Hadits-hadits Musalsal Tidak Harus Ditolak Meski Dha’if | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. alias Kang Aswad mendapatkan ijazah sanad hadits musalsal bi al-awwaliyah dari Syaikh Prof. Dr. ‘Ashim bin ‘Abdullah Al-Qaryutiyy tatkala memberikan daurah singkat di Indonesia tepatnya saat mendaras Tsulatsiyat Al-Bukhariyy. [https://www.kajianlive.my.id/bio_ustadz.php?id=173]
Ada ratusan jumlah musalsal. Contoh riwayat musalsalat ialah hadits berjabat tangan, memegang jenggot, memakai topi koboi burthulah, menghidangkan air dan kurma, memegang pundak, motong kuku, menangis, tertawa, mengusap tanah, menyuguhkan air dan kurma, dan lain-lain. Riwayat hadits musalsal bukan tradisi ahli bid’ah. Justru perkataan atau perbuatan atau situasi yang diajarkan turun-temurun menyertai hadits musalsal patut dilestarikan.
Bukankah kita sepakat bahwa beragama Islam harus sesuai manhaj Salaf dalam memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah? Lantas mengapa kita tidak serius menyebarkan hadits musalsal? Apa yang diajarkan generasi As-Salaf Ash-Shalih tentu baik, termasuk apa yang terekam dalam transmisi hadits musalsal.
Syaikh ‘Utsaimin pemilik nama lengkap Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Al-Manzhuman Al-Baiquniyyah, “Sesungguhnya mengetahui masalah Al-Musalsal memiliki beberapa faidah, yaitu: Pertama: Hadits musalsal pada hakikatnya adalah seni yang jarang. Dimana para perawinya bersepakat padanya di atas satu keadaan, terlebih apabila sang perawi berkata: ia telah menceritakan kepadaku dalam keadaan berbaring di atas tempat tidurnya, ia telah menceritakan kepadaku dalam keadaan berwudhu, ia telah menceritakan kepadaku dalam keadaan sedang makan, ia telah menceritakan kepadaku kemudian tersenyum, ia telah menceritakan kepadaku kemudian menangis. Keadaan ini adalah jarang, yaitu bersepakatnya semua para perawi di atas satu keadaan. Kedua: Sesungguhnya pada penukilan hadits dengan musalsal seperti ini; hingga pada derajat sifat keadaan perawi, padanya terdapat dalil akan kesempurnaan dhabth (penguasaan) para perawinya, dan bahwa sebagian mereka telah menguasai hingga keadaan perawinya tatkala meriwayatkan. Maka hal tersebut menambah kekuatan hadits. Ketiga: Sesungguhnya tasalsul termasuk perkara yang mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga pada tasalsul tersebut terdapat tambahan kedekatan dan ibadah. Seperti pada hadits Mu'adz bin Jabal radhiallahu 'anhu, "Sungguh aku mencintaimu, maka janganlah…" Keadaan masing-masing perawi mengatakan kepada yang kedua: sesungguhnya aku mencintaimu, ini adalah termasuk sesuatu yang menambahkan keimanan dan menambahkan kedekatan manusia kepada Allah ta'ala, karena sesungguhnya termasuk sekuat-kuat tali keimanan adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”
Kitab Hadits Musalsal paling lengkap yang masih populer hingga hari ini adalah Al-’Ujalah karya Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadaniyy. Kitab Al-’Ujalah ini berisi 113 tema hadits musalsal sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Brilly El-Rasheed. Dapatkan di https://wa.me/082140888638 baik versi Arab lengkap atau versi dua bahasa (Arab-Indo).
Hadits dha'if tidak harus ditolak. Hadits dha'if tidak bisa disamakan dengan hadits maudhu'. Hadits maudhu' wajib ditolak. Hadits dha'if bisa jadi karena sanadnya tapi matannya punya syawahid, apaladi yang sanadnya punya syawahid. Maka hadits musalsal yang dha'if matan atau sanadnya tidak langsung harus ditolak mentah-mentah. Tetap bagus meriwayatkan hadits musalsal yang dha'if karena kita meriwayatkan perilaku generasi Salaf yang ada dalam riwayat hadits musalsal tersebut.



Post a Comment