Header Ads

Asmaul Husna Menurut Muhammadiyah | Brilly El-Rasheed | 082140888638

082140888638 Souvenir Islami Flash Card Asmaul Husna
082140888638 Souvenir Islami Flash Card Asmaul Husna


Persyarikatan Muhammadiyah sangat mengaksentuasi pembiasaan pembacaan 99 Asmaul Husna secara urut setiap sebelum memulai pembelajaran di sekolah. Ormas Islam terbesar kedua di Indonesia ini menggalakkan ‘liturgi’ dzikir jama’iyy (bersama-sama satu suara alias koor) melafazhkan 99 nama Allah dalam bahasa ‘Arab di semua jenjang pendidikan. Gerakan Islam modernis ini tidak membid’ahkan rutinitas majelis 99 Asmaul Husna dengan suara lantang/keras setiap pagi menjelang KBM (Kegiatan Belajar-Mengajar). Andai pembiasaan pembacaan Asmaul Husna setiap pagi sebelum sekolah dimulai dikembangkan lagi oleh warga Muhammadiyah menjadi setiap sebelum pengajian di masjid dimulai, setiap sebelum belajar Iqro dimulai, setiap sebelum muktamar dimulai, setiap sebelum menyanyikan mars Sang Surya dimulai, dan lain-lain.


Warga organisasi yang didirikan K. H. Ahmad Dahlan ini menghukumi dzikir berjama’ah dengan suara tinggi (tidak pelan-pelan/berbisik) adalah bid’ah dhalalah. Cukup banyak channel YouTube milik institusi pendidikan Muhammadiyah yang merekam praktik dzikir Asmaul Husna dengan berjama’ah dan suara yang harmonis, bahkan ada yang diiringi alat musik dan gerakan tubuh. Gerak-Lagu Asmaul Husna menggejala di kalangan anak-anak sekolah, tidak hanya Muhammadiyah. Gerakan peragaan 99 Asmaul Husna dilakukan semirip mungkin dengan makna masing-masing nama Allah. Bukan dengan niat mentasybih tapi membantu ingatan.


Ustadz Tito Yuwono, Ph.D. sekretaris Majelis Dikdasmen PCM Ngaglik, menerangkan, “Dalam berdoa, kita juga menyebut dan memuji Asma dan Shifat Allah Ta’ala yang penuh kempurnaan. seperti Yaa Ghofiir (Yang Maha Pengampun), Yaa Razzaq (Yang Maha pemberi rizki), Yaa Rahiim (Yang Penyayang) dan sebagainya. Tentu penyebutan Asmaul husna ini sesuai dengan isi doa yang kita panjatkan.  Sehingga dalam berdoa haruslah kita mengetahui maknanya.” [https://web.suaramuhammadiyah.id/2023/02/06/berdoa-dengan-asmaul-husna/]


Seseorang berdoa boleh sebanyak-banyaknya setiap hari, tidak hanya bakda shalat. Bisa kita ilustrasikan. Warga Muhammadiyah menunaikan puasa di Tanah Suci menunaikan ‘umrah hingga datang waktu berbuka kemudian ikut jama’ah Maghrib hingga ‘Isya kemudian i’tikaf di Masjidil-Haram hingga sepertiga malam terakhir hari Jum’at 10 hari terakhir Ramadhan. Berapa banyak kesempatan berdoa baginya? Sangat banyak bahkan 24 jam. Baca https://muhammadiyah.or.id/2024/10/waktu-waktu-yang-mustajab-untuk-berdoa-kepada-allah/.


Apakah tidak boleh bagi warga Muhammadiyah berdoa selama 24 jam termasuk dalam sujud shalat? Tentu boleh. Apakah tidak boleh pula setiap berdoa didahului membaca Asmaul Husna yang relevan dengan isi doa? Tentu boleh. Misalnya Ya Razzaq urzuqni ‘asyarah milyun riyal karena sedang terjerat utang besar, berulang-ulang selama di Tanah Suci tadi. Tentu boleh. Berarti ada berapa banyak Ya Razzaq? Sangat banyak. Misalnya warga Muhammadiyah tersebut tidak bisa bahasa ‘Arab sedangkan pikirannya kacau balau oleh tagihan debt collector akhirnya mulut kelu sehingga hanya bisa menangis sembari memanggil-manggil Ya Razzaq berkali-kali sangat banyak. Tentu boleh.


Ustadz Drs. H. Danusiri, M.Ag, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, menjelaskan, “Ketika memanjatkan permohonan kepada Sang Pencipta, seringkali kita berzikir dengan menyebut seluruh Asmaul Husna yang berjumlah 99, melantunkannya sebelum berdoa. Namun, tahukah Anda bahwa etika terbaik dalam memohon kepada Allah sejatinya adalah dengan menyeru nama-Nya yang paling sesuai (relevan) dengan isi permohonan tersebut? Inilah kunci efektivitas dan rasionalitas dalam berdoa. Karena Allah memiliki banyak nama, maka sebelum memohon sesuatu, hendaklah menyeru Asma Allah yang relevan dengan isi permohonannya…. Pemahaman model ini terasa lebih rasional dan fungsional dibandingkan ritual pembacaan seluruh Asmaul Husna yang berjumlah 99 dan dilagukan baru kemudian berdoa….” [https://muhammadiyahsemarangkota.org/artikel/etika-berdoa-dengan-menyebut-asmaul-husna/]


Perspektif lain, seseorang meminta harta dari usaha yang halal tapi menyeru Allah, “Ya Mani’ Ya Qabidh Ya Dharr,” dengan maksud, “Ya Allah Sang Maha Pencegah, cegahlah orang-orang yang berusaha merampas calon customer saya agar income saya tidak menurun. Ya Allah Sang Maha Penggenggam, genggamlah orang-orang yang menyantet tempat usaha saya agar penghasilan saya tidak berkurang. Ya Allah Sang Maha Pemberi Bahaya, jatuhkan hukuman kepada para kompetitor bisnis yang mengembargo suplai produk saya agar pendapatan saya tidak sedikit.” Apakah tidak relevan? Tetap relevan.


Melantunkan 99 Asmaul Husna baru dilanjutkan doa tetap relevan. Status 99 Asmaul Husna yang dibaca satu paket tersebut adalah tashdiq (pengakuan kebenaran) Allah sebagai pemilik semua Asmaul Husna tersebut. Merapal 99 Asmaul Husna juga sesungguhnya merupakan bentuk ktia bertawassul (berwasilah) yakni memanfaatkan nama-nama Allah sebagai sarana menunjukkan ketabikan (penghormatan) kita kepada Allah. Warga Muhammadiyah juga biasa menutup acara dengan doa berbahasa Indonesia, misalnya “Ya Allah, Ya Tuhan kami, wahai Dzat Yang Maha Memiliki, Engkaulah Yang Mengatur rizqi kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu...” ChatGPT saja bisa menerjemahkan ke dalam bahasa ‘Arab, “Ya Allah, Ya Rabbana, Ya Malik, Anta Ar-Razzaq, innaKa ‘ala kulli syai`in Qadir…”

 


082140888638 Souvenir Islami Flash Card Asmaul Husna

082140888638 Souvenir Islami Flash Card Asmaul Husna

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.