Begini Dialektika Rasio Kenapa Allah Hanya 1 Tapi Asmaul Husna-Nya Banyak | Mulla 'Aliyy Al-Qari | 082140888638
![]() |
| 082140888638 Gerakan Indonesia Ber-Asmaul Husna |
Mulla 'Aliyy Al-Qari menjelaskan, "Disebutkan dalam Al-Ma‘alim ketika menafsirkan firman-Nya, "dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam nama-nama-Nya" [QS. Al-A‘raf: 180], bahwa ilhad dalam nama-nama-Nya adalah menamai-Nya dengan sesuatu yang tidak disebutkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah;
Abu Al-Qasim Al-Qusyairiyy rahimahullah berkata, nama-nama Allah bersifat tauqifiyyah dan harus merujuk kepada Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijma‘, maka setiap nama yang datang dalam sumber-sumber tersebut wajib digunakan dalam mensifati-Nya, dan yang tidak datang tidak boleh digunakan meskipun maknanya benar;
Ar-Raghib berkata, Mu‘tazilah berpendapat bolehnya menamai Allah dengan nama yang maknanya benar bagi-Nya karena pemahaman manusia memiliki keluasan dalam memilih sifat, namun ia berkata bahwa pendapat Ahlul-Hadits adalah yang benar; dan Ibnu Hajar berkata, nama-nama Allah bersifat tauqifiyyah menurut pendapat yang paling shahih di kalangan para imam kami, berbeda dengan Al-Ghazaliyy dan Al-Baqillaniyy yang sejalan dengan Mu‘tazilah.
Ath-Thibiyy berkata, An-Nawawiyy rahimahullah menukil dari Al-Qusyairiyy bahwa dalam hadits terdapat dalil bahwa nama adalah musamma, karena jika ia selainnya maka niscaya nama-nama itu untuk selain-Nya,
dan Al-Qadhi merangkum makna ini serta menjawabnya dengan berkata, jika dikatakan bahwa apabila nama adalah عين musamma maka konsekuensi dari sabda Nabi, "Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama" adalah menetapkan adanya banyak tuhan, maka jawabannya dari dua sisi: pertama, bahwa yang dimaksud dengan nama di sini adalah lafazh, dan tidak ada perselisihan bahwa kata “nama” digunakan dengan makna ini, yang diperselisihkan hanyalah apakah ia digunakan dan dimaksudkan dengannya musamma itu sendiri, dan tidak mesti dari banyaknya nama berarti banyaknya musamma; kedua, bahwa setiap lafazh yang disematkan kepada Allah menunjukkan Dzat-Nya dengan mempertimbangkan suatu sifat hakikat, dan hal itu menuntut adanya banyak pertimbangan dan sifat, bukan pada Dzat, dan tidak ada kemustahilan dalam hal itu;
dan sabdanya “sembilan puluh sembilan” tidak menunjukkan pembatasan, karena telah tetap dalam Al-Kitab nama-nama seperti Ar-Rabb, Al-Maula, An-Nashir, Al-Muhith, Al-Kafi, Al-‘Allam dan selainnya, dan dalam As-Sunnah terdapat Al-Hannan, Al-Mannan, Ad-Da`im, Al-Jamil, dan selainnya, dan pengkhususan penyebutan itu karena lebih masyhur lafazhnya dan lebih jelas maknanya serta karena ia merupakan inti dan pokok dari nama-nama-Nya yang mencakup makna selainnya;
dan dikatakan bahwa frasa “barang siapa menghitungnya” adalah sifat bagi nama-nama tersebut sehingga tidak menunjukkan pembatasan, seperti perkataan “si fulan memiliki seribu kambing yang ia siapkan untuk para tamu”, yang tidak menunjukkan bahwa ia tidak memiliki selainnya;
dan dalam riwayat lain, yakni riwayat Al-Bukhariyy sebagaimana disebutkan oleh Mirak dalam Hasyiyah Al-Hishn, “dan Dia adalah Witir”, yakni Dzat-Nya Ta‘ala Maha Tunggal, tidak ada yang serupa dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya, “Dia mencintai yang witir”, yakni dari amal-amal dan dzikir-dzikir, maksudnya Dia mencintai amal yang dilakukan dengan keikhlasan dan pengesaan bagi-Nya Ta‘ala, dan ini makna ucapan Ath-Thibiyy yakni Dia memberi pahala atas amal yang dilakukan secara witir karena di dalamnya terdapat isyarat kepada makna keesaan baik dalam qalbu, lisan, iman, dan keikhlasan dengan pahala yang sempurna;
[https://www.islamweb.net/ar/library/content/79/4559/]



Post a Comment