Setiap Sebelum Tidur Kita Dituntunkan Mengingat Asmaul Husna | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Tidur merupakan aktivitas vital dalam Islam. Tidur seolah-olah kegiatan rutin yang biasa saja. Tidur diposisikan oleh Rasulullah sebagai penutup usia secara preventif. Tidur sepertinya hanya sebatas menutupkan mata dan mengistirahatkan badan. Tidur justru sebagai momen terbaik mengenang Asmaul Husna, menurut Nabi Muhammad. Seolah-olah sebelum kita menyerahkan tubuh kepada tidur, kita terlebih dahulu menyerahkan seluruh urusan hidup kepada Allah: Al-Awwal, Al-Akhir, Azh-Zhahir, Al-Bathin, Rabb seluruh alam.
Dari Abu Hurairah, Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak istirahat di tempat tidurnya, beliau membaca,
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْباطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ.
“Ya Allah, Rabb langit, Rabb bumi, dan Rabb ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Yang menumbuhkan benih dan biji-bijian. Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqaan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang mendatangkan kejahatan. Engkau-lah yang memegang jambulnya. Engkau-lah yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkau-lah yang Maha Akhir, tidak ada sesuatupun setelah-Mu. Engkaulah yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Dan Engkaulah yang Maha Bathin, tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu. Bayarlah hutang kami, dan cukupilah kami dari kekurangan”. [Shahih Muslim no. 2713]
Sebelum merebahkan tubuh, seorang muslim diajak mengingat kembali siapa Rabb yang menguasai dirinya, langit, bumi, ‘Arsy yang agung, dan seluruh alam semesta. Doa yang diajarkan Nabi ﷺ sebelum tidur bukan sekadar permohonan perlindungan, melainkan rangkaian pengenalan dan pengagungan terhadap Allah melalui Asma (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya. Dengan demikian, saat tubuh bersiap memasuki keadaan tidak sadar, hati justru diarahkan untuk sadar sepenuhnya terhadap Allah.
Doa sebelum tidur ini menunjukkan bahwa mengenang Asmaul Husna menjelang lelap bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi latihan kesadaran untuk menyerahkan seluruh diri kepada Allah. Kita memohon perlindungan dari segala kejahatan kepada Dzat yang memegang kendali atas seluruh makhluk, kemudian memohon agar Allah melunasi utang dan mencukupi segala kekurangan. Ada ketenangan besar ketika seseorang tidur setelah menyadari bahwa dirinya berada di bawah pemeliharaan Rabb yang tidak pernah kehilangan kendali atas apa pun. Karena itu, tidur dalam perspektif sunnah bukan sekadar berhentinya aktivitas jasmani, melainkan kesempatan menutup hari dengan tauhid, dzikir, pengagungan, dan penghayatan terhadap Asmaul Husna.



Post a Comment