Header Ads

40 Hadits Musalsal & Tsulatsiyyat Al-Bukhariyy Diwariskan Syaikh ‘Aly Mas’adi di Majelis Lailatul-Isnad PW. GP Ansor Jatim





Pertama kali dalam sejarah, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Jawa Timur (selanjutnya PW GP Ansor Jatim) menggelar Lailatul-Isnad. Pada 16 Februari 2026 sekira 200 hadirin-hadirat memadati lantai 3 gedung Ansor University yang ada di komplek PWNU Jawa Timur. Lepas pukul 21.00 WIB, K. H. ‘Aly Mas’adi menyimak sambutan-sambutan sembari menjajal topi koboi yang sudah disediakan panitia.

Al-Musnid ‘Aly Mas’adi mengawali majelis sanadan dengan mendoakan semua peserta suatu saat menjadi kyai (baca: ulama) dan sekarang sudah calon. Beliau mengenang, dulu Mbah Moen dan Mbah Maksum melarang santri memaknai kitab karena beda daerah beda bahasa. Nabi hanya bilang nadhdhara Allah imra`an sami’a minna maqalati. Jadi kita hanya diperintahkan menyampaikan hadits tanpa memaknai.

Hadits yang dimaksud Mbah Mas’adi adalah, riwayat Imam Al-Bazzar Asy-Syafi’iyy dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari ayahnya –radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِيَ فَحَفِظَهَا فَأَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا
“Allah akan memberikan nadhrah (wajah yang cerah) kepada seseorang yang telah mendengarkan ucapanku, lalu menghafalnya dan mengamalkannya sebagaimana yang telah ia dengar”.

Kyai ‘Aly Mas’adi menerangkan status sanad guru beliau, “Bagi yang lahir sebelum Syaikh Yasin wafat, maka sanadnya ‘aliyy, tidak usah lewat saya. Dari Syaikh Yasin itu ada 14 thabaqah rawi kepada Nabi. Beliau merupakan pemegang sanad ‘aliyy haqiqiyy. Kalau sanad ‘aliyy nisbiyy itu sanadnya melalui kitab hadits. Imam Al-Bukhariyy sanad aliyynya hanya 20-an hadits. Imam Malik banyak yang sanadnya ‘aliyy. Imam Al-Bukhariyy saja lewat Imam Malik.”

Musalsal Awwaliyyah bi Ar-Rahmah dibacakan pertama dalam majelis ini, menurut Mbah Mas’adi, agar kita punya kasih sayang kepada semua makhluq Allah, baik punya nyawa atau tidak. Menyingkirkan adza dari jalan yang merupakan adna syu’ab al-iman termasuk bentuk rahmah. Paku misalnya, berarti kita berkasih sayang kepadanya. Risalahnya Nabi kan rahmatan li al-alamin. “Saya mendengar hadits ini dari Syaikh Yasin lebih dari 100 kali sebagaimana beliau dari guru-gurunya,” papar beliau.

Al-Mursyid ‘Aly Mas’adi juga mengutarakan, “Beliau (Syasin Yasin) dijuluki Musnid Ad-Dunya pada zaman Fatrah setelah Saudi dikuasai Raja ‘Abdul-’Aziz, pasca Perang Dunia Kedua. Disebut zaman Fatrah karena semua ulama sunniyy dideportasi atau dibunuh tentaranya ‘Abdul-’Aziz. Saya datang kepada beliau karena umumnya kyai Jawa habis khataman tidak mengijazahkan sanad. Pernah saya minta ijazah sanad hizib kepada salah seorang guru malah saya dimarahi.”

Al-Mujiz ‘Aly Mas’adi mengenang, “Dulu di atas Jabal Abi Qubais asa Rubath Abi Qubais milik thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah yakni Syaikh Sulaiman Zuhdiyy dari Syaikh Sulaiman Al-Quraimiyy dari Syaikh Khalid Al-Mujaddadiyy. Mereka tidak mau menghormati Raja ‘Abdul-’Aziz akhirnya dibunuh di Jabal tersebut. Saya dapat informasi langsung dari para ulama pelaku sejarah. Saat Kubah Nabi hampir digempur tentara Saudi, banyak ulama naik ke atas menghalau mereka, dan berhasil.”

Kyai Mas’adi juga mengomentari rijal Hadits Musalsal Awwaliyyah bi Ar-Rahmah, “Di sini saya perintahkan kalian semua untuk memakai kuniyah dan laqab baru nama. Saya Nuruddin. Ada hadits musalsal dengan laqab nisbat din. Timurnya Hijaz disebut wilayah masyariq. Mulai tahun 700 hijriyah, ulama Indonesia sudah masuk dalam rijal sanad, zamannya Imam As-Subkiyy. Ilmu Falak zaman Syaikh Mukhtar bin ‘Atharid Al-Bughuriyy sangat maju. Beliau sampai bisa menghitung asrar sesuatu misalnya jumlah daun sebuah pohon, seperti Imam Al-Buniyy. Sayyid Muhammad Amin Ridhwan biasa wiridan Dalail bersama jamaah setiap bakda ‘Ashar di Raudhah. Para Syaikh Hindiyy kalau sudah pensiun ngajar di Jami’ah lebih senang dekat dengan makam Nabi. Kalau ulama Jawa senang tinggal di dekat Ka’bah.”

