Header Ads

Madzhab Abu Yazid Al-Busthamiyy dan Al-Junaid Tentang Ismul-A'zhom (Al-Ism Al-A'zham) | Fakhruddin Ar-Raziyy | 082140888638

Aa Gym Arifin Ilham Buya Syakur Buya Yahya UAS UAH UJE Mama Dedeh Oky Setiana Dewi Celine Evangelista Asmaul Husna Al-Ghazaliyy Murtadha Az-Zabidiyy Teuku Wisnu Asrori Arrazy Hasyim Buya Hamka Baalawi PWI LS Albani Wafi Faris Baswedan Utsaimin Rabi Madkhali Muqbil Wadi’i Bin Baz Shalih Fauzan Muhammad bin Abdul Wahhab Ibnu Taimiyah Ibnu Qayyim Ibnul Jauzi


Fakhruddin Ar-Raziyy dalam Lawami' Al-Bayyinat menukil riwayat,

وَمِنْهَا: أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى أَبِي يَزِيدَ وَقَالَ: أَخْبِرْنِي عَنْ اسْمِ اللَّهِ الْأَعْظَمِ. فَقَالَ أَبُو يَزِيدَ: اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ مَحْدُودٌ، وَلَكِنْ فَرِّغْ قَلْبَكَ لِوَجْهِ اللَّهِ، فَإِذَا كُنْتَ كَذَلِكَ فَاذْكُرْ أَيَّ اسْمٍ شِئْتَ.

Di antara dalil pendapat tersebut ialah bahwa seorang laki-laki datang kepada Abu Yazid dan berkata, “Beritahukanlah kepadaku tentang Nama Allah Yang Mahabesar.” Abu Yazid menjawab, “Nama Allah Yang Mahabesar tidak memiliki batas tertentu, tetapi kosongkanlah qalbumu untuk Allah. Apabila engkau telah demikian, maka sebutlah nama apa saja yang engkau kehendaki.”

وَمِنْهَا: مَا رُوِيَ عَنِ الْجُنَيْدِ أَنَّهُ جَاءَتْهُ امْرَأَةٌ وَقَالَتْ: ادْعُ اللَّهَ لِي، فَإِنَّ ابْنِي ضَاعَ. فَقَالَ: اذْهَبِي وَاصْطَبِرِي. فَمَضَتْ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَالَتْ مِثْلَ ذَلِكَ مَرَّاتٍ، وَالْجُنَيْدُ يَقُولُ: اصْبِرِي. فَقَالَتْ مَرَّةً: عِيلَ صَبْرِي وَمَا بَقِيَتْ لِي طَاقَةٌ، فَادْعُ لِي. فَقَالَ لَهَا الْجُنَيْدُ: إِنْ كَانَ كَمَا قُلْتِ، فَاذْهَبِي، فَقَدْ رَجَعَ ابْنُكِ. فَمَضَتْ، ثُمَّ عَادَتْ تَشْكُرُ اللَّهَ. فَقِيلَ لِلْجُنَيْدِ: بِمَ عَرَفْتَ ذَلِكَ؟ قَالَ: قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ﴾.

Di antara dalil pendapat tersebut ialah riwayat dari Al-Junaid bahwa seorang perempuan datang kepadanya dan berkata, “Berdoalah kepada Allah untukku, karena anakku telah hilang.” Ia berkata, “Pergilah dan bersabarlah.” Perempuan itu pun pergi. Kemudian ia kembali dan mengatakan hal yang sama beberapa kali, sementara Al-Junaid selalu berkata, “Bersabarlah.” Pada suatu kali perempuan itu berkata, “Kesabaranku telah habis dan aku sudah tidak memiliki kemampuan lagi, maka berdoalah untukku.” Al-Junaid berkata kepadanya, “Jika keadaanmu sebagaimana yang engkau katakan, pergilah, karena anakmu telah kembali.” Perempuan itu pun pergi, kemudian kembali sambil bersyukur kepada Allah. Lalu Al-Junaid ditanya, “Dengan apa engkau mengetahui hal tersebut?” Ia menjawab, “Allah Ta‘ala berfirman: ‘Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam keadaan terdesak apabila ia berdoa kepada-Nya?’” 

