Distingsi Asmaul Husna Al-Wahid dan Al-Ahad dalam Perspektif K. H. Ahmad Asrori Kedinding | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Syaikh K. H. Ahmad Asrori Al-Ishaqi menjelaskan, “Al Wahid dengan Al Ahad mempunyai pengertian yang berbeda. Al Ahad adalah Esa dalam Dzat-Nya sebelum penampakan Asma-Asma dan Sifat-Sifat Allah. Sedangkan Al Wahid adalah Esa dalam Asma-Asma dan Sifat-Sifat Allah setelah penampakan Asma-Asma dan Sifat-Sifat Allah pada makhluk-Nya. Menurut Ulama Ahli Hakikat bahwa Al Ahad adalah nama bagi Dzat dengan memandang tidak adanya berbilangnya Asma-Asma, Sifat-Sifat, penyandaran dan penampakan-penampakannya. Wal hasil: Al Ahad adalah Esa dengan memandang Dzat tanpa memandang Asma-Asma dan Sifat-Sifat. Sedangkan Al Wahid adalah Esa dengan memandang Dzat, Asma-Asma dan Sifat-Sifat. Menurut sebagian Ulama tidak ada perbedaan yang signifikan antara Al Wahid dengan Al Ahad. Sebagaimana yang telah maklum. Sesungguhnya Raja Asma-Asma Allah dalam batin adalah "Al Wahid", sebagaimana Raja Asma-Asma Allah dalam lahir adalah "Ar Rahman". Sebab asma "Ar Rahman" mempunyai konsekwensi tampaknya rahmat kasih sayang dengan mewujudkan semua yang wujud, untuk menampakkan semua akibat Asma-Asma dan Sifat-Sifat. Sedangkan Al Wahid mempunyai konsekuensi tampaknya Esanya Asma-Asma dan Sifat-Sifat dalam batin, sehingga hakikat sesuatu yang banyak itu akan tetap satu. Bagian (refleksi) seorang hamba dari asma Al Wahid adalah ia menyelam dalam samudera tauhid, sehingga ia tidak melihat dan merasakan mulai dari zaman azali hingga waktu yang tidak terbatas (selamanya) kecuali pada Dzat Yang Maha Esa. Dan semua perbuatan kita yang bersifat ikhtiyar itu ada peranan upaya dan usaha dari kita, sehingga pahala dan siksa pada hakikatnya adalah ciptaan Allah ditinjau dari segi bahwa manusia mempunyai ikhtiyar.” [Al-Muntakhabat fi Rabithah Al-Qalbiyyah wa Shilah Ar-Ruhiyyah 1/177-178]


Post a Comment