Al-Mizan Al-Kubra Penerus Kitab Ihya` ‘Ulumiddin | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Berkali-kali Gus Baha menegaskan karya besar Imam Al-Ghazaliyy bertajuk Ihya` ‘Ulumiddin merupakan kitab fiqih. Meski demikian, Gus Baha tidak menafikan corak tazkiyatun-nafs dalam masterpiece Hujjatul-Islam tersebut. Tidak banyak -untuk tidak dikatakan tidak ada- korpus para ulama yang mengawinkan fiqih dan tazkiyatun-nafs.
Syaikh Prof. Dr. Muhammad Abu Zaid Al-Amir Al-Azhariyy menilai Al-Mizan Al-Kubra merupakan pelanjut Kitab Ihya`. Bagaimana tidak? Mainstream literatur fiqih pada masa itu berkiblat pada Imam Abu Hanifah dengan corak ra`yu (logika) atau pada Imam Malik dengan corak naqliyy (teks-sentris). Corak baru dihadirkan murid Imamul-Haramain melalui Kitab Ihya`. Sebakda itu, tidak ada kitab yang bercorak sama hingga terbitlah karya Mujaddid baru murid Imam ‘Aliyy Al-Khawashsh yakni Al-Mizan Al-Kubra.
Al-Mîzan Al-Kubrâ tergolong referensi fiqih komparatif (muqarin). Sekilas mungkin sama dengan Bidâyah Al-Mujtahid milik Imam Ibnu Rusyd dan Rahmah Al-Ummah karya Imam Muhammad Ash-Shafadiyy. Hanya saja, magnum opus Imam ‘Abdul-Wahhab Asy-Sya’raniyy ini terbilang terobosan baru. Asy-Sya'raniyy mengkristalisasi barometer baru sebagai sikap atas perbedaan pendapat lintas madzhab, tidak lagi sibuk mentarjih, melainkan mengklasifikasi pendapat tertentu sebagai hukum yang memberatkan (tasydid) dan pendapat lain sebagai hukum yang meringankan (takhfif).
Pendapat yang berbeda-beda tetap berfungsi solutif. Tidak ada ijtihad yang dibuang. Asy-Sya’raniyy mengungkapkan, “Masing-masing derajat ringan dan berat memiliki pemerannya. Seseorang yang kuat dalam hal keimanan serta fisik, maka ia dikenai Syariat (hukum) yang berat, baik hukum itu secara tegas dan definitif disebut oleh Syariat, ataupun hukum tersebut hasil dari ijtihad. Baik pendapat yang berat tadi merupakan pendapat madzhab orang yang bersangkutan atau pun dari madzhab lain. Sedangkan seseorang yang lemah secara keimanan dan fisik, maka ia mendapat hukum dengan derajat ringan, baik pendapat yang ringan itu dari madzhab orang yang bersangkutan atau pun dari madzhab lain"
Konsep fenomenal Al-Mizan Al-Kubra ini bermanfaat sepenuhnya untuk menekan angka sektarianisme dan jumlah anarkisme atas nama agama. Formula Asy-Sya’raniyy ini membuat umat menjadi sadar untuk saling menghormati dan memahami. Asy-Sya’raniyy juga mengingatkan bahwa produk-produk ijtihad yang bervariasi digulirkan berbagai ulama ialah agar Islam tetap dipegang teguh, tanpa ada yang merasa sudah keluar dari agama hanya karena tidak ada ijtihad yang relevan dengan situasi.


Post a Comment