Bayan Gus Mahmud Al-Hasan Temboro untuk Rihlah Dakwah Jawa Timur Kutip Kitab Asy-Syifa | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Gus Mahmud bin K. H. Umar Fathullah memberikan bayan kepada rombongan Rihlah Dakwah Jawa Timur. Pada 10 Mei 2026, 32 orang peserta dari Lamongan, Kediri, Gresik dan Magetan menyimak paparan salah satu putra mahkota Pondok Temboro di pendopo sebelah kanan Al-Masjid Indoor. Komunitas pejuang baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafurun ini datang dengan tujuan studi tiru manajemen umat dan dakwah.
Gus Mahmud menyatakan bahwa Temboro ini terbuka untuk umat sehingga siapa saja yang ingin bekerja sama untuk dakwah pasti diterima. Beliau menceritakan bahwasanya Bapak Anies Rasyid Baswedan, Ph.D. menghadiri pernikahan beliau sekira satu tahun lalu.
Setelah muqaddimah, sambutan dan permohonan maaf serta ucapan terima kasih, salah satu putra mahkota Pondok Temboro ini memberikan bayan, "Nanti setelah ini Bapak-Ibu akan ke galeri museum yang di dalamnya ada benda-benda yang diduga kuat peninggalan Rasulullah dan juga replika. Replika itu sangat bernilai. Para pecinta anime saja rela jauh-jauh ke Jepang cuma buat nonton replika Doraeman. Padahal Doraemon itu sendiri tidak ada aslinya. Apalagi kita nanti mau melihat replika peninggalan Rasul dan orang-orang shalih."
Gus Mahmud Al-Hasan menyitir catatan sejarah dalam Kitab Asy-Syifa karya Al-Qadhi 'Iyadh,
وَكَانَتْ شَعَرَاتٌ مِنْ شَعْرِهِ فِي قَلَنْسُوَةِ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ ، فَلَمْ يَشْهَدْ بِهَا قِتَالًا إِلَّا رُزِقَ النَّصْرَ .
"Dan beberapa helai rambut Nabi ada di dalam peci Khalid bin Al-Walid, maka tidaklah ia mengikuti peperangan dengan membawa rambut Nabi tersebut melainkan selalu diberi kemenangan."
Menantu K. H. Ubaidillah Ahror ini mensyarahi, "Padahal pecinya sudah kumel dan usang sekali. Ini bukan pecinya tapi di dalam pecinya ada rambut Nabi. Demikianlah para shahabat Nabi; mereka menjaga warisan Nabi berupa amalan dan benda-benda. Mu'awiyah membeli selendang Nabi, ada yang menjaga darah Nabi, dan lain-lain. Sejak zaman dulu, orang-orang hebat menyimpan perkara-perkara seperti ini. Dengan izin Allah, melalui perkara-perkara ini, Allah datangkan keberkahan. Orang Jawa saja, keris dianggap kondang (digdaya). Gaman (pisau) ini dan itu, dicuci ini dan itu, padahal tidak jelas punya siapa. Adapun ini (yang ada di museum nanti) miliknya sebagian shahabat Nabi dan miliknya Nabi juga."
Gus Mahmud menutup dengan doa dan kemudian mempersilakan rombongan untuk menikmati hidangan dari khidmah santri. Sebakda makan siang dengan soto khas Magetan, rombongan kemudian bergeser menuju Galeri Joko Tingkir Trangkil untuk melihat peninggalan-peninggalan Nabi dan para shahabat serta para wali. Peserta Rihlah Dakwah Jawa Timur dalam program Yuk Sekolah Ke Magetan ini merasakan nuansa spiritual yang kuat dan mayoritas meneteskan air mata saat melihat benda-benda warisan Nabi di museum Temboro ini.





Post a Comment