Header Ads

Terlarangkah Mengulang-ulang Asmaul Husna? | Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Al-Asymawiyy | 082140888638



Aku telah menerbitkan sebelumnya sebuah tulisan yang di dalamnya aku menyebutkan bahwa sesungguhnya aku berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan empat nama secara berurutan, yaitu (Waliyy, Wakil, Kafil, Kafi), dan aku mendapati darinya atsar (pengaruh/impact) yang agung dalam Allah ‘Azza wa Jalla mengurus urusan hamba-Nya, mewakili darinya, menjamin serta mencukupinya; maka aku melihat sebagian komentar netizen memandang perkara ini sebagai bid‘ah, dan komentar-komentar lain meminta penjelasan tentang tata cara berdzikir dengannya, maka aku pun ingin menulis kata-kata berikut ini sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Adapun tata cara berdzikir dengan Al-Asma Al-Husna, maka Allah Ta‘ala berfirman, "Dan milik Allah nama-nama yang paling indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu" [QS. Al-A‘raf: 180], dan ini termasuk lafazh yang mutlak yang tetap pada kemutlakannya selama tidak datang sesuatu yang membatasinya, dan yang umum yang tetap pada keumumannya selama tidak datang sesuatu yang mengkhususkannya; maka boleh berdoa dan berdzikir dengan Al-Asma Al-Husna, secara tunggal maupun jamak, secara susunan maupun pemisahan, dengan pengesaan maupun penyebutan bilangan dan pengulangan, dengan ya nida` dan selainnya, disertai dengan permintaan maupun tidak disertai dengannya.

Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggabungkan antara dua nama dalam doanya, dan menggunakan ya nida’ dalam doa, serta menegaskan apa yang diminta, maka beliau bersabda, "Ya Hayyu Ya Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan"; dan beliau mengulang satu nama dua kali dalam bentuk dzikir, bukan dalam bentuk doa, serta tidak menggunakan ya nida`, sebagaimana dalam doa kesusahan, "Allah Allah, Rabb-ku, aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya";

dan beliau menggunakan dua nama dalam bentuk dzikir, bukan dalam bentuk doa, sebagaimana dalam doa witir, "Mahasuci Al-Malik Al-Quddus"; bahkan Al-Qur`an sendiri menunjukkan atas bolehnya menggabungkan lebih dari satu nama, karena telah disebutkan di dalamnya seperti Ar-Rahman Ar-Rahim, Al-‘Aziz Al-Hakim, Al-‘Aliyy Al-‘Azhim, bahkan pada akhir-akhir Surah Al-Hasyr terdapat penggabungan sejumlah besar dari nama-nama-Nya Ta‘ala, "Dia-lah Allah yang tidak ada tuhan yang benar selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Ar-Rahman Ar-Rahim..." Inilah ayat-ayat suci Al-Qur`an.

Bahkan sesungguhnya sebab turunnya ayat yang mulia itu menunjukkan atas bolehnya berdzikir dengan lebih dari satu nama; maka dalam Tafsir Al-Qurthubiyy disebutkan, “Muqatil dan selainnya dari kalangan para mufassir berkata, ayat itu turun tentang seorang laki-laki dari kaum Muslimin yang berkata dalam shalatnya, ‘Ya Rahman Ya Rahim’, maka seorang laki-laki dari kaum musyrik Makkah berkata, ‘Bukankah Muhammad dan para sahabatnya mengklaim bahwa mereka menyembah satu Tuhan, lalu bagaimana orang ini menyeru dua Tuhan?!’, maka Allah Subhanahu wa Ta‘ala menurunkan, ‘Dan milik Allah nama-nama yang paling indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu’.”

Dan Ibnu ‘Ajibah berkata dalam tafsirnya [Al-Bahr Al-Madid], “Sebab turunnya ayat adalah bahwa Abu Jahl mendengar sebagian sahabat membaca, lalu ia menyebut Allah sekali dan Ar-Rahman pada kali yang lain, maka ia berkata, ‘Muhammad mengklaim bahwa Tuhan itu satu, sementara ini ia menyembah tuhan-tuhan yang banyak!’, maka turunlah ayat tersebut, menjelaskan bahwa nama-nama yang banyak itu adalah bagi satu Dzat yang dinamai!”

