Rasulullah Beretika Asmaul Husna Asy-Syakur Ash-Shabur | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Tidak hanya berbagi, Rasulullah juga sering memberikan pinjaman modal kepada para shahabat beliau untuk memulai bisnis. Urwah bin Abi Ja’d Al-Bariqiyy punya pengalaman indah bersama Sang CEO,
أَعْطَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم دِينَاراً يَشْتَرِي بِهِ أُضْحِيَةً – أَوْ شَاةً – فَاشْتَرَى شَاتَيْنِ ، فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ ، فَأَتَاهُ بِشَاةٍ وَدِينَارٍ ، فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ ، فَكَانَ لَوِ اشْتَرَى تُرَابًا لَرَبِحَ فِيهِ .
“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memberinya satu dinar untuk dibelikan hewan qurban –seekor kambing-. Lalu dia membeli dua ekor kambing, salah satunya dijual dengan seharga satu dinar, lalu dia memberi beliau seekor kambing dan satu dinar. Maka beliau mendoakan semoga dia mendapatkan barakah dalam jual belinya. Maka sejak saat itu seandainya dia membeli debu, niscaya dia mendapatkan keuntungan.” [Jami’ At-Tirmidziyy, no. 1258, Sunan Abu Dawud, no. 3384, Ibnu Majah, no. 2402]
Mertua Nabi sendiri juga punya pengalaman mengesankan dengan Sang SEO. Hubungan keluarga tetaplah hubungan keluarga, bisnis tetaplah bisnis, namun hubungan keluarga menjadi alasan kuat untuk menjadi manusia dermawan. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhu menceritakan,
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ فَكُنْتُ عَلَى بَكْرٍ صَعْبٍ لِعُمَرَ ، فَكَانَ يَغْلِبُنِي فَيَتَقَدَّمُ أَمَامَ الْقَوْمِ ، فَيَزْجُرُهُ عُمَرُ وَيَرُدُّهُ ، ثُمَّ يَتَقَدَّمُ فَيَزْجُرُهُ عُمَرُ وَيَرُدُّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لِعُمَرَ : ( بِِعْنِِيهِِ ) قَالَ : هُوَ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : ( بِعْنِيهِ ) فَبَاعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : ( هُوَ لَكَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ تَصْنَعُ بِهِ مَا شِئْتَ )
“Dahulu kami bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Aku menunggang anak onta yang sulit dikendalikan milik ‘Umar. Anak onta tersebut tidak dapat aku kendalikan, sehingga dia berjalan mendahului rombongan. Lalu ‘Umar menghalaunya dan membawanya ke belakang, kemudian dia maju lagi, ‘Umar kembali menghalau dan menariknya ke belakang. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Umar, “Juallah dia kepadaku.” ‘Umar berkata, “Dia menjadi milikmu wahai Rasulullah,” Beliau bersabda, “Juallah dia kepadaku.” Maka akhirnya ‘Umar menjualnya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dia menjadi milikmu wahai ‘Abdullah bin ‘Umar. Engkau dapat memperlakukannya sesukamu.” [Shahih Al-Bukhariyy, no. 2610]
Jabir bin ‘Abdullah turut serta mengunggah kenangan manis dengan Sang CEO,
وعن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ كَانَ يَسِيرُ عَلَى جَمَلٍ لَهُ قَدْ أَعْيَا فَأَرَادَ أَنْ يُسَيِّبَهُ قَالَ : فَلَحِقَنِى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَدَعَا لِي وَضَرَبَهُ فَسَارَ سَيْرا لَمْ يَسِرْ مِثْلَهُ قَالَ : ( بِعْنِيهِ بِوُقِيَّةٍ ) قُلْتُ : لاَ ، ثُمَّ قَالَ : ( بِعْنِيهِ ) ، فَبِعْتُهُ بِوُقِيَّةٍ وَاسْتَثْنَيْتُ عَلَيْهِ حُمْلاَنَهُ إِلَى أَهْلِي فَلَمَّا بَلَغْتُ أَتَيْتُهُ بِالْجَمَلِ فَنَقَدَنِي ثَمَنَهُ ثُمَّ رَجَعْتُ فَأَرْسَلَ فِي أَثَرِى فَقَالَ : ( أَتُرَانِي مَاكَسْتُكَ لآخُذَ جَمَلَكَ خُذْ جَمَلَكَ وَدَرَاهِمَكَ فَهُوَ لَكَ )
