Bahaya Akal Tanpa Wahyu dalam Mencerna Pengalaman Aneh Para Nabi | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Kitab-kitab Sirah Nabawiyyah sering kali dibaca hanya sebagai kumpulan kisah teladan, padahal di dalamnya tersimpan persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana akal manusia memahami figur kenabian yang memiliki dimensi istimewa di luar pengalaman umum. Banyak orang terjebak pada sikap skeptis ketika berhadapan dengan pembahasan khasha`ish, yakni karakteristik khusus yang Allah anugerahkan kepada Rasulullah ï·º dan para nabi lainnya. Keistimewaan-keistimewaan ini kerap dianggap sulit diterima secara rasional karena diukur dengan standar pengalaman manusia biasa, sehingga lahirlah apatisme intelektual—enggan belajar lebih jauh hanya karena sejak awal merasa “ini tidak masuk akal”.
Di titik inilah urgensi mempelajari aksiomatika tentang khasha`ish menjadi sangat penting. Sebagaimana ilmu matematika dibangun dari premis-premis dasar yang diterima agar sebuah sistem logis dapat berdiri, demikian pula memahami kenabian menuntut fondasi epistemologis yang benar. Jika seseorang memulai dengan asumsi bahwa nabi harus identik sepenuhnya dengan manusia awam, maka seluruh pembahasan tentang mukjizat, kemaksuman, atau hak-hak khusus para nabi akan tampak janggal. Padahal, justru status mereka sebagai utusan Tuhan mengandaikan adanya diferensiasi ontologis dan fungsional yang rasional untuk dipelajari.
Kitab Asy-Syifa bi Ta‘rif Huquq al-Mushthafa karya Al-Qadhi ‘Iyadh hadir sebagai jawaban atas kebingungan tersebut. Karya monumental ini tidak hanya menampilkan kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah ï·º, tetapi juga menyusun argumentasi naratif dan logis mengenai hakikat kemuliaan beliau, kedudukan kenabian, serta batas-batas adab intelektual dalam memahami pribadi para rasul. Banyak kejanggalan yang sering diproduksi oleh “otak modern” — mulai dari pertanyaan tentang keistimewaan jasmani, spiritual, hingga hukum-hukum khusus Nabi — dijawab dengan kerangka ilmiah yang runtut, berbasis hadis, atsar, ijma’, dan analisis ulama.
Mempelajari Kitab Asy-Syifa bukan sekadar membaca sejarah atau memperkaya wawasan keislaman, melainkan membangun ulang cara berpikir agar akal tidak memberontak terhadap hal-hal yang memang berada di atas horizon pengalaman biasa. Kitab ini sangat relevan bagi siapa pun yang ingin keluar dari jebakan skeptisisme dangkal menuju pemahaman yang lebih matang tentang kepribadian Rasulullah ï·º dan para nabi. Di tengah zaman yang gemar mempertanyakan segala hal tanpa fondasi, Asy-Syifa adalah panduan intelektual sekaligus spiritual untuk menempatkan akal pada proporsinya yang sehat.



Post a Comment