Misteri Sarbatak Raja India "Prindavan" Benarkah Jadi Sahabat Nabi? | Brilly El-Rasheed | 082140888638
Imam Ibnu Hajar dalam Lisan Al-Misan 3/10-11 menulis, Sarbatak Al-Hindiyy, cara bacanya adalah dengan fat-hah pada huruf sin tanpa titik apapun, sukun huruf ra`, setelahnya adalah huruf dengan satu titik, sesudah alif adalah huruf dengan dua titik di atas dengan harakat fat-hah kemudian huruf kaf. Disebutkan oleh Abu Musa Al-Madiniyy dalam dzail (tambahan) kitab Ma’rifah Ash-Shahabah dan dia merilis dari jalur Bisyr bin ahmad Al-Isfira`iniyy kawan Yahya bin Yahya An-Naisaburiyy bahwa Bisyr berkata saya mendengar Makkiy bin Ahmad Al-Barda’iyy berkata saya mendengar Is-haq bin Ibrahim Ath-Thusiyy yang sudah berusia 157 tahun berkata saya melihat Sarbatak salah seorang raja di Benua India dan saya berkata kepadanya, “Kamu sudah usia berapa tahun?” Sarbatak menjawab, “925 tahun.” Sarbatak juga menyebutkan bahwa Nabi mengutus kepadanya (lima orang yakni-pnrj.) Hudzaifah bin Al-Yaman, Usamah bin Zaid, Safinah, Shuhaib, dan Abu Musa Al-Asy’ariyy yang mengajaknya untuk masuk Islam lalu Sarbatak masuk Islam bahkan juga menerima surat Nabi. Adz-Dzahabiyy berkata dalam At-Tajrid bahwa ini jelas-jelas hoax sehingga Adz-Dzahabiyy tidak mencatat sejarah ini dalam Al-Mizan (alias kitab Mizan Al-I’tidal karya Adz-Dzahabiyy). Ibnu Al-Atsir dalam Usd Al-Ghabah mengatakan, “Bagus sekali Ibnu Mandah meninggalkan berita ini.” Saya (Ibnu Hajar) katakan, “Tidak, justru orang yang merekam berita ini dan berusaha mengungkap fakta Sarbatak ini lebih utama daripada orang yang mengabaikannya dan mengira tidak perlu menelusuri kebenarannya, juga masih lebih utama daripada orang yang mengutip berita ini tapi tidak berupaya membongkar realitanya lalu mengira bahwa berita ini bisa diterima begitu saja. Informasi ini datang dalam bentuk berbeda, diriwayatkan Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Al-Khalil Al-Baghawiyy (beliau ini bukan Al-Baghawiyy sang penulis tafsir-pnrj.), ‘Umar bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Umar bin Hafsh An-Naisaburiyy mengabarkan, Abu Al-Qasim ‘Abdullah bin Al-Husain bin Balwaih bin Bakr bin Ibrahim bin Muhammad bin Farkhan Ash-Shufiyy mengabarkan, saya mendengar Abu Isma’il Muzhaffar bin Asad Al-Hanafiyy Al-Mutathayyib berkata, “Saya mendengar Sarbatak dari India berkata, “Saya melihat Nabi Muhammad di Makkah dua kali dan di Madinah satu kali, saya menemui beliau dalam posisi saya sebagai utusan Raja Habasyah (Ethiopia), saat saya menemui beliau itu saya berusia 460 tahun. Postur