Asmaul Husna Sering Diperalat Sesuai Selera Pemabok Agama | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Karl Max berkata, “Agama hanyalah obat penenang dosis tinggi bagi mereka yang gagal.” Agama sering diperalat oleh pihak yang merasa terzhalimi untuk meneror pihak lain. Allah ‘diperkosa’ oleh pemabok agama sebagai selalu ada di pihaknya bukan di pihak lawan. Penikung spiritual seperti ini kadang kala memfabrikasi quote religi sebagai legitimasi kubu lain pasti salah, “Menyakiti perasaan seorang mu`min sama dengan menghancurkan Ka'bah tujuh puluh kali.”
Asmaul Husna pun bernasib mengenaskan di pikiran pemeluk pseudo-agama ini. Setiap kali memvonis individu lain sebagai pelaku kezhaliman maka Asmaul Husna yang diingat hanya Al-Jabbar, Al-Qahhar, Al-Khafidh, Al-Mudzill, Al-Mumit, Al-Muntaqim, Al-Mani’, dan Adh-Dharr. Pelaku playing victim memanipulasi Allah sebagai Tuhan yang tidak lagi Ar-Rahman, Ar-Ra`uf, Al-Halim, dan lain-lain kepada siapa saja yang dianggapnya tidak baik sesuai seleranya.
Penjambret Islam harusnya berlaku fair. Kenapa hanya menghiperbolik dosa. Mestinya juga menghiperbolik pahala. Hanya karena merasa tersakiti lalu memastikan orang yang menyakiti sebagai lebih banyak dosanya daripada menghancurkan Ka’bah tujuh puluh kali. Padahal orang yang menyakiti bisa jadi punya amal-amal shalih. Kenapa seakan-akan orang yang menyakiti kita tidak punya kebaikan dan hanya punya keburukan?
Kita sama-sama ber’aqidah bahwa Allah melipat gandakan pahala kebaikan seorang mu`min tanpa batas sesuai kehendak Allah, bukan sekadar tujuh puluh kali. Daripada ber-cosplay sebagai Tuhan untuk menghakimi manusia lain yang kita anggap meyakiti kita padahal belum tentu dan bisa jadi karena kita saja yang baperan (sering bawa perasaan) alias mudah tersinggung. Lebih baik kita cukup berdoa saja meminta Allah membalasnya setimpal.
Berdoa buruk untuk orang yang kita yakini buruk relatif aman daripada kita menjustifikasi negatif. Tentu idealnya adalah kita membalas dengan kebaikan lalu mendoakan kebaikan. Hanya saja, namanya manusia, Allah membekali dengan perasaan, padahal perasaan itu abstrak, tidak ada wujud fisiknya. Cukup berdoa buruk, jangan memvonis orang yang tidak kita sukai pasti dimurkai Allah dan kita pasti disayang Allah. Vonis kekanak-kanakan!
Penulis (Brilly El-Rasheed) punya pengalaman menggelikan. Penulis siang-siang mendampingi ibunda sebagai pemateri kelas masak offline di komunitas ibu-ibu dengan kostum kebaya. Ibu pemberi sambutan curcol tapi dengan bahasa sindiran, “Wanita itu disayang Allah, makanya jangan sekali-kali menyakiti perasaan wanita, nanti rizqinya seret.” Penulis yang saat itu laki-laki sendirian menepuk jidat dan bergumam, “Lha dhalah, apa kabar wanita yang menyakiti perasaan laki-laki?”
Katakan bahwa menyakiti perasaan itu dosanya lebih besar dari menghancurkan Ka’bah tujuh puluh kali, maka kita juga harus fair bahwa menggembirakan perasan itu pahalanya lebih besar dari membangun ulang Ka’bah tujuh puluh ribu kali. Hadits-hadits qudsi shahih semuanya selalu merekam bahwa Allah melipat gandakan kebaikan 700 kali lipat hingga tak terbatas dan membalas 1 keburukan dengan 1 keburukan saja. Orang yang kita anggap menyakiti kita, itupun hanya 1 kali, jangan-jangan sudah banyak berjasa untuk kehidupan kita? Hayo!




Post a Comment