Ilmu Rahasia Asmaul Husna | Imam Al-Qurthubiyy | 082140888638
![]() |
| 082140888638 |
قَالَ الْإِمَامُ الْقُرْطُبِيُّ فِي كِتَابِهِ: [الْأَسْنَى فِي شَرْحِ أَسْمَاءِ اللَّهِ الْحُسْنَى]:"قَالَ أَهْلُ الْفُهُومِ وَالْإِشَارَاتِ الَّذِينَ تَكَلَّمُوا عَلَى الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ: إِنَّ أَسْمَاءَ اللَّهِ التِّسْعَةَ وَالتِّسْعِينَ، فِي الْأَثَرِ الصَّحِيحِ، هِيَ الْأَسْمَاءُ الظَّاهِرَةُ الَّتِي تَعَبَّدَ الْخَلْقَ بِإِحْصَائِهَا؛ لِأَنَّ ذٰلِكَ فِي وُسْعِهِمْ بِالْكَسْبِ وَالْبَحْثِ وَالنَّظَرِ، وَوَرَاءَ هٰذِهِ التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ اسْمًا - أَسْمَاءٌ - هِيَ مُخْتَصَّةٌ بِالْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ، وَلَا يُوصَلُ إِلَيْهَا بِكَسْبٍ، وَإِنَّمَا هِيَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ، وَوَرَاءَ مَا عَلِمَهُ الْأَنْبِيَاءُ وَالْأَوْلِيَاءُ مَا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، عَلَى مَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ، "أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ".
Imam Al-Qurthubiyy berkata dalam kitabnya [Al-Asna fi Syarh Asma` Allah Al-Husna], “Ahlul-fahm wal-isyarat yang berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat berkata, sesungguhnya sembilan puluh sembilan nama Allah dalam atsar yang shahih adalah nama-nama yang zhahir yang dengannya makhluk diperintahkan untuk beribadah dengan menghitungnya; karena hal itu berada dalam kemampuan mereka melalui usaha, penelitian, dan penelaahan; dan di balik sembilan puluh sembilan nama ini terdapat nama-nama yang dikhususkan bagi para nabi dan para wali, dan tidak dapat dicapai dengan usaha, melainkan ia adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan di balik apa yang diketahui oleh para nabi dan para wali terdapat apa yang tidak diketahui kecuali oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana disebutkan dalam hadits, "atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu."
فَالْأَوْلِيَاءُ اخْتُصُّوا مِنْ عِلْمِ الْأَسْمَاءِ، بِمَزِيدٍ عَلَى النُّظَّارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ، بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: أَحَدُهَا: أَنَّهُمْ فَهِمُوا مِنْ مَعَانِي الْأَسْمَاءِ التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ، بِالتَّأْيِيدِ وَالْإِلْهَامِ، مَا لَمْ يَعْلَمْهُ أُولٰئِكَ بِالنَّظَرِ وَالْبُرْهَانِ. الثَّانِي: أَنَّهُمْ عَلِمُوا أَسْمَاءً بَاطِنَةً وَرَاءَ التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ.
Maka para wali dikhususkan dalam ilmu nama-nama dengan kelebihan atas para ulama ahli nazhar dalam tiga perkara: pertama, bahwa mereka memahami dari makna-makna sembilan puluh sembilan nama dengan pertolongan dan ilham apa yang tidak diketahui oleh mereka itu dengan nazhar dan burhan; kedua, bahwa mereka mengetahui nama-nama tersembunyi di balik sembilan puluh sembilan;
الثَّالِثُ: أَنَّهُمْ اخْتُصُّوا بِالِاطِّلَاعِ عَلَى اسْمِ اللَّهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي وَرَدَ فِي غَيْرِ مَا حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَأَمَّا الْأَنْبِيَاءُ فَإِنَّهُمْ عَلِمُوا مِنْ مَعَانِي الْأَسْمَاءِ التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ، بِنُورِ الْوَحْيِ، مَا لَمْ يَعْلَمْهُ الْأَوْلِيَاءُ بِالْإِلْهَامِ، كَذٰلِكَ عَلِمُوا مِنْ عُلُومِ الْأَسْمَاءِ الْبَاطِنَةِ، وَمِنْ عِلْمِ الِاسْمِ الْأَعْظَمِ… وَوَرَاءَ هٰذِهِ الْأَسْمَاءِ كُلِّهَا الَّتِي عَلَّمَهَا اللَّهُ تَعَالَى أَنْبِيَاءَهُ وَأَوْلِيَاءَهُ؛ مَا اسْتَأْثَرَ اللَّهُ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَهُ، فَلَمْ يُطْلِعْ عَلَيْهَا نَبِيًّا مُرْسَلًا، وَلَا مَلَكًا مُقَرَّبًا!
