Header Ads

Syahadat Sah Meski Pengucapnya Belum Belajar Asmaul Husna | Brilly El-Rasheed | 082140888638

082140888638 Ajaran Asmaul Husna Dalam Kitab Asy-Syifa Karya Al-Qadhi 'Iyadh Sesuai Manhaj Salaf


Sebagian muslim meyakini bahwa syahadat yang diucapkan oleh seseorang baru sah memasukkannya ke dalam Islam dengan syarat pengucapnya harus mengilmui, meyakini, menerima, mematuhi, tulus, ikhlas, mencintai. Keyakinan ini berkonsekuensi batalnya keislaman semua muallaf yang tidak memenuhi tujuh syarat tersebut. Bahaya! Padahal Rasulullah tidak mempersyaratkan ketujuh perkara tersebut. 

Siapa saja yang secara lisan mengucapkan La ilaha illAllah dan semisalnya dengan maksud mengikrarkan keberislaman maka dia muslim. Individu yang belum belajar Asmaul Husna kecuali hanya lafazh Allah saja untuk dibaca saat bersyahadat maka dia muslim. Belajar Asmaul Husna menjadi tuntunan lanjutan bagi siapa yang sudah masuk Islam. Manakala seorang muslim menolak Asmaul Husna otomatis kafir dan murtad. Namun tidak disyaratkan untuk sah syahadat harus sudah belajar Asmaul Husna seluruhnya.

Prof. Dr. Wan Maseri binti Wan Mohd difatwakan sebagai tokoh kesesatan oleh beberapa negara bagian Malaysia. Diwartakan oleh Mufti Negeri Selangor bahwa rektor International University of Asmaul Husna Pahang Malaysia tersebut mendakwa bahawa hanya Ajaran Asmaul Husna sahaja merupakan ajaran Islam yang sebenar dan mengkafirkan semua orang yang tidak mengikut ajarannya, serta  mendakwa Ajaran Asmaul Husna itu diterima terus daripada Allah melalui ilham kepadanya. [https://www.muftiselangor.gov.my/2023/10/28/fatwa-pengharaman-fahaman-dan-ajaran-asmaul-husna-oleh-dr-wan-maseri-binti-wan-mohd/] Mufti Negeri Sembilan secara gamblang menyatakan Universitas Asmaul Husna Malaysia yang dipimpin Wan Maseri tidak terdaftar di Kementerian Pengajian Tinggi, dan tidak memenuhi kriteria sebagai sebuah universitas. [https://muftins.gov.my/wp-content/uploads/2025/12/ajaran-asmaul-husna-wan-maseri-binti-wan-mohd.pdf] Mufti Wilayah Persekutuan mencatat Wan Maseri mengajarkan simpulan yang bukan ajaran Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah yakni bahwa lafaz dua kalimah syahadah bukanlah syarat sah keislaman dan hanya diterima selepas menghayati Asmaul Husna. [https://efatwa.muftiwp.gov.my/fatwa/Fatwa%20Berkenaan%20Dengan%20Penyelewengan%20Ajaran%20Dan%20Fahaman%20Asmaul%20Husna%20Yang%20Dibawa%20Oleh%20Dr.%20Wan%20Maseri%20Binti%20Wan%20Mohd?]

عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما ، قال: بَعَثَنَا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إلى الحُرَقَةِ من جُهَيْنَةَ فَصَبَّحْنَا القَوْمَ على مِيَاهِهِم، ولَحِقْتُ أنا ورجلٌ من الأنصارِ رجلًا منهم، فلما غَشِينَاهُ، قال: لا إله إلا الله، فَكَفَّ عنه الأَنْصَارِيُّ، وطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، فَلَمَّا قَدِمْنَا المدينةَ، بَلَغَ ذَلِكَ النبيَّ صلى الله عليه وسلم فقال لي: «يا أسامةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ: لا إلهَ إلَّا اللهُ؟!» قُلْتُ: يا رسولَ اللهِ، إنما كان مُتَعَوِّذًا، فقال: «أَقَتَلْتَهُ بعد ما قال: لا إلهَ إلَّا اللهُ؟!» فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حتى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لم أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ. 

وفي رواية: فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «أَقَالَ: لا إلهَ إلا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟!» قُلْتُ: يا رسولَ اللهِ، إنما قَالَهَا خَوْفًا من السِّلَاحِ، قال: «أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟!» فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ.

وعن جندب بن عبد الله رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بَعَثَ بَعْثًا مِن المسلمينَ إلى قومٍ من المشركينَ، وأنهم الْتَقَوا، فَكَانَ رجلٌ مِن المشركينَ إذا شَاءَ أَنْ يَقْصِدَ إلى رجلٍ مِن المسلمينَ قَصَدَ له فَقَتَلَهُ، وأَنَّ رجلًا مِن المسلمينَ قَصَدَ غَفْلَتَهُ. وكُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّهُ أسامةُ بْنُ زيدٍ، فَلَمَّا رَفَعَ عَلَيْهِ السَّيْفَ، قال: لا إلهَ إلا اللهُ، فَقَتَلَهُ، فجاءَ البَشِيرُ إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَهُ وأَخْبَرَهُ، حتى أَخْبَرَهُ خَبَرَ الرجلِ كَيْفَ صَنَعَ، فَدَعَاهُ فَسَأَلَهُ، فقال: «لِمَ قَتَلْتَهُ؟» فقال: يا رسولَ اللهِ، أَوْجَعَ في المسلمينَ، وقَتَلَ فُلانًا وفُلانًا، وسَمَّى له نَفَرًا، وإِنِّي حَمَلْتُ عليهِ، فَلَمَّا رَأَى السَّيْفَ، قال: لا إلهَ إلا اللهُ. قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : «أَقَتَلْتَهُ؟» قال: نعم. قال: «فَكَيْفَ تَصْنَعُ بلا إلهَ إلا اللهُ، إذا جَاءَتْ يَومَ القِيَامَةِ؟» قال: يا رسولَ اللهِ، اسْتَغْفِرْ لِي. قال: «وكَيْفَ تَصْنَعُ بلا إلهَ إلا اللهُ إذا جَاءَتْ يَوْمَ القِيَامَةِ؟» فجعل لا يَزِيدُ على أَنْ يقولَ: «كَيْفَ تَصْنَعُ بلا إلهَ إلا اللهُ إذا جَاءَتْ يَوْمَ القيامةِ».

