Header Ads

Syarat Husnul Khatimah 'Hanya' Dzikir, Bukan Terbatas La Ilaha IllAllah, Jadi Boleh Asmaul Husna | Brilly El-Rasheed | 082140888638

082140888638 Souvenir Islami Murah Asmaul Husna Lipat Harmonika

082140888638 Souvenir Islami Murah Asmaul Husna Lipat Harmonika


Syarat husnul-khatimah adalah dzikir walau dalam qalbu, tidak di lisan. Allah tidak mensyaratkan untuk husnul-khatimah harus hanya kalimat tauhid ‘la ilaha illAllah’ saja. Allah tidak pernah menyatakan bahwa siapa mati dalam selain kalimat nafi-itsbat tersebut berarti kafir. Tidak! Sabda Nabi, “Siapa akhir kalamnya (ketika ajal) adalah la ilaha illAllah masuk Surga,” bukanlah hashr (pembatasan) melainkan hanya contoh dzikir yang menjadi syarat husnul-khatimah diantaranya la ilaha illAllah. Islam pun merupakan agama yang hanifiyyah-samhah jadi mustahil kalau mensyaratkan husnul-khatimah harus berupa dzikir lisan sementara orang yang sedang ihtidhar (menghadapi kematian) mengalami kekacauan panca indera.

Tidak sedikit catatan sejarah merekam bagaimana bintang umat ini yakni para shahabat Nabi, termasuk mataharinya umat ini yakni Nabi Muhammad, mereka mengalami sakarat menjelang wafat alias sakaratul-maut. Sakarat berakar kata yang sama dengan sukr (mabuk) karena sama-sama mengalami kehilangan kesadaran utuh dan kacau balaunya nalar. Sang matahari dan para bintang umat ini mengalami keadaan kematian yang tidak bertabur ucapan tahlil melainkan kalimat-kalimat yang baik ‘saja’ dan mereka tetaplah husnul-khatimah.

‘Aliyy bin Abi Thalib mengisahkan, “Ucapan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Shalat, shalat. Dan berhati-hatilah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian.” [Musnad Ahmad no. 585, Sunan Abu Dawud no. 5156, dan Sunan Ibnu Majah no. 2698] 

Ketika berada di atas pangkuan Aisyah Radhiyallahu anhuma, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pingsan selama beberapa saat, lalu siuman. Saat itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memandang ke atap, lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepala Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersandar pada badan Aisyah Radhiyallahu anhuma. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan Beliau yang mulia seraya terus bertutur,

اللَّهُمَّ الرَّفِيْقَ الأَعْلَى

“Ya Allâh! Teman yang paling mulia.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengucapkan itu sampai ruh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dicabut dan tangan Beliau yang mulia pun lemas. Kalimat itulah yang terakhir kali diucapkan oleh baginda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah Radhiyallahu anhuma yang menyaksikan saat yang paling menyedihkan itu mengatakan, “Ketika ruh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dicabut, saya mencium aroma paling harum yang pernah saya ketahui“.

[Dirangkum dari daurah Syaikh Prof. Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhailiyy di JIC https://almanhaj.or.id/6284-detik-detik-menjelang-wafatnya-rasulullah1.html]

Dari 'Utsman bin 'Affan, dia berkata, "Aku pernah melihat 'Umar bin Al-Khaththab sebelum meninggal dunia. Dia berkata, 'Celaka aku, celaka pula ibuku jika Dia tidak mengampuni dosaku'. Dia mengucapkannya tiga kali. Setelah itu dia menghembuskan napasnya yang terakhir tanpa ada perkataan yang lain." [Az-Zuhd li Ahmad bin Hanbal]

Abdullah bin Ahmad berada di samping ayahnya seraya bersiap memegang kain untuk mengikat kedua rahangnya. Sang Imam tampak berkeringat. Disangka sudah mengembuskan nafas terakhir, ia kemudian kembali tersadar dan berucap, “Tidak, menjauhlah! Tidak, menjauhlah!” Ia mengatakan itu hingga berkali-kali. syaithan yang ada di sebelah kanan tampil dalam wujud ayah dari orang tengah sakaratul maut tadi. Sedangkan syaithan yang di sebelah kiri tampil dalam wujud ibunya. Layaknya seorang ayah kepada anak yang sangat dicintainya, syaithan di sebelah kanan berkata, “Wahai anakku, dari dulu ayah sangat sayang kepadamu, ayah sangat cinta kepadamu. Namun ayah meninggal dalam keadaan memeluk Nasrani. Sebab, Nasrani adalah agama terbaik.” syaithan di sebelah kiri yang tampil dalam wujud ibunya juga berkata serupa, “Wahai anakku, perut ibu dulu sebagai tempatmu, air susu ibu sebagai minumanmu, dan kedua paha ibu sebagai pijakanmu. Namun ibu meninggal dalam keadaan memeluk  Yahudi. Sebab, Yahudi adalah agama terbaik.”  Abdullah bin Ahmad bertanya, “Wahai ayah, apa yang engkau inginkan dari perkataan itu?” Sambil terbata-bata, ia bercerita, “Tadi syaithan berdiri di sampingku sambil menggigit jari-jarinya. Ia berkata, ‘Wahai Ahmad, aku kehilanganmu (tak sanggup menyesatkanmu).’ Aku menjawab, ‘Tidak, menjauhlah! Tidak menjauhlah!’” [Siyar A’lam An-Nubala` 9/341. Riwayat semakna juga disebutkan oleh Al-Ghazaliyy dalam Kasyf ‘Ulum Al-Akhirah]

Ibnu Katsir menuturkan, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah meninggal dunia dalam keadaan mengulang-ulang ayat khusus,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِندَ مَلِيكٍ مُّقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang bertaqwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” [QS. Al-Qamar: 54-55] [Al-Bidayah wa An-Nihayah 14/159]

Imam Ahmad bin Muhammad Al-Qurthubiyy tatkala sedang sakaratul-maut ditalqin, “Ucapkanlah La Ilaha Illallah”, dia mengatakan, “Tidak”. Ketika beliau sudah sadar kami menuturkan kejadian itu kepadanya. Beliau berkomentar, “Syaithan datang kepadaku dari sebelah kanan dan kiriku, salah satunya berkata, ‘Matilah kamu dalam keadaan Yahudi sebab agama Yahudi adalah sebaik-baik agama’ dan yang lain berkata, ‘Matilah kamu dalam keadaan Nashrani sebab agama Nashrani adalah sebaik-baik agama’, maka saya katakan kepadanya, “Tidak, tidak, kalian saja yang mengucapkan itu.” [At-Tadzkirah li Al-Qurthubiyy]

Dengan demikian, siapapun yang wafat dalam keadaan ucapan terakhirnya salah satu Asmaul Husna atau banyak maka dia husnul-khatimah.

082140888638 Souvenir Islami Murah Asmaul Husna Lipat Harmonika
082140888638 Souvenir Islami Murah Asmaul Husna Lipat Harmonika

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.