ketiga, bahwa mereka dikhususkan dengan pengetahuan tentang Ism Allah Al-A‘zham yang disebutkan dalam lebih dari satu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun para nabi, maka sesungguhnya mereka mengetahui dari makna-makna sembilan puluh sembilan nama dengan cahaya wahyu apa yang tidak diketahui oleh para wali dengan ilham; demikian pula mereka mengetahui dari ilmu nama-nama batin dan dari ilmu Ism Al-A‘zham; dan di balik seluruh nama-nama ini yang Allah Ta‘ala ajarkan kepada para nabi dan para wali-Nya terdapat apa yang Allah khususkan bagi diri-Nya dalam ilmu ghaib di sisi-Nya, maka Dia tidak menyingkapkannya kepada nabi yang diutus dan tidak pula kepada malaikat yang didekatkan.
قَالُوا: فَأَوَّلُ مَا يَخُصُّ اللَّهُ الْعَبْدَ - إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَوَلَّاهُ، وَيُعَلِّمَهُ الْعِلْمَ اللَّدُنِّيَّ، فَيَكُونَ وَلِيًّا - أَنْ يَخُصَّهُ مِنْ عُلُومِ التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ اسْمًا بِخَصَائِصَ، يَفْتَحُ بِهَا مِنَ الْعِلْمِ مَا لَا يَفْتَحُ لِلْعَالِمِ بِطَرِيقِ النَّظَرِ، ثُمَّ يُرَقِّيهِ إِلَى مَعْرِفَةِ الْأَسْمَاءِ الْبَاطِنَةِ، وَأَوَّلُهَا (هُوَ)، وَهُوَ اسْمٌ مُرَكَّبٌ مِنْ حَرْفَيْنِ، مَوْضُوعٌ لِلْإِشَارَةِ إِلَى هُوِيَّتِهِ، الَّتِي تَرْجِعُ إِلَيْهَا الْأَسْمَاءُ الْبَاطِنَةُ وَالظَّاهِرَةُ كُلُّهَا، كَمَا رَجَعَتِ الْأَسْمَاءُ الظَّاهِرَةُ إِلَى اللَّهِ، وَبَعْدَ مَعْرِفَةِ (هُوَ) يَعْلَمُ الْأَسْمَاءَ الْبَاطِنَةَ الَّتِي هِيَ حُرُوفٌ مُفْرَدَةٌ، بِعِلْمِهِ، وَهِيَ الْأَرْبَعَةَ عَشَرَ الْوَارِدَةَ فِي الْقُرْآنِ فِي فَوَاتِحِ السُّوَرِ!
Mereka berkata, maka hal pertama yang Allah khususkan kepada seorang hamba apabila Dia menghendaki untuk menguasainya dan mengajarinya ilmu ladunniyy sehingga ia menjadi wali adalah bahwa Dia mengkhususkannya dari ilmu sembilan puluh sembilan nama dengan kekhususan-kekhususan yang dengannya dibukakan ilmu yang tidak dibukakan bagi ulama melalui jalan nazhar; kemudian Dia menaikkannya kepada ma‘rifat nama-nama batin, dan yang pertama darinya adalah (Huwa), dan ia adalah nama yang tersusun dari dua huruf, diletakkan untuk menunjuk kepada huwiyyah-Nya yang kepadanya kembali seluruh nama batin dan zhahir, sebagaimana nama-nama zhahir kembali kepada Allah; dan setelah ma‘rifat (Huwa) ia mengetahui nama-nama batin yang berupa huruf-huruf terpisah dengan ilmu-Nya, yaitu empat belas huruf yang disebutkan dalam Al-Qur`an pada permulaan surah-surah.”