Dari Usamah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu-ma, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah. Kami serang mereka secara mendadak di pagi buta di pusat air mereka. Aku dan seorang lelaki dari Anshar bertemu dengan seorang lelaki dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh". Orang Anshar tersebut menahan dirinya dari membunuhnya. Sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga ia terbunuh. Sesampainya kami di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu beliau bertanya kepadaku, "Wahai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh"? Aku berkata, "Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan saja." Beliau bersabda, " Apakah kamu membunuh dia setelah mengucapkan, "Lā ilāha illallāh"? Beliau terus-menerus mengulangi perkataan itu kepadaku hingga aku berangan-angan andai diriku belum masuk Islam sebelum hari itu."

Dalam satu riwayat, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bukankah ia telah mengucapkan, "Lā ilāha illallāh", mengapa engkau tetap membunuhnya?" Aku katakan, "Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata." Beliau bersabda, "Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut senjata atau tidak?" Beliau mengulang-ulang ucapannya itu hingga diriku menghayal lebih baik aku masuk Islam mulai hari itu saja."

Dari Jundub bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirimkan pasukan dari kaum muslimin kepada suatu golongan dari kaum musyrikin dan mereka bertemu (kontak senjata -edit). Kemudian jika seorang lelaki dari kaum musyrikin mengincar seorang dari kaum muslimin ia membunuhnya. Lantas ada seseorang dari kaum muslimin mengincar orang itu di waktu lengahnya. Kita semua menduga bahwa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Setelah orang itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik tadi mengucapkan, "Lā ilāha illallāh"? Namun, ia tetap dibunuh olehnya." Selanjutnya datanglah seorang pembawa berita gembira kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bertanya kepadanya dan orang itu bercerita sampai akhirnya orang itu memberitahukan pula tentang orang yang membunuh. Orang itu lalu dipanggil oleh beliau dan menanyakan hal tersebut kepadanya. Beliau bersabda, "Mengapa engkau membunuh orang itu?" Orang itu menjawab, "Wahai Rasulullah, orang itu telah banyak menyakiti kaum muslimin dan telah membunuh si fulan dan si fulan." Orang itu menyebutkan nama beberapa orang yang dibunuhnya. Ia melanjutkan, "Aku menyerangnya, tetapi setelah melihat pedang, ia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya, "Apakah ia engkau bunuh?" Ia menjawab, "Ya." Kemudian beliau bersabda, "Lalu apa yang akan engkau lakukan terhadap Lā ilāha illallāh, jika kalimat itu datang pada hari kiamat?" Orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Lalu apa yang akan engkau lakukan terhadap Lā ilāha illallāh, jika kalimat itu datang pada hari kiamat?" Beliau tidak menambahkan sabdanya lebih dari kata-kata, "Lalu apa yang engkau lakukan terhadap ia (Lā ilāha illallāh), jika kalimat itu datang pada hari kiamat?" [Shahih Muslim] [https://hadeethenc.com/id/browse/hadith/4816]

Prof. Dr. Wan Maseri binti Wan Mohd pernah memberikan uraian yang bagus dalam kunjungan ke Ali Mustafa Yaqub Institute pada 6 Januari 2019, "“Jika kita ingin meminta diberi ilmu, sebutlah Allahumma Ya ‘Aliim. Kita puji dulu Allah dengan sifat-Nya, selain itu kita juga harus mengesakan-Nya bahwa tak ada seorang makhluk pun yang memiliki kuasa terhadap ilmu. Ilmu itu hanya milik Allah semata. Kita tidak boleh merasa memiliki ilmu karena sejatinya ia adalah titipan dari-Nya yang sewaktu-waktu bisa Ia ambil kembali. Boleh jadi karena suatu kejadian kita akan lupa dengan apa yang sudah kita tahu. Tidak boleh mengambil sifat Allah dan merasa memilikinya karena kerapkali itu membuat orang menjadi sombong. Segala aktivitas yang dilakukan adalah karena tuntutan dari Allah. Maka sudah seharusnya Allah dihadirkan dalam setiap kegiatan, karena segala hal yang berada di sekeliling manusia sangat lekat dan erat dengan sifat-sifat-Nya. [https://bincangsyariah.com/kolom/asmaul-husna-sebagai-kunci-berkomunikasi-hamba-dengan-allah/]


082140888638 Kitab Rahmatul-Ummah Dikaji Rutin di Masjid Jami' Universitas Al-Azhar Cairo Mesir

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.