Asmaul Husna Hanya untuk Disebut Berulang-ulang? | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Memanggil-manggil Allah artinya memohon pertolongan dan meminta perlindungan kepada-Nya. Jangankan Allah, manusia saja, bahkan binatang saja, jika kita panggil-panggil maka tentu akan merespon perintah atau permintaan kita. Bahkan Artificial Intelligence pun selalu menjawab setiap panggilan (prompt) kita. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Kita panggil-panggil Allah melalui nama-nama-Nya (Asmaul Husna) pasti Allah akan merespon kita. Respon Allah berwujud abstrak. Semesta yang digerakkan Allah untuk merespon panggilan kita kepada-Nya berwujud nyata. Kita biasa istilahkan sesuatu yang abstrak sebagai resonansi, gelombang, energi, cahaya, kekuatan, daya, magis, supranatural dan lain-lain. Tidak semua hal bisa didefinisikan oleh bahasa akal manusia.
Prof. Dr. H. Ary Ginanjar Agustian mengatakan, “Asmaul Husna merupakan nama-nama indah milik Allah, yang setiap namanya mengandung sebuah makna yang sangat mendalam. Nama-nama Allah ada di Asmaul Husna bisa kita ejawantahkan menjadi sebuah cerminan hidup yang bisa kita jadikan peganga untuk mengarungi dahsyatnya kehidupan di dunia ini. Kita sebagai umat Muslim sudah semestinya wajib mengetahui lalu kemudian mengaplikasikan Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? Karena dalam Asmaul Husna menyimpan banyak makna tersirat yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita sama-sama belajar untuk menerapkan hal-hal baik yang kita serap dari setiap arti Asmaul Husna.” https://www.facebook.com/AryGinanjarAgustian/photos/dahsyatnya-makna-yang-terkandung-dalam-asmaul-husnaasmaul-husna-merupakan-nama-n/10155491642281893/
Asmaul Husna seperti "Ya Jabbar, Ya Qahhar, Ya Hayy, Ya Qayyum, Ya Qawiyy, Ya Matin, Ya Wahhab, Ya Rahman, Ya Lathif, Ya Quddus, Ya Salam, Ya Fattah, Ya Razzaq" termaktub dalam tiga manaqib yang mulia; yaitu Manaqib Syaikh ‘Abdul-Qadir Al-Jailaniyy, Manaqib Syaikh Abu Al-Hasan Asy-Syadziliyy, dan Manaqib Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandiyy. Ketiga belas Asmaul Husna tersebut sangat dianjurkan dibaca karena keutamaannya dalam tazkiyatun-nafs (pembersihan kesucian batin). Setiap Asmaul Husna mencerminkan sifat-sifat Allah dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari bagi mereka yang merenungkan dan mengamalkannya.
Tidak hanya dibaca berulang-ulang, Asmaul Husna mesti dijadikan sebagai fokus meditasi (‘uzlah), refleksi (tafakkur), dan implementasi (tathbiq) dalam kehidupan sehari-hari. Asmaul Husna bukan hanya tentang pengucapan, tetapi juga tentang merenungkan dan menginternalisasi sifat-sifat Allah untuk mempererat hubungan dengan Allah, serta mempengaruhi sikap kita dalam kehidupan.
Imam Al-Ghazaliyy mengatakan,
الحظ الثالث السعي في اكتساب الممكن من تلك الصفات والتخلق بها والتحلي بمحاسنها وبه يصير العبد ربانيا، أي قريبا من الرب تعالى وبه يصير رفيقا للملأ الأعلى من الملائكة فإنهم على بساط القرب
“Bagian ketiga adalah berupaya sebisa mungkin mereguk sifat-sifat itu dan menanamkannya menjadi moralitas terpuji dalam diri kita, berhias dengan pernak-pernik keindahannya. Sehingga, ia berhasil menjadi rabbani, orang yang dekat dengan Tuhannya. Dengan itu, sang hamba dapat naik ke tingkatan lebih tinggi daripada malaikat yang berada di tingkatan menengah.” [Al-Maqshid Al-Asna fi Syarh Ma’ani Asma` Al-Husna hal. 45]



Post a Comment