وَبَعْدَ فَهْمِهَا يَهَبُهُ الِاسْمَ الْأَعْظَمَ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِنَّمَا يَأْخُذُ ذٰلِكَ الِاسْمَ الْأَعْظَمَ مِنَ الْخَضِرِ فِي غَالِبِ أَحْوَالِ الْأَوْلِيَاءِ، وَقَدْ يَتَلَقَّاهُ بِإِلْهَامٍ يُقْذَفُ فِي الرُّوعِ، عِنْدَ هُبُوبِ رِيَاحِ الرَّحْمَةِ عَلَى الْعَبْدِ، وَطَرِيقُ أَخْذِهِ فِي الْأَوْلِيَاءِ مُخْتَلِفٌ، وَعِنْدَ ذٰلِكَ تُطْوَى لَهُ الْأَرْضُ، وَيَمْشِي عَلَى الْمَاءِ، وَيَعُومُ فِي الْهَوَاءِ، وَتُقْلَبُ لَهُ الْأَعْيَانُ، إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْكَرَامَاتِ الَّتِي اخْتُصَّ بِهَا الْأَوْلِيَاءُ! قَالُوا: وَهٰذَا كُلُّهُ لَيْسَ بِعِلْمِ صُحُفٍ، إِنَّمَا هُوَ خُصُوصٌ بَيْنَ الْإِنْسَانِ وَرَبِّهِ، فَمَنْ أَطْلَعَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَلِمَهُ!
Dan setelah memahaminya Allah menganugerahkannya Ism Al-A‘zham yang apabila Dia diseru dengannya Dia menjawab, dan apabila diminta dengannya Dia memberi; dan sesungguhnya Ism Al-A‘zham itu dalam kebanyakan keadaan para wali diambil dari Al-Khadhir, dan terkadang ia menerimanya melalui ilham yang dilemparkan ke dalam hati ketika angin rahmat berembus atas seorang hamba; dan cara pengambilannya pada para wali berbeda-beda; dan ketika itu bumi dilipat baginya, ia berjalan di atas air, berenang di udara, dan hakikat-hakikat dibalikkan baginya, serta selain itu dari karamah-karamah yang dikhususkan bagi para wali. Mereka berkata, dan semua ini bukanlah ilmu dari lembaran-lembaran, melainkan ia adalah kekhususan antara manusia dan Rabb-nya; maka siapa yang Allah singkapkan kepadanya, ia mengetahuinya.
وَقَدْ قَالَ مَسْلَمَةُ بْنُ الْقَاسِمِ: إِنَّمَا تَمَامُ الْوُجُودِ كُلِّهِ بِأَسْمَاءِ اللَّهِ الْبَاطِنَةِ الطَّاهِرَةِ الْمُقَدَّسَةِ، وَأَسْمَاءُ اللَّهِ الْمُعْجَمَةُ أَصْلٌ لِكُلِّ شَيْءٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَهِيَ خِزَانَةُ سِرِّهِ، وَمَكْنُونُ عِلْمِهِ، وَمِنْهَا تَتَفَرَّعُ أَسْمَاءُ اللَّهِ كُلُّهَا، وَهِيَ الَّتِي قَضَى بِهَا الْأُمُورَ، وَأَوْدَعَهَا أُمَّ الْكِتَابِ!
Dan Maslamah bin Al-Qasim berkata, sesungguhnya kesempurnaan seluruh wujud hanyalah dengan nama-nama Allah yang batin, yang suci lagi disucikan; dan nama-nama Allah yang mu‘jam adalah pokok bagi segala sesuatu dari urusan dunia dan akhirat, ia adalah perbendaharaan rahasia-Nya dan simpanan ilmu-Nya, darinya bercabang seluruh nama Allah, dan dengannya Dia menetapkan segala urusan serta menempatkannya dalam Umm Al-Kitab.
وَسُئِلَ ابْنُ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ (كهيعص)، فَقَالَ لِلسَّائِلِ: لَوْ أَخْبَرْتُ بِتَفْسِيرِهَا؛ لَمَشَيْتَ عَلَى الْمَاءِ، لَا يُوَارِي قَدَمَيْكَ! وَقَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ التُّسْتَرِيُّ: أَتَى رَجُلٌ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ، فَقَالَ لَهُ: مَا تَقُولُ فِي (يس)؟ فَقَالَ: إِنَّ فِي (يس) اسْمًا، مَنْ عَلِمَهُ، وَدَعَا اللَّهَ بِهِ؛ أُجِيبَ، بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا، إِذَا دَعَا بِهِ فِي الشَّيْءِ الَّذِي هُوَ لَهُ خَاصٌّ!
