Lailatul-Qadar, Saat Perbanyak Asmaul Husna Al-'Afuww | Brilly El-Rasheed | 082140888638
![]() |
| 082140888638 Flash Card Lipat Harmonika Hafalan 48 Doa Pendek Bocil |
Anomali. Sebagian muslim ‘golongan sebelah’ memandang bid’ah alias sesat memperbanyak mengulang-ulang Asmaul Husna sebagai doa saat Lailatul-Qadar. Lailatul-Qadar merupakan malam istimewa dalam bulan Ramadhan yang Islam menekankan kepada umatnya untuk bersungguh-sungguh (ijtihad) dalam beribadah kepada Allah. Diantara bentuk bersungguh-sungguh dalam beribadah ialah mengulang-ulang meski dalam jarak waktu yang dekat/singkat. Berkali-kali memanjatkan doa yang sama terbilang sebagai bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Syaikh Prof. Dr. ‘Aliyy bin Muhammad Ash-Shallabiyy menjelaskan, "Ibnu Katsir berkata bahwa dianjurkan memperbanyak doa pada seluruh waktu, dan pada bulan Ramadhan lebih banyak lagi, khususnya pada sepuluh hari terakhir, kemudian pada malam-malam ganjilnya lebih ditekankan lagi, dan mustahab (disukai) memperbanyak (mengulang-ulang) doa ini, "Allahumma innaKa 'Afuww tuhibbul-'afwa fa'fu 'anni... Ya Allah sesungguhnya Engkau Al-’Afuww (Maha Pemaaf) dan Engkau mencintai pemaafan maka maafkanlah aku”, dan permohonan maaf pada malam Lailatul Qadar setelah bersungguh-sungguh dalam amal pada malam itu dan pada malam-malam sepuluh terakhir karena para arif bersungguh-sungguh dalam amal namun mereka tidak melihat bagi diri mereka amal shalih, keadaan ataupun ucapan yang patut dibanggakan sehingga mereka kembali kepada permohonan maaf seperti keadaan seorang pendosa yang lalai, [Latha`if Al-Ma’arif hal. 205] https://bit.ly/doalailatulqadrprofshallabiyy
قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ، "اَلدُّعَاءُ عُبُودِيَّةٌ لِلَّهِ تَعَالَى وَافْتِقَارٌ إِلَيْهِ وَتَذَلُّلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَكُلَّمَا كَثَّرَهُ الْعَبْدُ وَطَوَّلَهُ وَأَعَادَهُ وَأَبْدَاهُ وَنَوَّعَ جُمَلَهُ كَانَ ذَلِكَ أَبْلَغَ فِي عُبُودِيَّتِهِ وَإِظْهَارِ فَقْرِهِ وَتَذَلُّلِهِ وَحَاجَتِهِ، وَكَانَ ذَلِكَ أَقْرَبَ لَهُ مِنْ رَبِّهِ وَأَعْظَمَ لِثَوَابِهِ". [جَلَاءُ الْأَفْهَامِ]
Al-Hafizh Ibnu Al-Qayyim berkata bahwa doa merupakan bentuk penghambaan kepada Allah Ta‘ala, pernyataan kebutuhan kepada-Nya, dan sikap merendahkan diri di hadapan-Nya; maka setiap kali seorang hamba memperbanyak doa, memanjangkannya, mengulanginya, menampakkannya, serta memvariasikan kalimat-kalimatnya, hal itu semakin kuat dalam menunjukkan penghambaan, menampakkan kefaqiran, kerendahan, dan kebutuhannya kepada Allah, dan hal itu menjadikannya lebih dekat kepada Rabb-nya serta lebih besar pahala baginya, [Jila` Al-Afham]
Majelis Fatwa Qatar menguraikan, Ibnu Rajab dalam kitab Lathaif Al-Ma‘arif menjelaskan bahwa amal pada malam Lailatul-Qadar telah tetap dari Nabi ﷺ yang bersabda, "barang siapa mendirikan malam Lailatul-Qadar dengan iman dan mengharap pahala maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu", dan mendirikan malam tersebut adalah dengan menghidupkannya melalui tahajjud dan shalat, serta Nabi ﷺ juga memerintahkan ‘Aisyah untuk berdoa pada malam itu; Sufyan Ats-Tsauriyy berkata bahwa doa pada malam tersebut lebih beliau sukai daripada shalat, dan beliau menjelaskan bahwa apabila seseorang membaca Al-Qur’an (dalam shalat) sambil berdoa serta memohon kepada Allah dengan penuh harap dalam doa dan permintaan maka mudah-mudahan ia memperoleh ketepatan dengan Lailatul-Qadar pada malam itu, dan maksud perkataan tersebut adalah bahwa memperbanyak doa lebih utama daripada shalat yang di dalamnya tidak banyak doa, meskipun jika seseorang membaca Al-Qur’an dan berdoa maka itu tetap baik, dan Nabi ﷺ dahulu bertahajjud pada malam-malam Ramadhan serta membaca Al-Qur’an dengan bacaan tartil sehingga tidak melewati ayat yang berisi rahmat kecuali beliau memohon kepada Allah dan tidak melewati ayat yang berisi adzab kecuali beliau berlindung kepada-Nya, sehingga beliau menggabungkan antara shalat, bacaan Al-Qur’an, doa, dan tafakkur, dan itulah amal yang paling utama serta paling sempurna pada malam-malam sepuluh terakhir dan pada malam-malam lainnya.
https://www.islamweb.net/ar/fatwa/233665/
Tidak sedikit muslim di seluruh dunia yang menambahkan Asmaul Husna Al-Karim pada doa Lailatul-Qadar sehingga menjadi, “Allahumma innaKa ‘Afuww Karim…” Apakah ini mudraj (susupan) alias bukan asli dari Nabi? Hanya Syaikh Al-Albaniyy saja yang me-warning bahwa tambahan Asmaul Husna Al-Karim tersebut adalah mudraj. Wa Allahu A’lam. Padahal dalam riwayat At-Tirmidziyy dan Ibnu Majah sudah ada tambahan Asmaul Husna Al-Karim pada doa Lailatul-Qadar tersebut. Lihat https://www.islamweb.net/ar/library/content/56/6788 dan https://al-maktaba.org/book/31615/32236. Andaipun benar-benar mudraj, maka ketika meriwayatkan lafazh doa Lailatul-Qadar tersebut kita tidak perlu menambahkan Karim tapi ketika dalam maksud mengajar atau mengamalkan sendiri boleh-boleh saja kita tambahkan Karim. Asmaul Husna Al-Karim masih semakna dengan Al-’Afuww, sebagaimana pula Al-Ghafur, Al-Ghaffar, As-Sattar, At-Tawwab.
![]() |
| 082140888638 Flash Card Asmaul Husna |
![]() |
| 082140888638 Flash Card Surat-surat Pendek |
![]() |
| 082140888638 Flash Card Doa-doa Pendek |





Post a Comment