Non Muslim Perlu Menghafal Asmaul Husna | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Non-muslim juga perlu menghafal lafazh Asmaul Husna beserta maknanya untuk menjadi pedoman beretika, dan bahwa walaupun mereka tidak mau mengakui Allah Sang Pemilik Asmaul Husna sebagai tuhan mereka namun Allah tetap mengapresiasi i'tikad baik non-muslim dalam ber-Asmaul Husna, namun apresiasi Allah untuk non-muslim hanya di dunia, tidak di Akhirat. Namun non-muslim tidak perlu menjiplak atau memplagiasi Asmaul Husna untuk dijadikan label atau predikat bagi tuhan-tuhan mereka. Biarlah Asmaul Husna milik Allah dan biarlah tuhan-tuhan selain Allah tidak punya nama-nama lain yang indah seperti Allah. Toh tidak ada jeleknya bila non-muslim mengambil ide-ide Asmaul Husna sebagai tambahan atas doktrin agama mereka masing-masing.
Menghafal lafazh Asmaul Husna beserta maknanya pada dasarnya bukan hanya aktivitas ritual, tetapi juga latihan intelektual dan moral. Setiap nama Allah mengandung nilai universal seperti keadilan (Al-‘Adl), kasih sayang (Ar-Rahman), kejujuran (Al-Haqq), dan kebijaksanaan (Al-Hakim). Nilai-nilai ini tidak eksklusif bagi satu kelompok (yakni muslim saja), melainkan relevan bagi siapa pun yang ingin membangun etika pribadi dan sosial yang kuat, sekalipun ateis dan agnostik. Dalam perspektif rasional, seseorang tidak harus terlebih dahulu meyakini aspek teologisnya untuk bisa mengambil manfaat moral dari konsep-konsep tersebut—sebagaimana banyak filsafat etika dunia juga diadopsi lintas keyakinan.
Non-muslim dapat memanfaatkan Asmaul Husna sebagai kerangka refleksi diri: bagaimana menjadi pribadi yang lebih adil, lebih sabar, lebih bertanggung jawab, dan lebih penuh empati. Menghafal dan memahami nama-nama tersebut bisa berfungsi seperti “kamus nilai” yang konkret dan aplikatif. Bahkan dalam kehidupan sosial modern—di dunia kerja, pendidikan, maupun relasi antarindividu—nilai-nilai tersebut terbukti selaras dengan prinsip etika universal yang diakui luas, seperti integritas, profesionalisme, dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam teologi Islam, Allah Maha Mengetahui niat dan usaha setiap manusia. I’tikad baik non-muslim dalam mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Asmaul Husna tetap memiliki konsekuensi positif, terutama dalam bentuk kebaikan, ketenangan batin, dan keberkahan di kehidupan dunia. Namun, ajaran Islam juga membedakan antara manfaat duniawi dan balasan ukhrawi. Tanpa keimanan kepada Allah sebagai Tuhan, apresiasi Allah kepada pengamal Asmaul Husna dari kalangan non-muslim tidak berlanjut menjadi ganjaran di akhirat.
Kita sepakat bahwa kebaikan pasti berbuah kebaikan dan sebaliknya. Asmaul Husna merupakan kebaikan dan kebenaran universal. Dikatakan oleh Baba Alun alias Yusuf Hamka dalam podcast Deddy Corbuzier bahwa kebenaran tidak pernah salah meskipun bisa kalah. Terserahlah non-muslim menganggap tuhan mereka lebih unggul daripada Allah. Asmaul Husna sebagai kebenaran universal tidak pernah salah maupun kalah.



Post a Comment