Shadaqah Jum'at Barakah (Sedekah Jumat Berkah) itu Sunnah Nabi dan Para Salaf | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Shadaqah Jum’at Barakah (Sedekah Jumat Berkah) menjadi tradisi baik umat Islam Indonesia. Berbagi hidangan pasca pemakaman untuk para tamu yang berta’ziyah menjadi tradisi baik umat Islam Arab Saudi. Setiap Hari Raya Idul-Fithri, banyak syaikh Saudi yang open house dan berbagi uang atau cokelat untuk anak-anak. Setiap menjelang Ramadhan, banyak muslim pribumi yang berbagi besek/berkat berisi makanan siap santap. Demikianlah diantara bentuk mengamalkan ajaran Islam berupa shadaqah. Shadaqah tidak harus berupa secuil kurma.
Imam Asy-Syafi’iyy mengatakan;
بَلَغَنَا عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَإِنِّي أُبَلَّغُ وَأَسْمَعُ قَالَ وَيُضَعَّفُ فِيهِ الصَّدَقَةُ
“Aku mendengar dari ‘Abdillah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari Jumat sesungguhnya shalawat itu tersampaikan dan aku mendengarnya.” Nabi juga bersabda, “Pada hari itu (Jum’at) pahala bershadaqah dilipatgandakan.” [Al-Umm, 1/239]
Senada, disebutkan dalam Tuhfah Al-Habib ‘ala Syarh Al-Khatib tentang hari Jum’at, “Disunnahkan memperbanyak shadaqah dan berbuat kebaikan di siang dan malam hari Jum’at. Juga disunnahkan memperbanyak shalat atas Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di siang dan malam harinya berdasarkan khabar,
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ
"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum'at, karena shalawat akan disampaikan kepadaku”." Disebutkan dalam hadits Ka’ab,
والصدقة فيه أعظم من الصدقة في سائر الأيام
“Shadaqah di dalamnya lebih besar pahalanya daripada semua hari.” [Mushannaf ‘Abdurrazzaq no 5558, hadits mauquf shahih dan memiliki hukum marfu’]
Tekstual hadits menjadi dalil disyari’atkannya dan disunnahkannya mengkhususkan shadaqah pada hari Jum’at. Sungguh absurd mereka yang mengklaim tidak ada dalil mengkhususkan shadaqah pada hari Jum’at bahkan memvonis bid’ah dhalalah munkarah sayyi`ah. Jika tidak tahu dalil maka jangan katakan tidak ada dalil.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa perbandingan shadaqah di hari Jumat dan shadaqah di hari lainnya sama seperti perbandingan shadaqah di bulan Ramadhan dengan bulan-bulan lainnya,
الخامسة والعشرون: أن للصدقة فيه مزية عليها في سائر الأيام، والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع ، كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور. وشاهدت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه، إذا خرج إلى الجمعة يأخذ ما وجد في البيت من خبز أو غيره، فيتصدق به في طريقه سرا، وسمعته يقول: إذا كان الله قد أمرنا بالصدقة بين يدي مناجاة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فالصدقة بين يدي مناجاته تعالى أفضل وأولى بالفضيلة
“Keutamaan yang keduapuluh lima, Bahwa shadaqah pada hari jumat memiliki keistimewaan khusus dibandingkan hari yang lain. Shadaqah pada hari jumat, dibandingkan dengan shadaqah pada hari yang lain, seperti perbandingan antara shadaqah pada bulan Ramadhan dengan shadaqah di selain Ramadhan. Saya pernah melihat Syaikhul Islam apabila beliau berangkat Jum’atan, beliau membawa apa yang ada di rumah, baik roti atau yang lainnya, dan beliau shadaqahkan kepada orang di jalan diam-diam. Saya pernah mendengar beliau mengatakan, “Apabila Allah memerintahkan kita untk bershadaqah sebelum menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bershadaqah sebelum menghadap Allah lebih afdhal dan lebih besar keutamaannya.” [Zad Al-Ma’ad, 1/407]
Masih ada dalil lain,
5558 عَبْدُ الرَّزَّاقِ ، عَنِ الثَّوْرِيِّ ، عَنْ مَنْصُورٍ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : اجْتَمَعَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَكَعْبٌ ، فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ : " إِنَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى فِيهَا خَيْرًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ " . فَقَالَ كَعْبٌ : أَلَا أُحَدِّثُكَ عَنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ ؟ فَقَالَ كَعْبٌ : " إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فَزِعَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْبَرُّ وَالْبَحْرُ ، وَالشَّجَرُ [ ص: 256 ] وَالثَّرَى ، وَالْمَاءُ وَالْخَلَائِقُ ، كُلُّهَا إِلَّا ابْنَ آدَمَ وَالشَّيْطَانَ " قَالَ : " وَتَحُفُّ الْمَلَائِكَةُ بِأَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَيَكْتُبُونَ مَنْ جَاءَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ ، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ طَوَوْا صُحُفَهُمْ ، فَمَنْ جَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ جَاءَ بِحَقِّ اللَّهِ ، وَلِمَا كُتِبَ عَلَيْهِ ، وَحَقٌّ عَلَى كُلِّ رَجُلٍ حَالِمٍ يَغْتَسِلُ فِيهِ كَغُسْلِهِ مِنَ الْجَنَابَةِ ، وَلَمْ تَطْلَعِ الشَّمْسُ وَلَمْ تَغْرُبْ مِنْ يَوْمٍ أَعْظَمَ مِنَ يَوْمِ الْجُمُعَةِ ، وَالصَّدَقَةُ فِيهِ أَعْظَمُ مِنْ سَائِرِ الْأَيَّامِ " . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : هَذَا حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ ، وَكَعْبٍ وَأَرَى أَنَا إِنْ كَانَ لِأَهْلِهِ طِيبٌ أَنْ يَمَسَّ مِنْهُ يَوْمَئِذٍ " .