tubuh Nabi ideal, tidak terlalu tinggi, tidak juga pendek, diantara semua orang di masa itu, wajah beliau yang paling bagus.” Kemudian Muzhaffar berkata, “Sarbatak meninggal pada 336 H, dalam umur 894 tahun.” Saya (Ibnu Hajar) katakan, “Bila umur saat kedatangannya ke Madinah nol hijriah ditambahkan pada tahun wafatnya, terlihat Muzhaffar bin Asad sangat berlebih-lebihan. Tampak nyata kontradiksi umurnya. Karena bila ukurannya demikian, berarti umurnya 790 sekian tahun saja. Kelebihan seratus tahun” [https://app.turath.io/book/12063]
Dari sini, Ibnu Hajar memvalidasi Sarbatak tergolong shahabat Nabi asal India yang memiliki umur sampai 794 tahun. Dalam paragraf ini, Ibnu Hajar men-spill narasi Ibnu Al-Atsir. Kita cek langsung, Sarbātak Al-Hindiyy. Diriwayatkan oleh Makki bin Ahmad Al-Barda‘iyy dari Is-haq bin Ibrahim Ath-Thusiyy, ia berkata, Ia bercerita kepadaku, sedangkan ia berusia sembilan puluh tujuh tahun, ia berkata, Aku melihat Sarbātak raja India di sebuah negeri bernama Qannauj, maka aku bertanya, Berapa usia yang sudah engkau lalui? Ia menjawab, 925 tahun, dan ia seorang Muslim, serta ia mengaku bahwa Nabi ﷺ telah mengutus kepadanya sepuluh sahabatnya, di antara mereka Hudzaifah bin Al-Yaman, ‘Amr bin Al-‘Ash, Usamah bin Zaid, Abu Musa Al-Asy‘ariyy, Shuhaib, Safinah, dan lainnya, untuk mengajaknya masuk Islam, lalu ia menyambut, masuk Islam, dan menerima surat Nabi ﷺ. Diriliskan oleh Abu Musa. Ibnu Mandah dan lainnya tidak mencatat berita ini, dan meninggalkannya lebih layak daripada menetapkannya, dan seandainya bukan karena syarat bahwa kami tidak menghapus terjemah yang disebutkan seseorang, niscaya kami tinggalkan kisah ini dan semisalnya. Asy-Syaukaniyy dalam Al-Fawā’id Al-Majmū‘ah tentang hadis-hadis maudhu‘ dalam pembahasan orang yang mengaku sebagai shahabat Nabi padahal dusta, menyebutkan, “Termasuk mereka adalah Sarbātak raja India di negeri Qannauj, yang mengaku berusia 700 tahun, dan mengklaim bahwa Nabi ﷺ mengutus kepadanya Hudzaifah, Usamah, Shuhaib, dan lainnya mengajaknya kepada Islam, lalu ia menyambut dan masuk Islam. Adz-Dzahabiyy berkata, “Ini adalah kedustaan yang jelas.”
Kita sudah mendapatkan data, Sarbatak diakui oleh Ibnu Hajar sebagai shahabat Nabi tapi tidak diakui oleh Ibnu Al-Atsir, Ibnu Mandah, Asy-Syaukaniyy dan Adz-Dzahabiyy. Kannauj adalah sebuah distrik yang ada di negara bagian Uttar Pradesh di India utara, di sepanjang Sungai Gangga, berada di 129 km dari Lucknow. Banyak ulama dari Lucknow yang terkenal di kancah internasional dengan nisbat Al-Laknawiyy.