Syaikh ‘Aly Mas’adi memungkasi syarah hadits ini dengan ungkapan, “Tasalsul bi al-awwaliyyah hanya sampai Sufyan bin ‘Uyainah. Tabaraka wa Ta’ala ada yang bilang termasuk matan, ada yang tidak. Sebagaimana Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Makhluq Allah di bawah bumi atau di atas bumi harus kita kasih sayangi. Bisa yarhamkum atau yarhamakum taqdirnya likai atau yarhamakum. Rahman Rahim itu sebelum semua sifat Allah lainnya.”

Selanjutnya Pengasuh Ma’had Darul Hikmah Mojosari Mojokerto ini mengijazahkan Hadits Musalsal bi Al-Mahabbah, “Menzhahirkan cinta itu tidak hanya kepada calon pasangan tapi kepada semua orang yang kita cintai. Mbah Sambu dapat sanad dari Sayyid ‘Abdurrahman Al-Ahdal. Adib jamaknya udaba artinya ahli sastra. Doa Allahumma a’inni ‘ala dzikrika… menunjukkan kita sangat butuh pertolongan Allah.”

Kemudian giliran Hadits Musalsal bi Adh-Dhiyafah ‘ala Al-Aswadain. Air dan kurma termasuk qut maka pada zaman Nabi termasuk ekspresi ikhram adh-dhuyuf. Apapun makanan masuk hadits ini. Sayyidina ‘Aliyy disuguhi Nabi air dan kurma. Setelah Nabi menyuapi ‘Aliyy beliau bersabda, “Satu suap kepada orang lapar lebih besar dari membangun seribu masjid jami’.”

Mbah Mas'adi langsung menyambung dengan Hadits Musalsal bi At-Talqim (menyuap/mendulang) yang dalam perspektif beliau menunjukkan tawadhu’ guru kepada murid. “Memang banyak kyai tidak menyebutkan hadits ini tapi mengamalkan. Kyai menyuguhkan makanan atau minuman tanpa memandang siapa tamunya. Syaikh Yasin biasa menuangkan kopi sendiri untuk tamunya bahkan memasak juga. Selama kita mampu hendaknya tidak meninggalkan kebaikan ini,” ujar ulama asal Jepara dan domisili di Mojokerto ini.

Mengomentari Hadits Musalsal Bi Qira`ah Al-Fatihah, kyai berkuniyah Abu Muhammad Sya’ban ini menuturkan, “Saya dapat sanad ‘aliyy Al-Fatihah dan sebagian Al-Qur`an dari Habib Muhammad Luthfi dari Nabi Khidhir dari Nabi Muhammad. Tidak ada sanad tertinggi kecuali lewat Nabi Khidhir. Saya punya sanad Hadits Musalsal bi Al-Mushafahah dari Mbah Moen dari Kyai Nahrawi dari Nabi Khidhir dari Nabi Muhammad. Mbah Moen sering ketemu Nabi Khidhir. Mbah Moen sering cerita Mbah Muhammad Baqir ditemui Nabi Khidhir dengan pakaian serba hijau dan naik kuda. Saya sendiri ga berani minta ijazah Syaikh Yasin tapi beliau selalu memberi setiap kali saya hanya membatin.”

Lantas dua Hadits satu tema: Musalsal bi Qira`ah Ayat Al-Kursiyy Qabla An-Naum dan Musalsal bi Qira`ah Ayat Al-Kursiyy Fi Dubur Shalawat Maktubah. Mbah Mas’adi mengingatkan, “Suci atau tidak suci, sakit atau tidak sakit, selalu baca Ayat Kursiyy. Sabda Nabi, “Saya diberi Ayat Kursiyy dari perbendaharaan Arsy. Tidak ada Nabi sebelumnya yang diberi.” Banyak Kyai riyadhah dengan Ayat Kursiyy ketika Perang Dunia Kedua. Ayahnya istri saya riyadhahnya dengan Ayat Kursiyy sehingga ketika dikepung Belanda tidak ada yang bisa masuk rumah semuanya dijatuhi pohon kelapa. 313 Ayat Kursiyy untuk membentengi rumah atau melemahkan pendaman sihir. Orang-orang yang selalu baca Ayat Kursiyy bakda shalat lima waktu mungkin maknanya seperti wafatnya syahid. Ruhnya langsung masuk Surga dibawa hilir mudik burung di Surga tanpa lewat alam barzakh.”

Dilanjutkan Hadits Musalsal bi Surah Al-Kautsar. Seluruh hadirin-hadirat membaca Surah Al-Kautsar bersama Syaikh Mas’adi sembari beliau melihat mushaf. Rampung dari itu, beliau memberi catatan, “Thahir Al-Witriyy atau Zhahir, dari India, seperti dalam naskahnya Habib Luthfi, pakai huruf zha`. Asrar Surah Al-Kautsar ada di ayat inna syani`aka huwa al-abtar. Kalau untuk jalb ar-rizq maka di ayat inna a’thainaka al-kautsar. Minimal baca 700 kali atau 1.000 kali.”

