Header Ads

Kisah Nabi Sulaiman dan Pemuda Berumur 2.400 Tahun Lebih | Brilly El-Rasheed | 082140888638

Nabi Sulaiman Dawud Solomon David Qalyubi Malibari Durrotun Nasihin Nawadir Asy-Syifa Sirah Nabawiyah Tarikh Biografi Sejarah Brilly El-Rasheed


Dalam kitab An-Nawadir karya Imam Syihabuddin Al-Qalyubiyy dan Irsyad Al-'Ibad karya Imam Zainuddin Al-Malibariyy serta Durrah An-Nashihin karya Syaikh ‘Utsman Asy-Syakir disebutkan kisah Nabi Sulaiman mengendarai awan dan angin hingga berhenti di sebuah pantai. Nabi Sulaiman memerintahkan salah satu jin 'Ifrit untuk menyelam ke laut mencari tahu apa keajaiban yang Allah maksud ada di dalam laut sebagaimana ilham yang diterima Nabi Sulaiman dari Allah. Jin 'Ifrit tidak berhasil menemukan apa-apa. Nabi Sulaiman kemudian memerintahkan Ashif bin Barkhiya untuk berdoa kepada Allah agar memberi tahu apa yang terjadi di dalam laut. 


Muncullah ke permukaan laut sebuah benda berbentuk kubah yang mempunyai empat pintu. Satu pintu terbuat dari batu intan, satu pintu terbuat dari batu yaqut, satu lagi terbuat dari batu intan putih, dan satunya lagi terbuat dari batu aquamarine (zamrud) hijau. Semua pintu itu terbuka dan tidak ada satu tetes air pun yang masuk ke dalamnya, padahal benda tersebut berada di dalam laut yang sangat dalam sama seperti tiga kali perjalanan menyelamnya Ifrit yang pertama. Ternyata, di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang tampan, memakai baju yang serbaputih, dan bersih badannya. Pemuda itu sedang melakukan shalat, lalu Nabi Sulaiman memberikan salam kepada pemuda itu. Pemuda itu pun mempercepat shalatnya kemudian menjawab salam Nabi Sulaiman.   


“Sebab apa kau bisa berada di dasar laut ini?” tanya Nabi Sulaiman mengawali pembicaraan.   “Wahai nabiyallah, sesungguhnya bapak saya adalah seorang laki-laki yang lumpuh dan ibu saya adalah seorang wanita yang buta. Saya merawat keduanya selama tujuh puluh tahun. Saya merawat keduanya dengan penuh kasih sayang. Ketika ajal hendak menjemput ibu saya, dia berdoa kepada Allah ‘Ya Allah, panjangkanlah umur anakku dalam keadaan selalu takwa kepada-Mu dan tempatkanlah ia tidak di langit maupun di bumi.’ dan ketika ayah saya menjelang wafat dia berdoa kepada Allah ‘Ya Allah, tempatkanlah anakku ini di tempat yang tidak ditemukan oleh setan’,” cerita pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.


“Setelah saya memakamkan kedua orang tua saya, saya berjalan-jalan ke tepi pantai untuk menghilangkan kesediahan saya. Lalu saya melihat kubah yang bercahaya, kubah tersebut sangat indah, saya masuk ke dalamnya untuk melihat keindahan kubah tersebut. Lalu datanglah malikat dari beberapa malaikat. Malaikat tadi membawa kubah tersebut ke dalam laut, sedangkan saya berada di dalamnya” ucap pemuda itu melanjutkan ceritanya.   


“Pada zaman siapa kamu mendatangi pantai?” tanya Nabi Sulaiman penuh penasaran. “Pada zaman Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam,” jawab pemuda itu.   Sejenak Nabi Sulaiman terdiam, mengingat kembali sejarah. Begitu terkejutnya Nabi Sulaiman ketika mengetahui bahwa jarak zamannya dengan zaman Nabi Ibrahim itu adalah dua ribu empat ratus tahun. Begitu panjangnya umur pemuda dan yang anehnya lagi tidak dijumpai satu helai rambutnya yang beruban.   


“Lalu, bagaimana kamu bisa mendapatkan makan dan minum?” tanya Nabi Sulaiman. “Jika aku lapar maka tumbuhlah pohon di atas batu di dalam kubah ini lalu berbuah, dan mengeluarkan air lebih putih daripada susu, serta rasanya lebih manis daripada madu. Bahkan lebih sejuk daripada salju, dari itulah aku makan dan minum. Ketika aku sudah kenyang dan tak haus lagi, maka tumbuhan tersebut hilang dengan sendirinya.” Mendengar jawaban tersebut, sang Nabi kembali bertanya, “Bagaimana kamu membedakan siang dan malam?” Pemuda menjawab, “Jika fajar tiba, maka kubah memutih serta mengeluarkan cahaya. Dan ketika matahari terbenam, maka kubah jadi redup. Dari itulah aku mengerti waktu siang dan malam.”


“Maukah kamu ikut denganku di kerajaanku atau kamu ingin kembali kepada tempatmu?” Nabi Sulaiman memberikan penawaran kepada pemuda itu.   “Wahai nabiyallah, tolong kembalikan aku ke tempat semula,” pinta pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.   Lalu Nabi Sulaiman memerintahkan Ashif bin Barkhiya untuk mengembalikan pemuda itu ke tempat semula, kubah tersebut berputar-putar sehingga mirip seperti telur burung onta dan kembali ke asal semula yaitu di tengah-tengah kedalaman laut.

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.