Header Ads

Asmaul Husna dalam Menurut Mantan Jaringan Islam Liberal | Brilly El-Rasheed | 082140888638

082140888638 Buku Hadits Qudsi Anak Full Animasi


Kita bersyukur banyak kota-kota besar di Indonesia yang berhias ornamen lampion Asmaul Husna. Sangat jarang di Negara Republik ini ada patung tuhan-tuhan kecil seperti Yesus dan Buddha Gautama berada di pusat keramaian publik. K. H. Ulil Abshar Abdalla mantan koordinator Jaringan Islam Liberal masih berkampanye, “Tidak ada persoalan dan sama sekali tak ada pelanggaran HAM, ketika di ruas jalan sebuah kota dipampang plang bertuliskan 99 nama Allah (Asmaul Husna). Begitu juga, jika ada patung Yesus berdiri tegak di ruang publik, hal itu juga bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan.” [https://elsaonline.com/ulil-dan-liberalisme-yang-saleh/]

Dulu Rasulullah ketika berhasil menaklukkan kota Makkah maka beliau sebagai kepala negara sekaligus Rasul menghancurkan seluruh berhala di sekitar Ka’bah yang berjumlah hampir sama dengan jumlah hari dalam satu tahun almanak Masehi. Tidak sedikit arca diberi nama dengan plesetan Asmaul Husna seperti Al-’Uzza plesetan dari Asmaul Husna Al-’Aziz, Al-Lat plesetan dari Al-Ilah, Al-Manat plesetan dari Al-Mannan, Al-Wadd plesetan dari Al-Wadud, Al-Yaghuts plesetan dari Al-Mughits, An-Nasr plesetan dari An-Nashir, dan lain-lain Selanjutnya Nabi Muhammad mengutus banyak delegasi untuk membawa surat dakwah beliau kepada para pemimpin negara sekitar yang masih nonmuslim.

Gus Ulil juga berorasi, “Bila Tuhan itu tan kinaya ngapa (Jawa: tidak dapat digambarkan dengan apapun), bagaimanakah manusia dapat mengetahui-Nya? Tuhan tajalli (menampakkan diri-Nya) melalui asma, sifat, dan perbuatan-Nya. Manusia mengetahui Tuhan bukan melalui dzat-Nya, melainkan melalui ayat-Nya. Dalam konteks inilah, Tuhan yang menyebut diri-Nya kanzan makhfiyyan (perbedaharaan yang tersembunyi) dipahami manusia.” [https://news.detik.com/kolom/d-5179426/wisata-pemikiran-al-ghazali]


082140888638 Buku Hadits Qudsi Anak Full Animasi


Kita mengenal Allah melalui Asmaul Husna yang hanya diterangkan-Nya dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Kita memahami Asmaul Husna ‘hanya’ berdasar bahasa berbekal logika berlapis sanad. Kita tidak pernah tahu hakekat Asmaul Husna kecuali kelak saat bertemu Allah. Otak kita sangat terbatas untuk menghayati konsekuensi logis dari masing-masing Asmaul Husna sebagai predikat Allah.

Ketika ada bahasa-bahasa yang rawan sesat pikir dalam mengesakan Allah, maka boleh kita ‘akrobat nalar’ agar tidak sampai menyamakan Allah dengan makhluk. Asmaul Husna sebagai bahasa juga tidak menutup kemungkinan disalahpahami oleh non-Arab. Beda bahasa, beda akal, beda aksiomatika, beda aksiologi. Takwil (interpretasi) yang bersanad ialah solusi yang ditawarkan para ulama Asy’ariyyah, tidak terkecuali Hanabilah.

Cak Ulil yang mengasuh Ghazalia College ini menegaskan, “Kita diperbolehkan menafsir dan memberikan makna ayat dan hadits yang mengandung tasybih (keserupaan Tuhan dengan makhluk-edt.). Menafsirkan, dari makna dhahir ke makna yang bersifat metaforis dengan dalil-dalil pasti (burhan qathi’). Dengan catatan ini, ada alasan kuat untuk tidak memahami ayat-ayat dan hadits secara lahiriyah.” [https://kuliahalislam.com/gus-ulil-abshar-abdalla-metode-untuk-menafsirkan-metaforis/]


082140888638 Buku Hadits Qudsi Anak Full Animasi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.