Dari Jabir bin Abdullah dia berjalan di atas seekor onta yang sudah letih, maka dia hendak melepasnya. Dia berkata, “Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyusulnya, kemudian beliau mendoakannya untukku dan kemudian memukul onta tersebut, maka onta tersebut kembali gagah melebihi sebelumnya. Kemudian beliau berkata, “Juallah dia kepadaku seharga satu uqiyah.” Aku berkata, “Tidak.” Lalu beliau berkata lagi, “Juallah dia kepadaku.” Maka aku menjualnya dengan satu uqiyah dan aku memberikan syarat agar aku diantar ke keluargaku. Ketika aku telah tiba, maka aku membawa onta kepada beliau. Lalu beliau memberikan uangnya. Kemudian aku kembali, lalu beliau mengutus seseorang untuk menyusulku. (maka aku kembali kepada beliau), lalu beliau berkata, “Apakah kamu kira aku menawarmu untuk mengambil ontamu? Ambillah ontamu, sedangkan dirhammu adalah milikmu.” [Shahih Al-Bukhariyy, no. 1991; Shahih Muslim, no. 710]
Sang CEO tidak hanya gemar berbagi tapi juga bagus dalam melunasi pinjaman modal bisnis. Banyak CEO yang berbagi demi pencitraan namun gunung piutangnya tidak dilunasi walau dengan mencicil dengan alasan ini dan itu. Rasulullah sebagai CEO sangat ihsan (bagus) dalam melunasi utang dan tidak termasuk riba.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِي صلى الله عليه وسلم سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ : ( أَعْطُوهُ ) ، فَطَلَبُوا سِنَّهُ فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلاَّ سِنًّا فَوْقَهَا ، فَقَالَ ( أَعْطُوهُ ) ، فَقَالَ : أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ ، قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : ( إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً ).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki hutang kepada seseorang dalam bentuk anak onta. Lalu dia datang hendak menagih. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda (kepada pegawainya), “Lunasilah.” Lalu mereka mencari anak onta yang seusia itu, namun tidak mereka temukan kecuali yang usianya lebih besar. Maka beliau bersabda, “Berikan.” Maka orang itu berkata, “Engkau telah memenuhi hakku, semoga Allah membalas kebaikanmu.” Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang baik dalam melunasi.” [Shahih Al-Bukhariyy, no. 2182; Shahih Muslim, no. 1601]
Rasulullah Sang CEO. Beliau manusia kaya harta dan jiwa. Beliau bukan orang miskin apalagi faqir. Hadits-hadits yang kita baca tadi hanya sepotong dari agenda-agenda profesional Rasulullah sekalipun sudah sibuk dalam kerja-kerja dakwah. Kita belum ‘menguliti’ hadits-hadits etis dalam hukum-hukum jual-beli yang mengindikasikan model bisnis Rasulullah sebagai teladan bagi para CEO. Misalnya, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَلَقَّوْا الرُّكْبَانَ لِلْبَيْعِ وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ وَلَا تُصَرُّوا الْإِبِلَ وَالْغَنَمَ فَمَنْ ابْتَاعَهَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ بَعْدَ أَنْ يَحْلُبَهَا إِنْ رَضِيَهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ سَخِطَهَا رَدَّهَا وَصَاعًا مِنْ تَمْرٍ
"Janganlah kalian mencegat pedagang sebelum sampai di pasar. Janganlah kalian menjual barang yang sedang ditawar orang lain. Janganlah kalian bersaing dalam menawar. Janganlah orang kota tidak menjual barang kepada orang dusun. Janganlah kalian menahan air susu unta dan kambing dalam kantungnya (hingga tampak besar saat dijual) .. Barangsiapa terlanjur membelinya dan memerahnya maka dia mempunyai dua pilihan: jika dia ridla ia boleh menahannya, jika tidak ia boleh mengembalikannya dengan menyertakan satu sha' kurma." [Al-Muwaththa` no. 1189]
Kita bisa ambil pelajaran dari hadits-hadits etis untuk kita jadikan sebagai pedoman menjadi CEO. Rasulullah tidak akan bisa melontarkan aturan-aturan bisnis kecuali turut terjun dan menggeluti bisnis sekalipun beliau dibekali Wahyu. Artinya, Rasulullah tetap menjadi CEO hingga menjelang wafat. Ke-CEO-an Rasulullah bukan sebatas afirmasi kita atas dasar iman melainkan faktualitas historis.


Post a Comment