Header Ads

Hukum Mengulang-ulang Asmaul Husna dan Ya Huwa (Wahai Dia) | Majelis Fatwa Yordania | 082140888638

082140888638 Buku Asmaul Husna 5 Bahasa Flash Card Lipat Harmonika Souvenir
082140888638 Buku Asmaul Husna 5 Bahasa Flash Card Lipat Harmonika Souvenir


Majelis Fatwa Yordania mengungkapkan, Perkataan Al-Munawiyy bahwa para ulama mengatakan tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang penempuh jalan menuju Allah dalam suluknya daripada dzikir tunggal yang memutus keterikatan qalbu dari selain Allah yaitu lafazh “Allah”, dan telah datang penjelasan tentang hakikat dzikir serta tajalli-nya yang tidak dipahami kecuali oleh ahli rasa, serta perkataan Ibnu ‘Athaillah As-Sakandariyy bahwa di antara kekhususan lafazh jalalah “Allah” adalah ia merupakan nama yang sempurna pada huruf-hurufnya, sempurna pada maknanya, khusus pada rahasianya dan tunggal dalam sifatnya sehingga mula-mula “Allah”, lalu dihapus alif menjadi “lillah”, kemudian dihapus lam pertama menjadi “lahu”, lalu dihapus lam kedua menjadi “huwa”, dan setiap hurufnya tetap sempurna makna serta keistimewaannya tanpa perubahan makna, tidak pula berbeda faidahnya dengan pemecahan huruf-hurufnya darinya atau berkurangnya hikmah bahkan setiap bentuk lafazhnya memiliki makna yang menakjubkan dan berdiri sendiri serta gokil (unik),


Dan tidak perlu dipermasalahkan keberatan sebagian orang yang melarang dzikir dengan nama tunggal Allah dengan alasan tidak membentuk kalimat sempurna, sebab orang yang berdzikir dengan nama tunggal tidak sedang berbicara kepada makhluk sehingga tidak disyaratkan kalimatnya sempurna karena ia berdzikir kepada Allah yang Maha Mengetahui dirinya dan mengetahui qalbunya,


Adapun berkaitan dengan dzikir dan doa dengan lafazh “ya Huwa” maka para ulama telah membolehkannya, dan mereka berdalil atas kebolehan tersebut bahwa para ahli nahwu menyebut dhamir sebagai “yang paling ma‘rifat di antara segala ma‘rifat”, yang mereka maksudkan adalah ma‘rifat yang digunakan untuk makhluk, sehingga tidak termasuk dalam hal itu nama Allah Ta‘ala karena sesungguhnya Dia adalah yang paling ma‘rifat secara mutlak, dan lafazh jalalah “Allah” adalah isim mufrad ‘alam yang diletakkan untuk menunjukkan secara muthabaqah kepada Wajibul-Wujud yang disifati dengan sifat-sifat, yang disucikan dari segala kekurangan, yang tidak memiliki sekutu dalam makhluk, dan ‘alam adalah sesuatu yang diletakkan untuk sesuatu yang tertentu, 


Maka orang yang berdoa dengan ‘alam mufrad tersebut bermaksud kepada makna itu, dan dhamir tidak lain hanyalah isyarat yang menunjukkan penentuan kepada yang ditunjuk dengan syarat bahwa tidak terlintas dalam qalbu orang yang berdzikir sesuatu selain yang ditunjuk tersebut karena dhamir itu kembali kepada mubtada`, 


Az-Zajjaj berkata rahimahullah, "(Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia), maknanya adalah tidak ada sesembahan bagi setiap makhluk kecuali Dia, dan kata ‘Dia’ itu dibawa kepada kedudukan mubtada’" sehingga orang yang menyebut “huwa” sebenarnya bermaksud kepada Allah dan menyadari bahwa Allah mengetahui dirinya, 


082140888638 Buku Saku Lipat Hafalan 99 Asmaul Husna Souvenir Islami
082140888638 Buku Saku Lipat Hafalan 99 Asmaul Husna Souvenir Islami



Berkata Al-Imam Ar-Raziyy rahimahullah, "Sesungguhnya akal tidak mungkin disibukkan dengan sesuatu pada keadaan tenggelam dalam pengetahuan terhadap sesuatu yang lain, maka apabila ia mengarahkan pikirannya kepada suatu hal, ia tetap terpisah dari selainnya, maka seakan-akan seorang hamba berkata, setiap kali aku menghadirkan dalam pikiranku pengetahuan tentang sesuatu, maka pada saat itu luput dariku pengetahuan tentang selainnya, maka jika hal ini merupakan suatu keniscayaan, maka yang lebih utama adalah aku menjadikan qalbuku dan pikiranku disibukkan dengan ma‘rifat terhadap semulia-mulia yang diketahui, dan aku menjadikan lisanku disibukkan dengan dzikir terhadap semulia-mulia yang disebut, maka karena sebab ini aku senantiasa menjaga ucapanku, (ya Huwa), karena sesungguhnya dzikir ini adalah semulia-mulia kedudukan". serta Nabi bersabda, "Jika hamba-Ku mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam Dzat-Ku, dan jika ia mengingat-Ku di hadapan orang banyak maka Aku mengingatnya di hadapan yang lebih baik dari mereka", dan apabila hal ini telah tetap, maka kami mengatakan, dzikir yang paling utama adalah dzikir kepada Allah dengan pujian yang kosong dari permintaan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang dzikir-Ku menyibukkannya dari meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta", maka seorang hamba adalah faqir lagi membutuhkan, dan orang faqir apabila memanggil Yang Maha Kaya dengan suatu seruan yang sesuai dengan permintaan maka itu merupakan permintaan, maka apabila ia berkata, "ya Karim" maka maknanya adalah berilah kemuliaan, dan apabila ia berkata, "ya Naffa‘" maka maknanya adalah mintalah manfaat, dan apabila ia berkata, "ya Rahman" maka maknanya adalah rahmatilah, maka dzikir-dzikir ini berada dalam makna permintaan, dan telah dijelaskan bahwa dzikir itu lebih agung kemuliaannya apabila kosong dari permintaan, adapun apabila ia berkata, "ya Huwa" maka ia kosong dari makna permintaan, maka ia menjadi dzikir yang paling agung. Dan Al-Ghazaliyy menyebut bahwa “la ilaha illallah” adalah tauhid orang awam sedangkan “la ilaha illa huwa” adalah tauhid orang khusus, sebagaimana firman Allah, "Dan janganlah engkau menyembah selain Allah, tidak ada ilah yang benar selain Dia" [QS. Al-Qashash: 88], kemudian, "Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya" [QS. Al-Qashash: 88], yakni kecuali Dia, sehingga menunjukkan puncak tauhid pada ungkapan tersebut, 


Maka berdasarkan itu tidak mengapa berdzikir dengan lafazh “Allah Allah” maupun “ya Huwa”, dan yang terpenting dalam dzikir adalah hadirnya qalbu bersama Allah Ta‘ala, dan Allah lebih mengetahui.

https://www.aliftaa.jo/fatwa/3888/

082140888638 Buku Asmaul Husna 4 Bahasa Souvenir Flash Card Lipat
082140888638 Buku Asmaul Husna 4 Bahasa Souvenir Flash Card Lipat

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.