Keuntungan Bervariasinya Asmaul Husna | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Allah memiliki Asmaul Husna dalam jumlah tidak terbatas. Ketidakterbatasan kuantitas Asmaul Husna tidak perlu disikapi dengan kemalasan atau tak acuh. Kita hanya ditaklifi (dibebani) Syari’at semaksimal batas kemampuan sebagai manusia. Bukan manusia mengada-adakan Asmaul Husna demi prestisiusitas religi di hadapan global. Agama Hindu, misalnya, mengkonstruk teologi Trimurtinya dengan tiga ribu lebih nama untuk Brahma-Siwa-Wisnu. Asmaul Husna transenden dan given. Asmaul Husna merupakan bagian dari Islam sebagai revealed religion.
Keberadaan dogma Asmaul Husna dalam Islam bermanfaat untuk mengusir kejemuan berdzikir dan kejenuhan berpikir. Berdzikir dan berpikir ialah dua amalan inti dalam Islam. Pelaku dzikir mesti memikirkan dzikirnya. Pemikir mesti menghiasi pikirannya dengan dzikir. 24 jam manusia mesti berdzikir dan berpikir, secara ringan ataupun berat. Dalam 24 jam dzikir dan pikir tersebut, sudah barang tentu manusia terserang kebosanan. Asmaul Husna menjadi penyegaran melalui variasi-variasi lafazh dan maknanya masing-masing sehingga tidak akan muak dengan kemonotonan dzikir dan pikir.
Asmaul Husna menjadi sumber inspirasi etika-moral. Masing-masing Asmaul Husna mesti dijadikan pedoman dan panduan berakhlaq. Ragam Asmaul Husna memancing konsentrasi dalam mengimplementasi tiap-tiap substansi makna. Sebagai contoh, tatkala seseorang ingin berperangai sabar, Asmaul Husna yang menjadi patokan tidak hanya Ash-Shabur tapi juga Al-Halim, Ar-Ra`uf, Asy-Syakur, Al-Barr, As-Salam. Manakala seseorang ingin berkelakuan mandiri, Asmaul Husna yang menjadi pegangan tidak hanya Al-Qayyum tapi juga Al-Khaliq, Al-’Aziz, Al-Qawiyy, Al-Fattah, Al-Hakam. Kenapa demikian? Karena keluasan makna bahasa satu persatu Asmaul Husna berikut konsekuensi logisnya.
Kita beruntung sebagai muslim mendapatkan Wahyu Ilahiyy yang diterima Nabi Muhammad tentang ‘karakter kepribadian’ Allah berupa Asmaul Husna. Kalau saja Allah tidak punya Asmaul Husna, betapa jenuh-jemunya kita dengan kemonotonan dzikir dan pikir yang hanya berupa satu nama saja yaitu Allah. Lagipula, fluktuasi otak butuh pluralitas stimulus. Buktinya manusia butuh berganti-ganti kegiatan, situasi, waktu, pengalaman rasa.



Post a Comment