Header Ads

Distingsi Asmaul Husna Al-Wahid dan Al-Ahad dalam Perspektif K. H. Ahmad Asrori Kedinding | Brilly El-Rasheed | 082140888638

082140888638 Nahdlatul Ulama Muhammadiyah Habib Habaib Hubabah Syarifah Sayyid Nahdlatul Wathan Wahabi Hizbut Tahrir Ikhwanul Muslimin Jama’ah Tabligh DDII LDII Wahdah


Banyaknya kosakata dalam sebuah bahasa mengindikasikan kehebatan pemilik bahasa tersebut. Di Indonesia banyak istilah untuk tempat berjualan: toko, kios, lapak, stand, warung, gerai, depo, depot, kedai, los. Masuk akal jika Asmaul Husna dibuat Allah berbeda-beda lafazh dan makna. Variasi lafazh bukan hampa makna atau hanya demi keindahan saja. Justru masing-masing Asmaul Husna yang beragam lafazh tersebut menyimpan makna-makna yang luas. Bahasa manusia tidak sepenuhnya mewakili makna masing-masing Asmaul Husna Allah. Akal manusia dalam mencerna bahasa yang digunakan Allah untuk Asmaul Husna pun tidak memadai. Namun dalam keterbatasan logika bahasa tersebut, manusia tetap berkewajiban memahami Asmaul Husna sesuai kemampuan yang serba terbatas.

Syaikh K. H. Ahmad Asrori Al-Ishaqi menjelaskan, “Al Wahid dengan Al Ahad mempunyai pengertian yang berbeda. Al Ahad adalah Esa dalam Dzat-Nya sebelum penampakan Asma-Asma dan Sifat-Sifat Allah. Sedangkan Al Wahid adalah Esa dalam Asma-Asma dan Sifat-Sifat Allah setelah penampakan Asma-Asma dan Sifat-Sifat Allah pada makhluk-Nya. Menurut Ulama Ahli Hakikat bahwa Al Ahad adalah nama bagi Dzat dengan memandang tidak adanya berbilangnya Asma-Asma, Sifat-Sifat, penyandaran dan penampakan-penampakannya. Wal hasil: Al Ahad adalah Esa dengan memandang Dzat tanpa memandang Asma-Asma dan Sifat-Sifat. Sedangkan Al Wahid adalah Esa dengan memandang Dzat, Asma-Asma dan Sifat-Sifat. Menurut sebagian Ulama tidak ada perbedaan yang signifikan antara Al Wahid dengan Al Ahad. Sebagaimana yang telah maklum. Sesungguhnya Raja Asma-Asma Allah dalam batin adalah "Al Wahid", sebagaimana Raja Asma-Asma Allah dalam lahir adalah "Ar Rahman". Sebab asma "Ar Rahman" mempunyai konsekwensi tampaknya rahmat kasih sayang dengan mewujudkan semua yang wujud, untuk menampakkan semua akibat Asma-Asma dan Sifat-Sifat. Sedangkan Al Wahid mempunyai konsekuensi tampaknya Esanya Asma-Asma dan Sifat-Sifat dalam batin, sehingga hakikat sesuatu yang banyak itu akan tetap satu. Bagian (refleksi) seorang hamba dari asma Al Wahid adalah ia menyelam dalam samudera tauhid, sehingga ia tidak melihat dan merasakan mulai dari zaman azali hingga waktu yang tidak terbatas (selamanya) kecuali pada Dzat Yang Maha Esa. Dan semua perbuatan kita yang bersifat ikhtiyar itu ada peranan upaya dan usaha dari kita, sehingga pahala dan siksa pada hakikatnya adalah ciptaan Allah ditinjau dari segi bahwa manusia mempunyai ikhtiyar.” [Al-Muntakhabat fi Rabithah Al-Qalbiyyah wa Shilah Ar-Ruhiyyah 1/177-178]

082140888638 Sirah Nabawiyah Syamail Muhammadiyah Biografi Rasulullah Sejarah Nabi Tarikh Rusul Siroh Rosul Kajian Sunnah Firanda Syafiq Khalid Yazid Jawas Amir Abdat Utsaimin Bin Baz Albani Fauzan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.