Sebenarnya masih ada beberapa tokoh India lainnya yang diasumsikan ada kaitan dengan Rasulullah, seperti Raja Majabar atau Malabar bernama Jack Rowaniyy Firmas yang masuk Islam di hadapan Nabi Muhammad. Meski sama-sama raja di India, Sarbatak dan Jack Rowaniyy Firmas bukan sosok yang sama. Berikut paparan Majelis Fatwa Qatar, Telah menyebut Syaikh ‘Abdul-Majid Az-Zandaniyy dalam kitabnya Bayyināt Ar-Rasūl ﷺ wa Mu‘jizātih peristiwa tersebut. Ia berkata, Sejarah India mencatat seorang raja mereka bernama Jakurwani Firmas yang menyaksikan terbelahnya bulan; salah satu manuskrip sejarah India mencatat: “Raja Majbar ‘Malabar’ di India (Jakurwani Firmas) melihat terbelahnya bulan yang terjadi bagi Muhammad, dan ketika ia bertanya tentang peristiwa itu ia mengetahui adanya nubuat tentang kedatangan seorang rasul dari Jazirah Arab, maka ia mengangkat anaknya sebagai penggantinya dan berangkat untuk menemuinya, kemudian ia masuk Islam di tangan Nabi, dan ketika ia kembali ke negerinya —berdasarkan petunjuk Nabi— ia wafat di pelabuhan Zhufar.” Manuskrip India tersebut ada di perpustakaan India Office Library di London dengan nomor referensi: Arab 2807, hlm. 152–173, dan telah dikutip oleh Hamidullah dalam bukunya Muhammad Rasulullah. (Meskipun memang benar bahwa-pnrj.) Dalam kitab-kitab hadits terdapat penyebutan raja India yang sampai kepada Nabi ﷺ; dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim dari Abu Sa‘id Al-Khudriyy, ia berkata, Raja India menghadiahkan kepada Rasulullah ﷺ sebuah bejana berisi jahe, lalu beliau membagi-bagikan kepada para sahabat sepotong demi sepotong, dan memberiku sepotong. Al-Hakim berkata, Aku tidak mengingat Rasulullah ﷺ memakan jahe kecuali itu saja. Adapun kisah bahwa ia (Jack Rowaniyy Firmas) melihat terbelahnya bulan, kemungkinan hal itu benar, hanya saja kami tidak menemukan manuskrip itu atau penetapannya secara sejarah, namun tidak mustahil ia shahih. Adapun hadits kedatangannya kepada Nabi ﷺ dan pemberiannya hadiah jahe, maka munkar sebagaimana dikatakan oleh Ar-Raziyy dan Abu Zur‘ah. Al-Haitsamiyy dalam Al-Majma‘ berkata, Riwayat itu dibawakan oleh Ath-Thabraniyy dalam Al-Ausath, di dalamnya ada ‘Amr bin Hakam yang tertuduh dengan hadits ini, dan ia dha‘if. Dalam riwayat Ath-Thabraniyy disebut raja Romawi, bukan raja India. Adapun penetapan bahwa ia sahabat Nabi, para imam menolaknya. [https://www.islamweb.net/ar/fatwa/249724/]
Ramuan warta ini memiliki benang merah, Sarbatak adalah dari India, tepatnya distrik Qannauj atau kerajaan Qannauj kala itu. Bukanlah nisbat Al-Hindiyy berarti Hindia-Belanda alias Indonesia atau Indo-Pasifik. Sampai-sampai ada dosen peneliti yang main cocoklogi bahwa Sarbatak adalah Sri Baduga dalam ejaan Indonesia dan Sarbatak berasal dari Nusantara karena dulu Nusantara termasuk Hindia dengan dalih, “Dahulu, Bilad al-Hind mencakup seluruh wilayah kepulauan Nusantara, Indo-China hingga Sri Langka. Imperialis Eropa yang memecah-mecah Bilad Al-Hind dan menciptakan Bilad Al-Hind baru beribu kota New Delhi (New de Al-Hind).” Lebih jauh lagi, andai Sarbatak adalah Sri Baduga Maharaja berarti beliau adalah Prabu Siliwangi III.
Sarbatak dari India tidak perlu kita klaim dari Nusantara. Tidak ada shahabat Nabi yang berasal dari Nusantara pun tidak mengurangi kemuliaan Nabi atau kehebatan sejarah Bangsa kita. Kehebatan dan kemuliaan adalah jika kita Islam sekalipun kakek-moyang kita bukan Islam. Kami secara pribadi follow Ibnu Hajar. Jikapun Sarbatak kita sebut bukan shahabat Nabi, karena kita ikut ulama yang menolaknya, maka tidak masalah, yang penting kita tetap meyakini Nabi pernah ada hubungan dengan salah seorang raja dari India.


Post a Comment