'Asmaul Husna' dalam Berbagai Agama | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Tokoh antagonis dalam film Harry Potter bernama asli Voldemort dihormati antek-anteknya dengan panggilan You-Know-Who. 6.800 kali kemunculan Y.H.W.H dalam Old Testament merefleksikan bagaimana Yahudi kuno meyakini sosok Tuhan yang terlampau suci untuk disebut namanya dengan tetragrammaton tersebut. Buddhis tidak pernah menspesifikkan nama Tuhan melainkan cukup mendeskripsikannya secara apofatis.
Hindu -yang merupakan muasal agama Buddha- juga tidak mendefinisikan Tuhan dengan sebuah nama personal. Brahma, Siwa, Wisnu bukan nama-nama tiga sosok Tuhan sebab Upanisad me–nash-kan Ekam evam adwityam Brahma (Hanya satu Tuhan, tidak ada yang kedua). Tiga kosa kata itu adalah sifat. Tiga kosa kata tersebut punya ribuan turunan. Brahma Sahasranama (seribu nama Brahma), Wisnu Sahasranama (seribu nama Wisnu), Siwa Sahasranama (seribu nama Siwa), dan sebagainya.
Hindu dan Buddha sama-sama meyakini tuhan terlalu suci untuk disebut. Khonghucu pun tidak menyebut siapa tuhan yang disembah tapi banyak nama yang berstatus sebagai sifat dipercaya sebagai entitas supernatural. Qian, Gui Shen, Da Yi, Tai Ji, bahkan O (lingkaran) bukanlah nama tuhan-tuhan Khonghucu tapi sifat-sifat positif-inspiratif.
Paganis dan animis Jawa biasa mengagungkan sosok yang disembah-dipuja dengan panggilan Sang Hyang, Mbah Ratu, Eyang, Engkang Mbahurekso, Kyai, Nyai, dan lain-lain. Semua fenomena ini menggambarkan bagaimana manusia lebih senang menghormati dan mengagungkan Tuhannya dengan sebutan-sebutan lain yang mulia dalam perspektif masing-masing. Bedanya, Islam menspesifikkan nama asli Tuhan yakni Allah namun Islam mengimbuhkan nama-nama Allah dalam jumlah tak terbatas untuk menggambarkan sifat-sifat-Nya, disebut Asmaul Husna. Nama-nama Allah yang disebut Asmaul Husna tersebut bukan hasil kreasi umat Islam melainkan transenden yakni original dari Allah sendiri.



Post a Comment