Rahasia Perbedaan/Variasi Lafazh dan Makna Masing-masing Asmaul Husna | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Kata Allah sebagai sebuah nama tuhan dipercaya oleh sebagian Yahudiyy konvensional dan Nashraniyy ortodoks yang masih komitmen dengan bahasa Arab. Tatkala Nabi Muhammad mendapatkan risalah (kerasulan), beliau memperkenalkan ‘konsep’ (makrifat) Allah yang distingtif melalui Asmaul Husna. Andai Nabi Muhammad tidak mendeskripsikan Allah melalui Asmaul Husna mungkin penduduk Hijaz mengira Allah yang dimaksud sama dengan Allah dalam teologi bid’ah Yahudiyy dan Nashraniyy pasca tahrif.
Allah yang dipromosikan oleh Nabi Muhammad memiliki nama-nama yang tidak terbatas sebagai cerminan/refleksi atas sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Muslim wajib berusaha belajar makna masing-masing Asmaul Husna. Tatkala individu Islam tidak makrifat Allah melalui Asmaul Husna sudah barang tentu akan salah dalam bertuhan. Jangan sampai kita menyembah tuhan yang berbeda dengan tuhan yang disembah Nabi Muhammad. Kacau!
Imam Ibnu ‘Arabiyy menguraikan,
وَالْأَسْمَاءُ الْإِلَهِيَّةُ، وَإِنْ دَلَّتْ عَلَى ذَاتٍ وَاحِدَةٍ، فَإِنَّهَا تَتَمَيَّزُ فِي أَنْفُسِهَا مِنْ طَرِيقَيْنِ: الْوَاحِدُ مِنِ اخْتِلَافِ أَلْفَاظِهَا، وَالثَّانِي مِنِ اخْتِلَافِ مَعَانِيهَا، وَإِنْ تَقَارَبَتْ غَايَةَ الْقُرْبِ وَتَشَابَهَتْ غَايَةَ الشَّبَهِ. وَأَسْمَاءُ الْمُقَابَلَةِ فِي غَايَةِ الْبُعْدِ، كَالضَّارِّ وَالنَّافِعِ، وَالْمُعِزِّ وَالْمُذِلِّ، وَالْمُحْيِي وَالْمُمِيتِ، وَالْهَادِي وَالْمُضِلِّ. فَلَا بُدَّ مِنْ مُرَاعَاةِ حُكْمِ مَا تَدُلُّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَانِي، وَبِهَذَا يَتَمَيَّزُ الْعَالِمُ مِنَ الْجَاهِلِ. وَمَا أَتَى الْحَقُّ بِهَا مُتَعَدِّدَةً إِلَّا لِمُرَاعَاةِ مَا تَدُلُّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَانِي، وَمُرَاعَاةُ قَصْدِ الْحَقِّ تَعَالَى فِي ذَلِكَ أَوْلَى مِنْ غَيْرِهِ، فَلَا بُدَّ مِنَ التَّعْيِينِ لِحُصُولِ الْفَائِدَةِ الْمَطْلُوبَةِ بِذَلِكَ اللَّفْظِ الْمُعَيَّنِ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ تَرْكِيبَاتِ الْأَلْفَاظِ الَّتِي هِيَ الْكَلِمَاتُ الْإِلَهِيَّةُ.
“Dan nama-nama Ilahiyy (Asmaul Husna), sekalipun semuanya menunjukkan kepada satu Dzat (entitas yaitu Allah), sesungguhnya masing-masing nama berbeda pada dirinya sendiri melalui dua sisi. Pertama, dari perbedaan lafazh-lafazhnya; dan kedua, dari perbedaan makna-maknanya, meskipun makna-makna itu sangat berdekatan dan sangat menyerupai satu sama lain. Adapun nama-nama yang saling berlawanan berada pada tingkat perbedaan yang sangat jauh, seperti Adh-Dhārr (Yang Menimpakan Mudarat) dan An-Nāfi‘ (Yang Memberi Manfaat), Al-Mu‘izz (Yang Memuliakan) dan Al-Mudzill (Yang Menghinakan), Al-Muhyī (Yang Menghidupkan) dan Al-Mumīt (Yang Mematikan), serta Al-Hādī (Yang Memberi Petunjuk) dan Al-Mudzill (Yang Menyesatkan). Maka harus diperhatikan hukum makna yang ditunjukkan oleh masing-masing nama tersebut. Dengan cara itulah orang yang berilmu dapat dibedakan dari orang yang bodoh. Dan Al-Haqq tidak mendatangkan nama-nama itu dalam bentuk yang beragam kecuali agar diperhatikan makna-makna yang ditunjukkannya. Memperhatikan maksud Al-Haqq Ta‘ala dalam hal itu lebih utama daripada memperhatikan selainnya. Oleh karena itu, penentuan secara khusus merupakan suatu keharusan agar diperoleh faedah yang dikehendaki melalui lafazh tertentu (dari masing-masing Asmaul Husna) tersebut, bukan melalui susunan lafazh-lafazh lain yang merupakan kalimat-kalimat Ilahiyy (firman Allah).”



Post a Comment