Dan dalam teks ini terdapat penjelasan tentang illat bolehnya menggabungkan lebih dari satu nama dalam dzikir dan doa, yaitu bahwa semuanya kembali kepada satu Dzat yang dinamai; maka orang yang berdzikir dengan seluruh nama itu berarti berdzikir kepada satu Dzat yang dinamai. Akan tetapi bagaimana cara berdzikir dengannya dan menggabungkan di antaranya? Ibnu ‘Ajibah berkata, “Dan Al-Asma Al-Husna seluruhnya menampakkan diri pada manifestasi-manifestasi manusia dan silih berganti atasnya, secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dan semuanya dapat berhimpun pada satu orang—apabila ia seorang yang arif—sehingga ia berakhlaq dengannya, hanya saja tajalli-tajalli nama-nama itu berbeda-beda atasnya, terkadang sebagai Malik yang Mahasuci, dan terkadang sebagai Rahman yang Maha Penyayang, dan demikian seterusnya.”

Maknanya adalah bahwa berdzikir dengannya secara gabungan ataupun tunggal hanyalah sesuai dengan tajalli dan penyaksian pada keadaan masing-masing orang serta sesuai dengan kebutuhannya dan maqamnya. Al-Qurthubiyy berkata, “Firman-Nya Ta‘ala, ‘maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu’, yakni mintalah kepada-Nya dengan nama-nama-Nya; maka setiap nama dimintakan sesuai dengan apa yang layak baginya; engkau mengatakan, ‘Ya Rahim, rahmatilah aku; Ya Hakim, tetapkanlah hukum untukku; Ya Raziq, berilah aku rizqi; Ya Hadi, berilah aku petunjuk; Ya Fattah, bukakanlah untukku; Ya Tawwab, terimalah taubatku,’ dan demikian seterusnya.

Jika engkau berdoa dengan nama yang umum, engkau berkata, ‘Ya Malik, rahmatilah aku; Ya ‘Aziz, tetapkanlah hukum untukku; Ya Lathif, berilah aku rizqi’; dan jika engkau berdoa dengan yang paling umum lagi paling agung lalu engkau berkata, ‘Ya Allah’, maka ia mencakup setiap nama; dan janganlah engkau mengatakan, ‘Ya Razzaq, berilah aku petunjuk,’ kecuali jika engkau bermaksud, ‘Ya Razzaq, berilah aku rizqi berupa kebaikan’.” Ibnu Al-‘Arabiyy berkata, “Demikianlah, susunlah doamu, niscaya engkau termasuk orang-orang yang ikhlash.” Selesai.

Dan termasuk kesempurnaan fiqih dalam berdoa dan berdzikir dengan Al-Asma Al-Husna adalah apa yang juga disebutkan oleh Al-Qurthubiyy, ketika ia berkata, “Firman-Nya, ‘Dan milik Allah nama-nama yang paling indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu’ [QS. Al-A‘raf: 180], menunjukkan bahwa manusia tidak berdoa kepada Rabb-nya kecuali dengan nama-nama yang indah itu, dan doa ini tidak akan terwujud kecuali apabila ia mengetahui makna-makna nama-nama tersebut dan mengetahui dengan dalil bahwa ia memiliki Tuhan dan Rabb, Pencipta yang disifati dengan sifat-sifat yang mulia lagi suci itu; maka apabila ia telah mengetahui hal itu dengan dalil, pada saat itulah baik baginya untuk berdoa kepada Rabb-nya dengan nama-nama dan sifat-sifat tersebut.

Kemudian sesungguhnya bagi doa itu banyak syarat yang disebutkan secara rinci dalam kitab [Al-Minhaj] karya Abu ‘Abdillah Al-Halimiyy, dan yang terbaik dari isinya adalah hendaknya ia menghadirkan dua perkara: yang pertama, kemuliaan rububiyyah, dan yang kedua, kehinaan ‘ubudiyyah; maka di sanalah doa itu menjadi baik dan kedudukan dzikir itu menjadi agung; adapun jika tidak demikian, maka ia menjadi sedikit manfaatnya.”


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.