وَاعْلَمْ أَنَّهُ ظَهَرَ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ الْعَبْدَ كُلَّمَا كَانَ انْقِطَاعُ قَلْبِهِ عَنِ الْخَلْقِ أَتَمَّ، كَانَ الِاسْمُ الَّذِي بِهِ يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَعْظَمَ، وَلَا شَكَّ أَنَّ الْعَبْدَ فِي آخِرِ نَفَسِهِ يَنْقَطِعُ أَمَلُهُ عَنِ الْخَلْقِ بِالْكُلِّيَّةِ، فَلَمْ يَبْقَ فِي قَلْبِهِ رَجَاءٌ وَلَا خَوْفٌ إِلَّا مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، 

Dan ketahuilah bahwa dari perkataan ini tampak bahwa seorang hamba, setiap kali keterputusan qalbunya dari segala makhluk semakin sempurna, maka asma (nama) yang dengannya ia mengingat Allah ‘Azza wa Jalla menjadi semakin agung. Tidak diragukan lagi bahwa seorang hamba pada akhir hayatnya, harapannya kepada makhluk akan terputus secara keseluruhan, sehingga tidak tersisa dalam qalbunya harapan maupun rasa takut kecuali kepada Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi.

فَلَا جَرَمَ إِذَا ذَكَرَ الْعَبْدُ رَبَّهُ فِي مِثْلِ ذَلِكَ الْوَقْتِ بِأَيِّ اسْمٍ كَانَ، فَقَدْ ذَكَرَهُ بِأَعْظَمِ الْأَسْمَاءِ، وَمَتَى ذَكَرَ الْعَبْدُ رَبَّهُ بِأَعْظَمِ الْأَسْمَاءِ لَزِمَ فِي كَرَمِهِ وَرَحْمَتِهِ وَجُودِهِ أَنْ يَخُصَّ ذَلِكَ الْعَبْدَ بِأَعْظَمِ أَنْوَاعِ الْجُودِ وَالْكَرَمِ، وَمَا ذَاكَ إِلَّا بِأَنْ يُخَلِّصَهُ مِنْ دَرَكَاتِ الْعَذَابِ وَيُوصِلَهُ إِلَى دَرَجَاتِ الثَّوَابِ، فَلِهَذَا الْمَعْنَى قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ».

Maka tidak diragukan lagi, apabila seorang hamba mengingat Tuhannya pada momen seperti itu (momen tiada lagi harapan atau sekadar ingatan kepada selain Allah) dengan Asmaul Husna apa pun, sungguh ia telah mengingat-Nya dengan Al-Ism Al-A’zham (nama-nama yang paling agung). Kapan pun seorang hamba mengingat Tuhannya dengan nama-nama yang paling agung, maka berdasarkan kemurahan-Nya, rahmat-Nya, dan kedermawanan-Nya, sudah semestinya Dia mengkhususkan hamba tersebut dengan jenis kemurahan dan kedermawanan yang paling agung. Hal itu tidak lain adalah dengan menyelamatkannya dari tingkatan-tingkatan adzab dan menyampaikannya kepada derajat-derajat pahala. Karena makna inilah, Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya adalah ‘Lā ilāha illallāh’ (tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah), niscaya ia masuk Surga.”

Aa Gym Arifin Ilham Buya Syakur Buya Yahya UAS UAH UJE Mama Dedeh Oky Setiana Dewi Celine Evangelista Asmaul Husna Al-Ghazaliyy Murtadha Az-Zabidiyy Teuku Wisnu Asrori Arrazy Hasyim Buya Hamka Baalawi PWI LS Albani Wafi Faris Baswedan Utsaimin Rabi Madkhali Muqbil Wadi’i Bin Baz Shalih Fauzan Muhammad bin Abdul Wahhab Ibnu Taimiyah Ibnu Qayyim Ibnul Jauzi

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.