Header Ads

Doa Buka Puasa Pakai Asmaul Husna | Brilly El-Rasheed | 082140888638

082140888638 Flash Card Lipat Harmonika Hafalan 99 Asmaul Husna 4 Bahasa


عن أنس رضي الله عنه: عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( ما من مسلم يصوم فيقول عند إفطاره:  ياعظيم ياعظيم ، أنت إلهي ، لا إله غيرك ، اغفر لي الذنب العظيم ، فإنه لا يغفر الذنب العظيم إلا العظيم ، إلا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ) . وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( علموها عقبكم ، فإنها كلمة يحبها الله ورسوله ، ويصلح بها أمر الدنيا والآخرة ) . جمع الجوامع للحافظ السيوطي ( ٩٥٤٣ ) ، تاريخ دمشق للحافظ ابن عساكر  [6761] ، كنز العمال للعلامة المتقي الهندي ( ٢٤٣٩٥ ) .

Dari Anas, dari Nabi, beliau bersabda, "Tidaklah seorang muslim berpuasa lalu ketika berbuka ia berkata, ‘Wahai Dzat Yang Maha Agung, wahai Dzat Yang Maha Agung, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan yang benar selain Engkau, ampunilah aku dari dosa yang besar, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa yang besar kecuali Dzat Yang Maha Agung,’ melainkan ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ibunya melahirkannya," dan Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Ajarkanlah kalimat ini kepada keturunan kalian, karena sesungguhnya ia adalah suatu kalimat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya serta dengan kalimat itu diperbaiki urusan dunia dan Akhirat." Hadits ini disebutkan dalam kitab Jam‘ Al-Jawami‘ karya Al-Hafizh As-Suyuthiyy no. 9543, Tarikh Dimasyq karya Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir no. 6761, dan Kanz Al-‘Ummal karya Al-‘Allamah Al-Muttaqi Al-Hindiyy no. 24395.

https://www.facebook.com/sanadacademyar/posts/898019902122105/


Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik menyebutkan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan sebuah doa yang dibaca ketika berbuka puasa selain yang sudah masyhur yaitu Allahumma laka shumtu… (dst.) dan Zhahabazh-zhama`... (dst.) Di dalamnya terdapat pengulangan panggilan kepada Allah dengan lafazh “Yā ‘Azhīm, Yā ‘Azhīm (di awal) dan Al-’Azhim (di akhir)”, kemudian diikuti pengakuan tauhid dan permohonan ampun atas dosa besar. Pengulangan nama Allah dalam doa ini menunjukkan kedalaman makna pengagungan kepada Dzat Allah serta penegasan keyakinan bahwa hanya Allah Yang Maha Agung yang mampu mengampuni dosa-dosa hamba. 


Dalam hadits tersebut Nabi ﷺ juga menganjurkan agar kalimat doa ini diajarkan kepada generasi setelah kita karena ia merupakan kalimat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya serta menjadi sebab perbaikan urusan dunia dan akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa menyebut dan mengulang nama-nama Allah dalam doa bukan sekadar lafazh, tetapi merupakan bentuk ibadah yang menanamkan pengagungan dan ketundukan dalam qalbu seorang mukmin. Hadits ini divonis maudu’ (palsu/fabrikasi) atau sekadar dha’if oleh sebagian ulama.


Saya (Brilly) memandang, kalaupun hadits ini maudhu’ maka kita bisa tetap mengamalkan dengan tidak meyakini hadits ini sebagai sabda Nabi tapi tuntunan doa dari para ulama saja. Nyatanya doa ini disebutkan oleh tiga ulama yakni As-Suyuthiyy, Ibnu ‘Asakir dan Al-Muttaqi Al-Hindiyy, ketiganya bergelar Al-Hafizh. Kalaupun hadits ini dha’if maka ada hadits yang menaunginya yakni hadits mustajabahnya doa saat berbuka, Nabi Shallallahu'alaihi Wa sallam bersabda,

ثلاثة لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzhalimi.” [Jami’ At-Tirmidziyy no. 2528; Sunan Ibnu Majah no. 1752; Shahih Ibnu Hibban no. 2405]


Dari sini dapat dipahami bahwa membaca dan mengimani Asmaul Husna merupakan kewajiban spiritual yang sangat penting bagi setiap muslim. Nama Al-‘Azhīm yang diulang dalam doa tersebut termasuk bagian dari Asmaul Husna yang mengandung makna keagungan mutlak bagi Dzat Allah, sehingga pengulangannya berfungsi meneguhkan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan dan keagungan sempurna. Karena itu para ulama menegaskan bahwa memperbanyak membaca, memahami, serta mengimani Asmaul Husna akan memperkuat tauhid, melembutkan qalbu, dan menjadikan doa lebih dekat kepada pengabulan. Dengan demikian, pengulangan “Yā ‘Azhīm” dalam hadits tersebut bukan hanya bentuk dzikir, tetapi juga pengajaran langsung dari Nabi ﷺ agar umat Islam senantiasa menghidupkan Asmaul Husna dalam ibadah, doa, dan keyakinan mereka.






 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.