Menanggapi fenomena anti-habaib, Mbah Mas’adi mengaitkan dengan Surah Al-Kautsar, “Ada orang ngga senang dengan keturunan Nabi ya sudah. Dulu saja (pada zaman Nabi) sudah ada dan mereka memelintir bacaan ayat menjadi inna sya`naka huwa al-abtar.”

Ketika dibacakan sejumlah Hadits Musalsal bi Al-‘Ithrah Ath-Thahirah, Syaikh ‘Aly Mas’adi menerangkan, “Syaikh Yasin itu Al-Hasaniyy Al-Husainiyy. Siti Champa juga. ‘Abdul-Fattah Raja Demak itu Al-Hasaniyy. Raja Dhoho Kediri itu Al-Husainiyy. Syaikh Yasin itu ayahnya keturunan Mataram dan ibunya keturunan Banten. Beliau tidak mengaku Sayyid maupun Syarif. Kakek beliau termasuk pasukan Pangeran Diponegoro. Bapak dan paman Syaikh Yasin disuruh muqim di Makkah. Beliau lahir di Makkah. Banyak kyai Jawa tidak ngaku keturunan Nabi. Banyak juga bukan kyai padahal sadah tapi tidak mengaku. Habib Luthfi pernah diajak keliling dunia selama 1 pekan oleh Nabi Khidhir. Syaikh Yasin pernah ikut Perang Dunia Kedua di mana-mana diajak Nabi Khidhir.”

Setelah dibacakan Hadits Musalsal bi Al-Makkiyyin. Al-Mursyid ‘Aly Mas’adi menyitir hadits satu Rahmat Allah yang diturunkan di dunia itu untuk seluruh makhluq dan 99 disimpan di Akhirat. Berikut haditsnya,
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «جَعَلَ اللهُ الرحمةَ مائة جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ، وأَنْزَلَ في الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الخَلَائِقُ، حتى تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ»
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan Dia tahan di sisi-Nya, sedangkan satu bagian ia turunkan ke bumi. Dari satu bagian itulah semua makhluq saling menyayangi hingga seekor binatang mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya." [Muttafaq ‘alaih]

Banyak hadits musalsal yang tidak ada di kitab Al-’Ujalah karya Syaikh Yasin Al-Fadaniyy diwedar oleh katib beliau yakni K. H. ‘Aly Mas’adi dalam majelis sanadan ini, seperti musalsal bi al-luqiyy, musalsal bi al-masyariqah, musalsal bi as-sama’, musalsal bi al-qashash, musalsal bi at-ta`min ‘ala ad-du’a`, musalsal bi al-ittika`, bi at-tabassum, dan lain-lain. Bahkan yang mind blowing adalah Hadits Musalsal bi Al-Burthulah alias topi koboi. Ya, benar-benar Mbah Mas’adi mempraktekkan pemakaian topi koboi dan melepas songkok hitam beliau.

Ada empat serpihan ilmu yang masih terngiang-ngiang di tengah-tengah ke-40 hadits musalsal tadi, di mana K. H. ‘Aly Mas’adi berkalam, “(1) Saya dulu seminggu sekali 4 orang rombongan ngaji di Madinah, di Thaif dan lain-lain. Diantaranya ngaji Minhajuth-Thalibin di Raudhah; (2) Sanad shahih harus ‘urifa liqa`uhu, sebagaimana Imam Al-Bukhariyy dalam kitab shahih beliau; (3) Ketika tasyahhud, isyarat telunjuk, ke kanan ke kiri dan atas bawah untuk mengusir syaithan; (4) Kita boleh menisbatkan diri sebagai Makkiyy dan Madaniyy dalam sanad Hadits Musalsal bi Al-Makkiyyin karena mu’zham rawi begitu, walaupun kita tidak lama di Makkah atau Madinah, biasanya minimal 3 tahun; (5) Sari As-Saqathiyy artinya syai` saqith karena beliau biasa mengambili bahan makanan yang dibuang lalu dicuci dan dimasak sama beliau.”

Sebenarnya banyak faidah ilmiyyah dalam majelis sanadan ini. Kelemahan otak diperparah oleh kantuk. Padahal hampir 5 jam dihabiskan oleh murid Syaikh Yasin ini nonstop tanpa jeda untuk mengestafetkan ilmu-ilmu tua. Pasca 40 Hadits Musalsal, seluruh peserta Lailatul-Isnad seperti mendapat durian runtuh, sanad Kitab Tsulatsiyyah Al-Bukhariyy juga diijazahkan oleh santri kinasih Syaikh Yasin Al-Fadaniyy ini. Hampir pukul 02.00 WIB, barulah prosesi praktikum Hadits Musalsal bi Al-Mushafahah dan Al-Musyabakah satu persatu sampai habis dan beliau tegap berdiri. Tak lupa acara ‘inti’ talaman memeriahkan suasana ramah-tamah dan pembagian lembar sanad.

Reporter: H. Brilly El-Rasheed, M.Pd.






Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.