Header Ads

Manifestasi Asmaul Husna Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Nabi Muhammad | Brilly El-Rasheed | 082140888638

082140888638 Kajian Asmaul Husna Brilly El-Rasheed Quantum Fiqih Manhaj Salaf Thaifah Manshurah As-Sawad Al-A’zham Al-Ghuraba


Allah telah menjadi tuhan manusia sejak Nabi Adam dan terus-menerus hingga Nabi Muhammad bahkan hingga Nabi ‘Isa turun kembali. Manusia dengan segala piranti komunikasi verbal, nonverbal, hingga tanda, simbol, sandi, gambar dan tipografi menyebut Allah sebagai tuhannya yang benar sesuai yang disosialisasikan para Nabi dan Rasul. Bahasa dan tulisan sangat beragam dan terus bermetamorfosis. Bahasa pemrograman digital juga termasuk bahasa.


Tidak dapat disangkal bahwa bangsa Ibrani, Aram, dan Arab masih berpangkal pada El/Alaha/Allah dari Abraham/Ibrahim yang sama, sebagai Tuhan pencipta langit dan bumi yang menciptakan Adam, memanggil Nuh dan kemudian memanggil Abraham/Ibrahim yang disebut sebagai Bapa Orang Beriman (atau Bapa Monotheisme) yang dalam jalur Arab secara turun-temurun oleh kaum Hanif dirayakan sebagai Idul Adha. 

https://artikel.sabda.org/nama_allah


Manusia yang beriman kepada Allah sesuai ajaran Nabi Muhammad mesti mengakui Asmaul Husna. Asmaul Husna sudah dimiliki Allah sejak sebelum ada manusia dan bahasa, bahkan sebelum Dia menciptakan makhluq pertama. Asmaul Husna Allah mewujud melalui segala sesuai yang ada sekalipun tidak dapat diindera manusia.


Syaikh Muhammad Fethullah Gulen berkata, 

وَحِينَما نُطْلِقُ كَلِمَةَ «اسْمٍ» يَتَبَادَرُ إِلَى الذِّهْنِ جَمِيعُ أَسْمَاءِ اللَّهِ الْحُسْنَى، وَلِلَّهِ تَعَالَى أَسْمَاءٌ بِعَدَدِ تَصَرُّفَاتِهِ فِي الْكَوْنِ. إِنَّ الْكَوْنَ عِبَارَةٌ عَنْ تَجَلِّيَاتِ الْأَسْمَاءِ الْإِلَهِيَّةِ، وَالَّذِي يَتَمَوَّجُ فِي كُلِّ مَكَانٍ هُوَ أَسْمَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَحِينَما يُقَالُ «اسْمٌ» فَكُلُّ هَذِهِ التَّمَوُّجَاتِ تَتَبَادَرُ إِلَى الذِّهْنِ. إِنَّ لِلَّهِ أَسْمَاءً تَتَجَلَّى فِي جَمِيعِ أَرْجَاءِ الْكَوْنِ، وَحَسَبَ هَذِهِ الْأَسْمَاءِ فَإِنَّ كُلَّ شَيْءٍ يَسِيرُ سَيْرًا حَثِيثًا نَحْوَ الْكَمَالِ.

“Ketika kita mengucapkan kata ‘nama,’ semua Nama Terindah Tuhan terlintas dalam pikiran. Tuhan Yang Mahakuasa memiliki nama-nama yang selaras dengan tindakan-Nya terhadap semesta… Alam semesta adalah manifestasi dari nama-nama Ilahiyy. Apa yang bergejolak di mana-mana adalah nama-nama Tuhan Yang Mahakuasa, dan ketika ‘nama’ diucapkan, semua gejolak ini terlintas dalam pikiran.… (sebagai manifestasi nama-nama Allah tersebut yang relevan).... Nama-nama Tuhan terwujud di seluruh semesta, dan sesuai dengan nama-nama ini, segala sesuatu bergerak cepat menuju kesempurnaan.”


