Nabi Sang CEO dalam Catatan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Kita simak rangkuman sejarah Rasulullah sebagai CEO oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam salah satu korpusnya yang sangat disukai Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin ‘Alawiyy Al-Malikiyy Al-Hasaniyy Al-Makkiyy, yakni Zad Al-Ma’ad fi Hady Khair Al-’Ibad,
Rasulullah menjual dan membeli. Aktivitas membeli beliau setelah Allah Ta‘ālā memuliakannya dengan risalah lebih banyak daripada aktivitas menjualnya. Demikian pula setelah hijrah, hampir tidak ada riwayat yang valid tentang beliau melakukan jual beli kecuali dalam beberapa perkara kecil, dan kebanyakannya dilakukan untuk kepentingan orang lain, seperti penjualan mangkuk dan alas pelana melalui sistem lelang kepada siapa yang menambah harga, penjualan budak mudabbar milik Abu Madzkur, serta penjualan seorang budak hitam dengan ditukar dua budak.
Adapun pembelian beliau sangat banyak. Beliau juga menyewakan dan menyewa, namun aktivitas menyewa lebih banyak daripada menyewakan. Informasi yang valid dari beliau hanyalah bahwa beliau pernah menyewakan dirinya sebelum kenabian dalam menggembala kambing, dan beliau juga menyewakan dirinya kepada Khadijah dalam perjalanan membawa harta miliknya ke Syam, meskipun akad itu bisa jadi berupa mudharabah. Dalam akad mudharabah, pengelola modal berkedudukan sebagai orang terpercaya, pekerja, wakil, dan sekutu: ia menjadi orang terpercaya ketika menerima modal, wakil ketika mengelola harta, pekerja dalam pekerjaan yang dikerjakannya sendiri, dan sekutu apabila telah tampak keuntungan.
Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak dari hadits Ar-Rabi‘ bin Badr, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir yang berkata, “Rasulullah menyewakan dirinya kepada Khadijah binti Khuwailid dalam dua perjalanan ke Jurasy, setiap perjalanan dibayar seekor unta muda,” dan ia berkata bahwa sanadnya shahih. Dalam An-Nihayah disebutkan bahwa Jurasy dengan dhammah pada jim dan fathah pada ra termasuk wilayah Yaman, sedangkan dengan fathah pada keduanya adalah sebuah negeri di Syam. Penulis berkata, jika hadits ini sahih maka yang dimaksud adalah negeri yang berharakat fathah di Syam, namun hadits tersebut tidak shahih karena Ar-Rabi‘ bin Badr ini adalah ‘Ulailah yang telah dilemahkan para imam hadits; An-Nasa`iyy, Ad-Daraquthniyy, dan Al-Azdiyy mengatakan bahwa ia matruk, dan seakan-akan Al-Hakim mengiranya Ar-Rabi‘ bin Badr maula Thalhah bin ‘Ubaidillah.
Rasulullah juga pernah bermitra dagang. Ketika mitra beliau datang, beliau bersabda, “Apakah engkau tidak mengenalku? Bukankah dahulu engkau adalah mitraku? Maka engkau adalah sebaik-baik mitra, engkau tidak menunda hak dan tidak pula berbantah-bantahan.” Lafazh تُدَارِئُ dengan hamzah berasal dari mudara`ah, yaitu menolak hak, sedangkan bila hamzahnya ditinggalkan maka berasal dari mudarah, yaitu menolak dengan cara yang lebih baik. Beliau juga pernah mewakilkan dan diwakili, dan aktivitas mewakilkan beliau lebih banyak daripada diwakili.
Beliau memberi hadiah, menerima hadiah, dan membalasnya; beliau memberi hibah dan menerima hibah. Beliau pernah bersabda kepada Salamah bin Al-Akwa‘ ketika ia memperoleh seorang budak perempuan dalam bagiannya, “Berikanlah ia kepadaku sebagai hibah,” lalu Salamah memberikannya, kemudian beliau menjadikannya sebagai tebusan untuk membebaskan tawanan kaum Muslimin dari penduduk Makkah. Beliau juga pernah berutang dengan jaminan dan tanpa jaminan, meminjam barang, serta membeli dengan pembayaran tunai maupun tempo.
Beliau memberikan jaminan khusus dari Rabb-nya atas beberapa amalan; siapa yang mengerjakannya maka dijamin baginya Surga, dan juga memberikan jaminan umum atas utang kaum Muslimin yang wafat tanpa meninggalkan pelunasan, bahwa utang tersebut menjadi tanggungannya dan beliau yang melunasinya. Ada yang berpendapat bahwa hukum ini berlaku umum bagi para imam setelah beliau, sehingga penguasa menanggung utang kaum Muslimin apabila mereka tidak meninggalkan harta pelunasan, lalu penguasa melunasinya dari Baitul Mal. Mereka berkata, sebagaimana penguasa mewarisi hartanya ketika seseorang meninggal tanpa ahli waris, demikian pula ia melunasi utangnya jika ia meninggal tanpa pelunasan, dan demikian pula menafkahinya semasa hidup apabila tidak ada orang yang menanggung nafkahnya. Rasulullah ﷺ juga mewakafkan sebidang tanah miliknya dan menjadikannya shadaqah di jalan Allah, menerima permohonan syafaat (pertolongan) dan memberi syafaat. [Zad Al-Ma’ad fi Hady Khair Al-’Ibad]




Post a Comment