Telah diriwayatkan oleh Imam ‘Abdurrazzaq Ash-Shan’aniyy dari Imam Sufyan Ats-Tsauriyy, dari Manshur, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Abu Hurairah dan Ka’b pernah berkumpul. Lalu Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim bertepatan dengannya dalam keadaan memohon kebaikan kepada Allah Ta’ala melainkan Dia akan mendatangkan kebaikan itu kepadanya.” Maka Ka’b Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Maukah engkau aku beritahu kepadamu tentang hari Jum’at? Jika hari Jum’at tiba, maka langit, bumi, daratan, lautan, pohon, lembah, air, dan makhluk secara keseluruhan akan panik, kecuali anak Adam (umat manusia) dan syaithan. Dan para Malaikat berkeliling mengitari pintu-pintu masjid untuk mencatat orang-orang yang datang berurutan. Dan jika khatib telah naik mimbar, maka mereka pun menutup buku lembaran-lembaran mereka. Dan merupakan kewajiban bagi setiap orang yang sudah baligh untuk mandi seperti mandi janabah. Dan tidak ada matahari yang terbit dan terbenam pada suatu hari yang lebih afdhal dari hari Jum’at, dan shadaqah pada hari itu lebih agung daripada hari-hari lainnya.”
Berkumpulnya sejumlah banyak orang mengantri untuk mendapatkan sedekah Jum’at berkah tidak bisa divonis sebagai bid’ah maupun kemunkaran. Shadaqah makan siang pada hari Jum’at juga pernah ada pada zaman Nabi, dan para penerimanya juga mengantri. Mengantri untuk menjadi penerima sedekah Jum’at berkah bukan keburukan. Keburukan adalah peminta-minta. Penerima beda dengan peminta-minta. Ada pemberi pasti ada penerima. Kalau tidak ada yang mau menjadi penerima, tidak ada yang bisa menjadi pemberi. Disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari Abu Hazim, dari Sahl Radhiyallahu 'Anhu berkata,
قَالَ كُنَّا نَفْرَحُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قُلْتُ وَلِمَ قَالَ كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ تُرْسِلُ إِلَى بُضَاعَةَ قَالَ ابْنُ مَسْلَمَةَ نَخْلٍ بِالْمَدِينَةِ فَتَأْخُذُ مِنْ أُصُولِ السِّلْقِ فَتَطْرَحُهُ فِي قِدْرٍ وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ فَإِذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ انْصَرَفْنَا وَنُسَلِّمُ عَلَيْهَا فَتُقَدِّمُهُ إِلَيْنَا فَنَفْرَحُ مِنْ أَجْلِهِ وَمَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ
“Kami sangat gembira bila tiba hari Jum’at.” Saya (Abu Hazim) bertanya kepada Sahal: “Mengapa demikian?” Jawabnya, “Ada seorang nenek tua yang pergi ke Budha’ah -sebuah kebun di Madinah- untuk mengambil ubi dan memasaknya di sebuah periuk dan juga membuat adonan dari biji gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at, kami pergi dan mengucapkan salam padanya lalu dia akan menyuguhkan (makanan tersebut) untuk kami. Itulah sebabnya kami sangat gembira. Tidaklah kami tidur siang dan makan siang kecuali setelah Jum’at.” [Shahih Al-Bukhariyy dan Muslim]
Perihal dalil dari Nabi Muhammad berisi larangan mengkhususkan malam Jum’at dengan qiyamul-lail dan puasa hari Jum’at serta majelis ilmu menjelang pelaksanaan Jum’atan, larangan tersebut spesifik disebut Nabi. Tiga dalil tersebut tidak bisa dijadian dasar qiyas larangan shadaqah Jum’at barakah karena faktanya ada dalil yang menganjurkan. Sejujurnya, mereka yang melarang sedekah Jumat berkah berangkat dari semangat berbeda dengan ahli bid’ah dengan premis bahwa semua yang berbeda dengan mereka pasti ahli bid’ah.
Shadaqah Jum’at Barakah (Sedekah Jumat Berkah) merupakan Sunnah Rasulullah dan para Salaf. Tidak semestinya menjustifikasinya sebagai muhdatsah mengingat ada dalil spesifik. Demikian halnya jika diyakini sedekah Jumat berkah harus berupa makanan maka ini bid’ah, karena tidak ada dalil yang mengkhususkan harus makanan. Dengan ini, kita mesti membiasakan diri untuk bershadaqah. Penulis ingat, sejak kecil, dibiasakan oleh kedua orang tua untuk berangkat ke Jum’atan sembari mengantongi uang dua ribu rupiah atau lima ribu rupiah atau berapapun untuk dimasukkan ke kencleng Masjid. Dikatakan, tradisi tersebut sejak kakek-nenek dahulu kala.




Post a Comment