Dan Ibnu Al-Hanafiyyah ditanya tentang (Kaf Ha Ya ‘Ain Shad), maka ia berkata kepada penanya, “Seandainya aku memberitahukan tafsirnya, niscaya engkau akan berjalan di atas air dan kedua kakimu tidak tertutup air.” Dan Sahl bin ‘Abdillah At-Tustariyy berkata, seorang laki-laki mendatangi Ibrahim bin Adham lalu berkata kepadanya, “Apa yang engkau katakan tentang (Ya Sin)?” Ia berkata, “Sesungguhnya dalam (Ya Sin) terdapat suatu nama, siapa yang mengetahuinya lalu berdoa kepada Allah dengannya, niscaya dikabulkan, baik ia orang shalih maupun orang fajir, apabila ia berdoa dengannya dalam perkara yang memang menjadi kekhususannya.”
قَالُوا: وَلِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ هٰذِهِ الْحُرُوفِ مَعْنًى وَسِرٌّ، إِذَا أَطْلَعَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْعَبْدَ؛ نَالَ كَرَامَةً مِنْ لَدُنْهُ، وَهِيَ كُلُّهَا مَرَاقٍ إِلَى لِقَاءِ الْخَضِرِ الْمُعَلِّمِ لِلِاسْمِ الْأَعْظَمِ!
Mereka berkata, dan bagi setiap huruf dari huruf-huruf ini terdapat makna dan rahasia; apabila Allah menyingkapkannya kepada seorang hamba, ia memperoleh karamah dari sisi-Nya, dan semuanya itu adalah tangga-tangga menuju pertemuan dengan Al-Khadhir yang mengajarkan Al-Ism Al-A‘zham.
وَقَدْ صَحَّ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لِأَصْحَابِهِ: "إِذَا لَقِيتُمُ الْعَدُوَّ غَدًا؛ فَشِعَارُكُمْ (حم لَا يُنْصَرُونَ)!". فَـ(حم) مِنَ الْأَسْمَاءِ الْبَاطِنَةِ الْمَخْزُونَةِ، وَمَنِ اتَّصَلَ بِنُورِهَا خَرَقَ اللَّهُ لَهُ الْعَوَائِدَ، وَنَالَ مِنْ أَسْرَارِهَا فَوَائِدَ! .. وَقَالُوا: إِنَّهَا نِصْفُ حُرُوفِ الْمُعْجَمِ، وَهِيَ الْبَاطِنَةُ، إِذِ الْوُجُودُ كُلُّهُ ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ ..". اِنْتَهَى كَلَامُ الْإِمَامِ الْقُرْطُبِيِّ بِتَصَرُّفٍ يَسِيرٍ.
Dan telah shahih dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda kepada para sahabatnya, "Apabila kalian bertemu musuh esok hari, maka semboyan kalian adalah (Ha Mim la yunsharun)"; maka (Ha Mim) termasuk nama-nama batin yang tersimpan, dan siapa yang tersambung dengan cahayanya Allah akan menembuskan baginya kebiasaan-kebiasaan dan ia memperoleh dari rahasia-rahasianya berbagai faedah. Mereka berkata, sesungguhnya huruf-huruf itu adalah setengah dari huruf-huruf mu‘jam, dan ia adalah yang batin, karena seluruh wujud itu zhahir dan batin. Selesai perkataan Imam Al-Qurthubiyy dengan sedikit perubahan.
وَقَدْ ذَكَرَ الْإِمَامُ الْقُرْطُبِيُّ هٰذَا الْكَلَامَ كُلَّهُ، وَلَمْ يُعَقِّبْ عَلَيْهِ بِرَفْضٍ أَوِ اسْتِهْجَانٍ، عَلَى خِلَافِ عَادَتِهِ، فَدَلَّ ذٰلِكَ عَلَى إِقْرَارِهِ بِهِ، وَرِضَاهُ عَنْهُ، لَا سِيَّمَا وَمَوْضُوعُ كِتَابِهِ جَمِيعُ مَا يَتَعَلَّقُ بِالْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى مِنَ الْمَبَاحِثِ!
Dan Imam Al-Qurthubiyy telah menyebutkan seluruh perkataan ini dan tidak mengomentarinya dengan penolakan atau pengingkaran, berbeda dengan kebiasaannya; maka hal itu menunjukkan persetujuannya terhadapnya dan keridhaannya atasnya, terlebih lagi tema kitabnya adalah seluruh pembahasan yang berkaitan dengan Al-Asma` Al-Husna.





Post a Comment