ask: Is there any man greater than he?)
~ Alphonse de Lamartine, History of Turkey
“Jauh dari sosok bapak jihad, [Nabi] Muhammad adalah seorang pembawa damai, yang mempertaruhkan nyawanya dan hampir kehilangan kesetiaan dari sahabat-sahabat terdekatnya karena ia bertekad untuk melakukan rekonsiliasi dengan Makkah”
(Far from being the father of jihad, [Prophet] Mohammad was a peacemaker, who risked his life and nearly lost the loyalty of his closest companions because he was determined to effect a reconciliation with Mecca)
~ Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet
“Kebohongan (fitnah Barat) yang disebarkan kepada orang-orang yang berniat baik terhadap orang ini (Muhammad) hanya akan mempermalukan diri kita sendiri.”
(The lies (Western slander) which well-meaning zeal has heaped round this man (Muhammad) are disgraceful to ourselves only)
~ Thomas Carlyle, On Heroes, Hero Worship and the Heroic in History
“Dalam arti tertentu, Muhammad bukanlah seorang pembawa pesan, melainkan seorang penerjemah, yang berjuang untuk memberi manusia kata-kata – kepada hal-hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.”
(In a sense Muhammad was less the messenger than the translator, struggling to give human form — words — to the ineffable).
~ Lesley Hazleton, The First Muslim: The Story of Muhammad
“Kesiapannya untuk menghadapi penganiayaan karena keyakinannya, karakter moral yang tinggi dari orang-orang yang percaya kepadanya dan memandangnya sebagai pemimpin, dan kebesaran pencapaian akhirnya – semuanya membuktikan integritas fundamentalnya. Menganggap Muhammad sebagai seorang penipu menimbulkan lebih banyak masalah daripada solusinya. Selain itu, tidak ada tokoh besar dalam sejarah yang kurang dihargai di Barat seperti Muhammad”
(His readiness to undergo persecutions for his beliefs, the high moral character of the men who believed in him and looked up to him as leader, and the greatness of his ultimate achievement – all argue his fundamental integrity. To suppose Muhammad an impostor raises more problems than it solves. Moreover, none of the great figures of history is so poorly appreciated in the West as Muhammad)
~ William Montgomery Watt, Muhammad at Mecca
“Sangat memalukan bagi siapa pun yang mendengarkan tuduhan bahwa Islam adalah kebohongan dan bahwa Muhammad adalah seorang pemalsu dan penipu. Kita melihat bahwa ia tetap teguh pada prinsip-prinsipnya, dengan tekad yang kuat; baik hati dan murah hati, penyayang, shalih, berbudi luhur, dengan kejantanan sejati, pekerja keras dan tulus. Di samping semua sifat ini, ia bersikap lunak terhadap orang lain, toleran, baik hati, ceria dan terpuji dan mungkin ia akan bercanda dan menggoda teman-temannya. Ia adil, jujur, cerdas, murni, murah hati dan berpikiran terbuka; wajahnya berseri-seri seolah-olah ia memiliki cahaya di dalam dirinya untuk menerangi malam yang paling gelap; ia adalah orang hebat secara alami yang tidak dididik di sekolah atau diasuh oleh seorang guru karena ia tidak membutuhkan semua ini.”
(It is a great shame for anyone to listen to the accusation that Islam is a lie and that Muhammad was a fabricator and a deceiver. We saw that he remained steadfast upon his principles, with firm determination; kind and generous, compassionate, pious, virtuous, with real manhood, hardworking and sincere. Besides all these qualities, he was lenient with others, tolerant, kind, cheerful and praiseworthy and perhaps he would joke and tease his companions. He was just, truthful, smart, pure, magnanimous and present-minded; his face was radiant as if he had lights within him to illuminate the darkest of nights; he was a great man by nature who was not educated in a school nor nurtured by a teacher as he was not in need of any of this).
~Thomas Carlyle, On Heroes, Hero Worship and the Heroic in History
“Saya telah mempelajari Islam dan kehidupan Nabi-Nya (Muhammad) dengan sangat saksama. Saya telah mempelajarinya baik sebagai seorang mahasiswa sejarah maupun sebagai seorang kritikus. Dan saya telah sampai pada kesimpulan bahwa Muhammad memang seorang pria hebat dan seorang penyelamat serta dermawan bagi umat manusia yang hingga saat itu sedang menderita di bawah penderitaan yang paling menyakitkan.”
(I have very carefully studied Islam and the life of its Prophet (PBUH). I have done so both as a student of history and as a critic. And I have come to conclusion that Muhammad (PBUH) was indeed a great man and a deliverer and benefactor of mankind which was till then writhing under the most agonising Pain.)
~ George Bernard Shaw
Setelah kita mendapatkan narasi-narasi positif tentang Nabi Muhammad kita tidak boleh berhenti. Kita mesti FOMO terhadap identitas Nabi Muhammad dan dialektika terhadap beliau. Kita tidak boleh sekedar mengagumi Nabi Muhammad tapi tidak tahu bagaimana membela apa saja yang diperbuat beliau. Kitab Asy-Syifa Bi Ta'rif Huquq Al-Mushthafa menyuguhkan banyak logika-logika apologetik imani yang membela apa saja hal-hal yang dirasakan anomali terkait Nabi Muhammad. Kitab Asy-Syifa Bi Ta'rif Huquq Al-Mushthafa telah terbit lebih dari 9 abad silam namun kini terbit dalam versi bilingual (Arab Indonesia). Dapatkan di https://wa.me/6282140888638



Post a Comment