Bagaimana Bisa Bacaan Asmaul Husna Kita Berdaya Magis? | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Kita mestinya musykil bagaimana bisa lisan komat-kamit dengan bahasa manusia membuat Allah mau mewujudkan isi permohonan. Kita lumrahnya janggal bagaimana bisa mulut merapal Asmaul Husna lalu Allah berkenan mewujudkan isi permintaan. Kalau bukan karena Allah menghargai gerak bibir, maka sejujurnya aksara-aksara yang terucap tidak ada artinya.
Ganjil rasanya tutur kata bisa membuat orang miskin kaya, hina mulia, lemah kuat, mustahil mungkin, sulit mudah, kemarau hujan, panas dingin, sakit sehat, dan seterusnya, dan sebaliknya. Kalau bukan Allah yang sedemikian menghormati manusia yang serba tidak kuasa. Apa saktinya bunyi-bunyian yang terlontar meski sesama manusia paham, apalagi hanya getaran qalbu? Tidak punya daya magis apapun kalau tidak diisi Allah.
Aneh sebenarnya ucapan bisa membuat Allah rela (ridha) ‘bertindak’ untuk mengijabahi ucapan tersebut agar tidak seperti senapan angin tanpa peluru. Kalau bukan karena Allah sudah mengetok ‘palu taqdir’ maka kekhusyu’an pikiran dalam memanjatkan hajat tidak pernah ada fungsinya. Pakar-pakar motivasi menyebut adanya energi afirmasi oleh otak, sejatinya bukan karena otak itu mengeluarkan energi cahaya, listrik maupun suara untuk menggerakkan semesta. Allah yang menggerakkan semesta agar relevan dengan siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk dikabulkan oleh-Nya.
Asmaul Husna adalah milik Allah. Allah ajarkan kepada manusia untuk mereka baca dengan akal dan oral. Asmaul Husna yang diverbalkan oleh manusia atau dipikirkan atau ditulis menjadikan Allah mengabulkan maqshud (tujuan yang diinginkan) manusia adalah karena Allah sudah mentaqdirkan 50.000 tahun sebelum mencipta makhluq. Bukan karena manusia mengujarkan Asmaul Husna yang membuat Allah berbuat sesuai harapan manusia. Allah yang jauh lebih dulu menulis di Al-Lauh Al-Mahfuzh bahwa fulan ini dan itu pada momen ini dan itu ber-Asmaul Husna kemudian Allah mewujudkan impian.
Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandariyy Al-Malikiyy Asy-Syadziliyy Al-Asy’ariyy mengingatkan,
٭ كَيْفَ يَكُونُ طَلَبُكَ اللاَّحِقَُ سَبـبًا فى عَطَاءِـهِ السَّابِقِ ٭
180. “Bagaimana mungkin permintaanmu yang datang belakangan, itu bisa menjadi sebab pemberian ALLAH yang telah ditetapkan dan diputuskan lebih dahulu.”
٭ جَلَّ حُكْمُ الاَزَلِ اَنْ يُضَافَ اِلى الْعلَلِ ٭
181. “Maha suci hukum(putusan) ALLAH yang telah pasti dalam azal, jika disandarkan kepada sebab musabab(‘ilat).”
٭ عِنَايَـتـُهُ فِيْـكَ لالِشَْىءٍ مِنْكَ وَايْنَ كُنْتَ حِينَ وَاجَهَـتـْكَ عِنَـَايَتـُهُ وَقَا بَلَتـْكَ رِعَايَتـُهُ لَمْ يَكُنْ فِى اَزَلِهِ اِخلاََصُ اَعْماَلٍِ وَلاَ وُجُدُ اَحْوَالٍ بَلْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ الاَّ مَحْضُ الاِفْضال وَعَظيمُ النَّوّالِ ٭
182. “Pemberian dan perhatian ALLAH kepadamu itu bukan karena sesuatu yang keluar/muncul dari kamu (seperti do’a dan amal shalih), buktinya: di manakah kamu ketika ALLAH menetapkan karunia-Nya kepadamu pada zaman azal? (pada zaman azal kamu dimana? Kamu tidak ada, kamu juga tidak berbuat apa-apa), pada saat itu (zaman azal) tidak ada do’a atau amal yang ikhlas atau ahwal, bahkan tidak ada apa-apa ketika itu kecuali hanya semata-mata anugerah karunia dan pemberian ALLAH yang agung.”


Post a Comment