Syaikh Prof. Dr. Sa’id Nursiyy lebih dulu mengungkapkan bukti nyata Asmaul Husna yang termanifestasi dalam kehidupan semesta, 

«الْوَالِدُ الَّذِي يُشْفِقُ عَلَى أَوْلَادِهِ يُشْفِقُ أَيْضًا عَلَى جَمِيعِ الصِّغَارِ، بَلْ حَتَّى عَلَى ذَوِي الْأَرْوَاحِ، تُبَيِّنُ نَوْعًا مِنْ أَنْوَارِ اسْمِ اللَّهِ الرَّحِيمِ الْمُحِيطِ بِكُلِّ شَيْءٍ»،

“Ayah yang berbelas kasih kepada anak-anaknya juga berbelas kasih kepada semua anak muda, bahkan kepada jiwa-jiwa yang hidup, sehingga menampakkan semacam cahaya dari nama Allah, Yang Maha Pengasih, yang meliputi segala sesuatu,” 


dan ucapan beliau juga, 

«إِنَّ شَفَقَةَ سَيِّدِنَا يَعْقُوبَ عَلَيْهِ السَّلَامُ الَّتِي هِيَ أَسْطَعُ نُورٍ فِي أَسْطَعِ سُوَرِ الْقُرْآنِ، سُورَةِ يُوسُفَ، تُظْهِرُ اسْمَيِ «الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ»، وَتُعْلِنُ أَنَّ طَرِيقَ الشَّفَقَةِ هِيَ طَرِيقُ الرَّحْمَةِ، وَأَنَّ ضِمَادَ أَلَمِ الشَّفَقَةِ ذَاكَ إِنَّمَا هُوَ: ﴿فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ﴾ [يُوسُفُ: ٦٤].»

“Belas kasih junjungan kita Ya’qub, yang merupakan cahaya paling terang dalam surah paling terang di Al-Qur`an, Surah Yusuf, mengungkapkan dua nama Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, dan menyatakan bahwa jalan belas kasih adalah jalan rahmat, dan bahwa obat penawar rasa sakit karena belas kasih tidak lain adalah (Dialah pelindung yang terbaik dan Dialah Yang Maha Penyayang di antara yang penyayang) [QS. Yusuf: 64]


Syaikhah Dr. Nousa Elsayed menuturkan, 

فَلَفْظُ الْجَلَالَةِ مُعْجِزٌ، فَالْإِنْسَانُ حِينَ يَذْكُرُ اسْمًا مِنْ أَسْمَائِهِ تَعَالَى يَسْتَحْضِرُ عَلَاقَةَ هَذَا الِاسْمِ بِالْمَوْجُودَاتِ، فَحِينَمَا يَقُولُ: يَا كَرِيمُ، يَسْتَحْضِرُ إِكْرَامَ اللَّهِ لَهُ، وَهَكَذَا... وَلَكِنْ حِينَمَا يَذْكُرُ اسْمَ الْجَلَالَةِ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ تَخَطَّى كُلَّ الْأَمَانِي وَالْمَطَالِبِ، وَأَعْلَنَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَعْبُودُ الْمُطْلَقُ، لَا لِشَيْءٍ، بَلْ لِأَنَّهُ هُوَ اللَّهُ.

“Lafazh Jalalah (nama Allah) itu ajaib. Ketika seseorang menyebut salah satu nama Tuhan, ia mengingat hubungan nama itu dengan hal-hal yang ada. Ketika ia berkata, "Wahai Yang Maha Dermawan," ia mengingat kemurahan hati Tuhan kepadanya, dan seterusnya. Tetapi ketika ia menyebut nama Tuhan, ia telah melampaui semua harapan dan tuntutan, dan menyatakan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mutlak, bukan karena alasan apa pun, tetapi karena Dia adalah Tuhan.”

https://hiragate.com/29472/

082140888638 Kajian Asmaul Husna Brilly El-Rasheed Quantum Fiqih Manhaj Salaf Thaifah Manshurah As-Sawad Al-A’zham Al-Ghuraba

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.