Surah At-Takatsur dan Al-Humazah Menyimpan 'Kode' Bahwa Nabi itu Kaya Raya | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Surah At-Takatsur dan Al-Humazah sekali lagi adalah dua surah pengingat untuk kaum jetset, borjuis, hedonis agar mengalokasikan kekayaan untuk kepentingan Akhirat dan Agama Islam bukan untuk sibuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier diri sendiri. Penulis tersadar, kedua surah tersebut sampai turun, berarti konteks sosial pada saat itu banyak orang-orang kaya. Tidak mungkin kedua surah tersebut turun sementara umat Nabi Muhammad seluruhnya miskin. Justru kedua surah tersebut mengindikasikan bangsa Arab yang notebene hidup di padang pasir adalah kalangan konglomerat. Tidak hanya itu, kedua surah tersebut juga menyimpan ‘kode’ bahwa Rasulullah juga tergolong berstrata ekonomi kelas atas. Logikanya, kalau Rasulullah harus mensosialisasikan kedua surah tersebut dalam posisi beliau miskin tentu akan ada komentar publik, “Halah, kau mengingatkan kami dengan dua surah tersebut tidak lain karena kau butuh harta kami dan agar kami lebih rendah jumlah kekayaannya darimu.” Faktanya, Rasulullah tidak pernah mengambil harta orang-orang kafir kaya kecuali berstatus ghanimah dan semacamnya dan harta orang-orang Islam kaya kecuali untuk didistribusikan kepada kalangan menengah ke bawah hingga di bawah garis kemiskinan.
Ternyata benar, ada hadits yang mencatat, semua Nabi pasca Nabi Luth pasti dari kalangan orang-orang terpandang. Keterpandangan seseorang di mata dunia tidak lain pasti karena kepemilikan harta yang banyak. Al-Qadhi ‘Iyadh mencatat,
وَفِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنْهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - : مَا بَعَثَ اللَّهُ - تَعَالَى - مِنْ بَعْدِ لُوطٍ نَبِيًّا إِلَّا فِي ذُرْوَةٍ مِنْ قَوْمِهِ . وَيُرْوَى : فِي ثَرْوَةِ ، أَيْ كَثْرَةٍ ، وَمَنَعَةٍ .
Dalam hadits Abu Hurairah – semoga Allah meridhainya – dari Nabi, “Tidaklah Allah mengutus nabi setelah Luth kecuali dari kalangan terpandang di kaumnya.” Dan ada yang meriwayatkan, “dari kalangan kaya dan kuat.”
Para sejarawan Islam mencatat bagaimana Rasulullah memanfaatkan kekayaan yang dimilikinya untuk menundukkan orang-orang nonmuslim agar masuk Islam. Kalau Rasulullah bukan konglomerat, pasti tidak akan berselera untuk mempublikasikan Islam dengan banyak berbagi harta. Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan,
وَمِثْلُ هَذَا عَلَى هَذَا الْوَجْهِ قَدْ خَرَجَ مِنْ حَدِّ مُدَارَاةِ الدُّنْيَا إِلَى السِّيَاسَةِ الدِّينِيَّةِ . وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ يَسْتَأْلِفُهُمْ بِأَمْوَالِ اللَّهِ الْعَرِيضَةِ فَكَيْفَ بِالْكَلِمَةِ اللَّيِّنَةِ ؟ . قَالَ صَفْوَانُ : لَقَدْ أَعْطَانِي ، وَهُوَ أَبْغَضُ الْخَلْقِ إِلَيَّ ، فَمَا زَالَ يُعْطِينِي حَتَّى صَارَ أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَيَّ .
dan semisal ini pada sisi ini telah keluar dari batas pergaulan dunia menuju politik agama, dan sungguh Nabi menarik simpati mereka dengan harta Allah yang luas, maka bagaimana lagi dengan perkataan yang lembut? Shafwan berkata, “Sungguh beliau memberiku padahal beliau adalah makhluq yang paling aku benci, maka senantiasa beliau memberiku hingga beliau menjadi makhluq yang paling aku cintai”,



Post a Comment