Beda Asmaul Husna Al-Mu`min dan Al-Muhaimin | Mulla 'Aliyy Al-Qari | 082140888638
Mulla 'Aliyy Al-Qari menjelaskan,
(Al-Mu`min) yaitu Dzat yang memberi rasa aman makhluk-Nya dengan menyediakan sarana penolak bahaya, atau yang memberi keamanan kepada orang-orang yang berbuat baik dari ketakutan besar pada hari Kiamat, atau yang mengamankan hamba-hamba-Nya dari kezhaliman, bahkan apa yang Dia lakukan kepada mereka adalah antara karunia atau keadilan, maka ia termasuk dari makna keamanan yang kembali kepada nama-nama perbuatan, atau yang membenarkan para nabi-Nya dengan mukjizat sehingga kembali kepada sifat kalam;
Al-Qusyairiyy berkata bahwa kesamaan dalam nama tidak menuntut keserupaan dalam Dzat, sehingga boleh Allah disebut Al-Mu`min tanpa menyerupai makhluk, dan tidak pula menuntut keserupaan dalam sifat karena perbedaan antara iman Allah dan iman makhluk sangat jelas; dan dikatakan bahwa tugas orang yang ma‘rifat dari nama ini adalah membenarkan kebenaran dan berusaha meneguhkannya, menahan diri dari menyakiti dan berbuat zhalim, serta menjadi orang yang membuat manusia aman dari gangguannya, bahkan menjadi tempat bersandar dalam menolak ketakutan dan kerusakan dalam urusan agama dan dunia, dan sebagian ulama berkata bahwa siapa yang mengetahui bahwa Allah Maha Benar dalam janji-Nya dan membenarkan siapa yang Dia kehendaki dari hamba-Nya, maka ia tidak akan bergantung dalam pembenaran kepada selain-Nya, dan penyebutan (Al-Mu`min) setelah (As-Salām) adalah untuk menambah makna pemberian rasa aman di atas keselamatan, karena di dalamnya terdapat makna penerimaan dan perhatian, dan Allah lebih mengetahui.
(Al-Muhaimin) yaitu Yang Maha Mengawasi lagi sangat dalam pengawasan dan penjagaan, dan darinya diambil ungkapan “haimana ath-tha`ir” ketika burung membentangkan sayapnya atas anak-anaknya untuk melindungi mereka, maka ia termasuk dari nama-nama perbuatan; dan dikatakan pula maknanya adalah Yang Maha Menyaksikan, yaitu Yang Maha Mengetahui yang tidak tersembunyi dari-Nya seberat dzarrah pun, sehingga kembali kepada sifat ilmu; dan dikatakan pula yaitu Dzat yang menyaksikan atas setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya, sehingga kembali kepada sifat kalam; dan termasuk darinya firman Allah, “dan sebagai muhaimin atasnya,” yakni sebagai saksi; dan dikatakan pula yaitu Dzat yang menegakkan urusan makhluk dari amal-amal mereka, rizqi mereka, ajal mereka, dan akhlaq mereka, maka kembali kepada sifat qudrah; dan dikatakan pula asal katanya adalah mu`aimin, lalu huruf hamzah diganti menjadi ha, sehingga menjadi bentuk mufa’il dari kata amanah dengan makna al-amin yang benar janji-Nya, maka kembali kepada sifat kalam; dan dikatakan pula bahwa ia termasuk nama-nama-Nya dalam kitab-kitab terdahulu.
Al-Ghazaliyy berkata bahwa Al-Muhaimin adalah nama bagi Dzat yang menghimpun tiga sifat: ilmu yang meliputi sesuatu, qudrah yang umum atas pemeliharaan maslahatnya, dan penegakan atasnya; dan bagian (pelajaran) bagi orang yang ma‘rifat dari nama ini adalah agar ia mengawasi qalbunya, meluruskan keadaannya, serta menjaga kekuatan dan anggota tubuhnya dari tersibukkan oleh hal-hal yang memalingkan qalbunya dari hadirat kesucian dan menghalanginya dari Allah; dan sungguh indah perkataan orang yang berkata: barang siapa mengetahui bahwa Dia adalah Al-Muhaimin, maka ia akan tunduk di bawah keagungan-Nya dalam setiap keadaannya.





Post a Comment