Header Ads

Asmaul Husna Sebagai Kalimat Thayyibah | Brilly El-Rasheed | 082140888638

082140888638 Nahdlatul Ulama Muhammadiyah Habib Habaib Hubabah Syarifah Sayyid Nahdlatul Wathan Wahabi Hizbut Tahrir Ikhwanul Muslimin Jama’ah Tabligh DDII LDII Wahdah


Asmaul Husna sebagai identitas Allah memiliki sisi lain. Asmaul Husna hak milik Allah yang sudah diberikan-Nya kepada manusia. Allah memfirmankan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in namun sudah diberikan-Nya kepada manusia sebagai ikrar mereka kepada Allah. Allah mengajarkan Asmaul Husna agar menjadi ucapan pujian manusia kepada Allah. Andai manusia tidak diajarkan bahasa untuk ‘membahasakan’ Allah dengan segala Asmaul Husna-Nya, tentu manusia tidak punya standar tentang Allah dan kemanusiawian. 

Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandariyy Al-Asy’ariyy Al-Malikiyy Asy-Syadziliyy mengatakan,

العِباراتُ قُوتٌ لعائِلَةِ المُسْتَمِعينَ، وَلَيْسَ لَكَ إلّا ما أنْتَ لَهُ آكِلٌ.

“Ucapan itu ibarat hidangan makanan bagi mereka yang lapar dengan mendengarkan, dan jatahmu hanyalah apa yang engkau makan darinya.”

Manusia berhajat dengan kalimat. Kalimat lah yang menuntun mindset. Motto, slogan, prinsip, undang-undang, aturan, dan lain-lain. Motivasi manusia tidak terbentuk kecuali oleh kalimat. Kalimat ialah apa saja yang terkonsep dalam pikiran baik diujarkan lalu diperdengarkan atau tidak. Allah memfirmankan Asmaul Husna sebagai panduan.

Istri Abu Lahab mendatangi Nabi Muhammad dan Abu Bakar yang sedang santai di sekitaran Masjidil-Haram, “Mana Muhammad? Demi Allah, kalau aku menemukannya, akan aku pukul mulutnya dengan batu kuali panas ini,” ujarnya tanpa bisa melihat sosok Nabi Muhammad di situ, mungkin darah amarahnya memuncak ke mata, pasalnya baru saja turun firman Allah Surah Al-Lahab. Demikian catatan sejarah dalam Kitab Asy-Syifa karya Al-Qadhi ‘Iyadh. 

Allah dalam paradigma istri Abu Lahab dan seluruh manusia pada masa itu tidak lagi orisinil. Allah disebut-sebut tanpa hakekat yang benar. Nashraniyy dan Yahudiyy menyebut Allah sebagai salah satu dari tiga serangkai Tuhan. Berbeda dengan pengikut Nabi ‘Isa dan Nabi Israel (Ya’qub) yang tetap bertuhan Allah sesuai teks otentik Injil, Taurat dan Zabur serta Shuhuf Ibrahim dan Musa. Publik Arab menyebut Allah sebagai salah satu dari 360-an tuhan imitasi. Identitas Allah sebagai tuhan sudah kabur, samar, pudar.

Nabi Muhammad hadir dengan membawa Asmaul Husna sebagai identitas Allah yang tulen. Dengan Asmaul Husna, manusia tercerahkan ideologinya tentang Tuhan. Dengan Asmaul Husna, manusia terdidik dengan karakter-karakter positif Allah. Andai manusia tidak diajarkan Asmaul Husna dalam bahasa ‘Arab dengan segala substansinya masing-masing, tentu manusia tidak punya standar tentang Allah dan kemanusiawian. Asmaul Husna itulah Kalimat Thayyibah (ucapan yang baik).


082140888638 Nahdlatul Ulama Muhammadiyah Habib Habaib Hubabah Syarifah Sayyid Nahdlatul Wathan Wahabi Hizbut Tahrir Ikhwanul Muslimin Jama’ah Tabligh DDII LDII Wahdah



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.